PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

12.22.2016

YANG TAK HENDAK BERHENTI MEMELUK





sebab warna-warna menghanyutkanku, ibu
kepada muasal yang membuat pintu
kamarku menderit-derit, memintaku,
pulanglah ke suatu masa,
ber-
damai
-lah;

warna-warna bermunculan dari
lanskap mana saja, dari yang tumbuh
dari yang lenyap, yang akan, yang sedang;
kadang kita lupa pada tanda-tanda
yang membikin cahaya itu bernama

lantaran warna-warna yang dilempar
anak-anak kampung selekas bermain
di pinggir kali berair cokelat telah mengubah
pandangku bahwa bayangan-bayangan sore
adalah petunjuk, bahwasanya musim seperti
kaca-kaca yang pecah, membenamkan
seluruh pantulan kelu
yang dibekap waktu

di pucuk bunga-bunga plastik 
yang entah sebagian dari aku pun
belum mengenal sungguh ini warna
ini aroma, bentur kenyataan atau kepalsuan;
ibu mengajarkanku bertutur kepadanya:
kemarilah,
bertandanglah dari ragu
telah kukecup dagumu
telah kutahir mataku
telah kuiris lidahku
yang kaku
menyebut-nyebut
jalan masuk kita teramat
melankoli


2016


Sumber gambar: pinterest.com

12.17.2016

KOTA KEPADA BAHASA



kata-kata menjelma apa saja
yang kelihatan maupun tak,
ia ingin sesekali hadir bersama
angin. menjadi hujan, menjadi
terang, menjadi mendung,
menjadi terik, menjadi warna-
warna langit.

kata-kata menjadi kamus di kota,
orang-orang mengubah dan
menjadikan; yang diam-diam
punah dan bisu. kata-kata
tunduk pada penguasa:
kita yang ingin hidup-semati
bermain sebagai badut ribut
sembari bersungut-sungut

kata-kata merangkum perjumpaan
demi perjumpaan di antara
yang tumbuh, yang layu,
dan yang tumbang; ia menjaga
supaya segalanya tak berlebih
antara lamur ingin dan angan

huruf-huruf luruh mencipta kata,
kata-kata runtuh mengikis ia;
sebab ia tak gampang rubuh,
maka ia dirikan monumen
bahasa di setiap kepulangan
jalan-jalan yang menghijau
menuju masa depannya


2016

11.03.2016

ESKALASI PAGI



1 ~
dua kenari dalam sangkar
mengibas-kibaskan bulu-bulunya,
yang kuning-oranye dan rontok;
sebuah sangkar kosong
menunggu bunga-bunga liar
melingkar pada jeruji, yang
catnya terkelupas dan hampir
separuh karat

dua musim dalam sangkar
menyatakan tak ada yang bisa
bernapas sendirian, tuan


2 ~
lima anak ayam dalam kurungan
berlindung dekap cahaya bohlam
sebagai induk yang rupa hanyalah nyala,
hanyalah hangat, sebab berkeciap 
menandakan aku tak ingin terlampau siap
dewasa


lima tempuh telah berjalin
usia, bagaimana mungkin bisa
dilipat oleh kecemasan?

3 ~

dua perumpamaan dan kekuatan aforisma
menjaga matanya yang dipenuhi jahitan
gambar antara ulangan jarak dan waktu



2016
(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/306737424596511458/)

11.01.2016

MENAFSIR RUANG



1 ~
pada sekelebat detik perjumpaan
tak pernah ia punya cukup sajak,
sejak orang-orang yang ia kasihi
malahan menyesak diri
menanami bilik diri mereka
dengan kekuatan jari-jari kanak
yang ujungnya mudah tersayat;
sebuah lanskap ditumpahkan
oleh tabah ombak pesisir selatan
pasir-pasir memecah-daur busa
kehendak laju sekeras luka tumbuh,
bergerak ia bertandang menguji
seperti kapal-kapal ikan bertolak
menjauh dari jangkauan dada-dermaga.

