PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

4.17.2016

MANGUNAN (KEMBALI) MERAYAKAN PENDIDIKAN


Judul: Secangkir Teh Hangat dari DED
Editor: G. Kriswanta, Pr
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2016
Tebal: 180 halaman
ISBN : 978-979-21-4485-7

“Alas dari pada pembangunan masjarakat jang nasional adalah pendidikan jang nasional”
, kata Muhammad Yamin (Mawardi, 2014). Alas yang dimaksud dalam penjelasan tersebut tentunya adalah pendidikan. 17 tahun sudah Y.B. Mangunwijaya, seorang rohaniwan, budayawan, dan pendidik telah meninggalkan dunia. Kini yang tersisa adalah warisan-warisan beliau yang berharga. Salah satu warisan berharga dari beliau adalah sebuah sekolah eksperimental yang berlokasi di Kota Yogyakarta.

"Secangkir Teh Hangat dari DED" merupakan sebuah judul yang menjadi personifikasi dari senarai peristiwa beserta refleksi yang ada di dalam buku ini. DED adalah singkatan dari Dinamika Edukasi Dasar, yang mana sekaligus sebuah nama lembaga dari salah satu yayasan pendidikan. Dieditori oleh G. Kriswanta, Pr, buku ini berisikan 26 tulisan yang menuturkan kisah dan refleksi masing-masing penulis atas pengalaman yang dijumpai.

Kedua puluh enam penulis yang ikut andil dalam buku ini berprofesi sebagai guru maupun karyawan di TKE dan SDKE Mangunan. Susunan buku ini dibagi menjadi empat bagian: “Spirit Romo Y.B. Mangunwijaya”, “Memberikan hati dalam Karya”, “Berbagi Spirit” dan sebuah epilog berjudul “Meletakkan Hati”. Berbagai kisah dan refleksi menarik menjadi semacam oleh-oleh yang bisa dibawa pembaca. Sebagian kisah menerangkan bagaimana seorang guru harus mampu menghadapi uniknya karakter para murid. Selain itu, seorang guru harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam suasana, termasuk dipindahkan ke jenjang yang lebih dasar (dari SD ke TK) atau melaksanakan tugas ke sekolah terpencil di luar Jawa untuk menerapkan kurikulum baru.


Di tengah pelbagai berita yang mendera di dunia pendidikan, buku ini pantas diseduh oleh siapapun, terutama para aktivis sekolah. Kisah-kisah berdasarkan realita yang diangkat dalam buku ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca. Tentunya untuk tetap berproses dalam mengembangkan pendidikan sekolah, terutama nilai-nilai luhur dalam jenjang pendidikan itu sendiri.

Seorang guru bertutur demikian terkait refleksinya selama menjadi pendidik: “Sebagai guru TK, peran kita tak hanya sebagai guru. Kita pun harus dapat berperan sebagai ibu, kakak, teman, dan sahabat bagi anak. Kesabaran dan ketulusan adalah kunci utama agar bisa dekat dengan anak. Anak membutuhkan perhatian dari seorang guru saat mereka ingin berbagi cerita. Dalam hal ini guru berperan sebagai seorang teman/sahabat bagi anak. Saat anak-anak merasa sedih karena ada masalah dengan teman (seperti bertengkar, diejek teman, atau terjadi kesalahpahaman), perlukan guru adalah obat bagi mereka. Guru bagaikan ibu bagi anak-anak selama berada di sekolah." (hal. 126)


Tidak hanya itu, Romo Mangun (sebagaimana yang dikutip oleh penulis pada halaman 85-86) mengatakan, "Semua pendidikan yang baik selalu menganut kepada kearifan nenek moyang kita, yakni prinsip ajrih-asih...Apabila kedua unsur tersebut dipadukan dalam ramuan yang pas, maka pendidikan sejati akan terlaksana.” Suatu refleksi yang rasa-rasanya penting untuk direnung-rayakan oleh semua pendidik di zaman dengan variabel masalah bangsa yang kian menumpuk ini. 17 tahun setelah Mangunwijaya mangkat, buku