2 ~
pada sekelebat detik perpisahan
tak pernah ia punya cukup sajak,
serampungnya menerka mimpi
yang bicara soal waktu hanyalah
pendar-pendar masa yang ia tanam
dalam kobar ingatan sebagai penanda
hasrat adalah akar, hasrat adalah dasar;
batas-batas sejujurnya telah menitipkan
ia kepada perkara bagaimana
memberi tempat untuk nama
dan teka-teki angkasa, elemen
di luar rahasia tubuhnya


2016

(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/169940585915233935/)

SEMENJANA KITA



dahan patah jumpa bertulah
mata yang kabutnya menekuri
tebing-tebing di mana ratapan
diletakkan sebagai dasar-dasar
pengujian diri, berkali-kali;
potret dahan yang kita pun
tak sampai memaknainya
atas berjibun peristiwa
yang diucapkan semesta,
tinggal tanggallah segala
kehilangan cuma-cuma
kedapatan lupa-lupa

pohon yang kita tanam
yang kambiumnya terbuat dari
benda-benda kesayangan
makhluk-makhluk kesayangan
nama-nama kesayangan
beserta wujud-wujud perpisahan;
hibuklah kita dalam pengetahuan
yang belum sempat kita miliki

merayakan batas-batas kita
menerjemah sari-sari kegelisahan
batang-batang ranggas meremaja
tanpa kemuning daun sebelum jauh
gugur,
mengukur ketinggian
mengikis yang padas


2016

(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/305330049720312329/)

10.13.2016

MENYELAMATI BOB


Penganugerahan nobel sastra yang digulirkan oleh Nobel Prize setiap tahunnya muncul sudah. Nama Bob Dylan menjadi pilihan para juri nobel  untuk sastra tahun 2016 (sumber: https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2016/press.html). Penghargaan nobel ini sendiri dalam sejarahnya digagas pertama kali oleh Alfred Nobel (Swedia) ketika ia membuat surat wasiat yang didedikasikan untuk orang-orang yang berjasa benar dalam dunia fisika, kimia, kedokteran, sastra dan perdamaian. Baru pada tahun 1901 penghargaan ini bergulir pertama kalinya. Tentu, nama Bob Dylan sudah menjadi nama yang tak asing lagi, di dunia musik terutama. Usianya yang melewati angka 75 tahun itu tak menjadikan nasibnya semakin terjungkal, malahan sebaliknya. Saya tidak akan mengulas banyak tentang Bob, saya akan sedikit merayakan dan menyelamati Bob (meski keputusan panitia nobel terkesan kontroversial itu) dengan menerjemahkan salah satu lirik lagunya yang berjudul "Not Dark Yet". Lirik ini pernah menjadi soundtrack film "Wonder Boys" (2000). Dari hasil penelusuran yang saya lakukan, lirik ini ditulis pada tahun 1997 (sumber: http://bobdylan.com/songs/not-dark-yet).



Bayangan jatuh dan sepanjang hari aku telah di sini
Hawa yang kian gerah untuk istirah, waktu terus-menerus berlari
Seolah-olah jiwaku telah menjelma jadi baja
Aku masih punya bekas luka yang matahari pun tidak dapat memulihkan
Bahkan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungku
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

Baiklah, rasa kemanusiaanku sepertinya telah sia-sia
Di balik setiap hal yang indah di sana tersirat berbagai luka
Perempuan itu menulis surat kepadaku dan dia menulis dengan kesungguhan
Ia menulis tentang apa yang hadir dalam pikirannya
Aku hanya tidak habis pikir kenapa aku bahkan harus peduli
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

Baiklah, aku pernah berkunjung ke London dan aku pernah ke gay Paree
Aku telah menelusuri sungai dan mendapati lautan
Aku telah turun di sisi bawah dunia yang penuh kemunafikan
Di mata siapa pun aku tidak mencari apa-apa
Kadang-kadang bebanku tampak lebih berat dari apa yang bisa kutahan
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

aku lahir di sini dan aku akan mati di sini, menentang kehendakku sendiri
Aku tahu sepertinya aku bergerak, namun aku masih menahan diri
Setiap saraf di tubuhku betapa hampa dan mati rasa
Aku bahkan tidak ingat apakah aku datang ke sini untuk menjauh
Bahkan supaya tidak mendengar rapalan seorang pendoa
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa


Selamat Bob... Selamat telah membuat kesegaran ekspresi puitik dalam lirik-lirik lagumu... Selamat datang era musisi cum sastrawan...


Yogyakarta, 2016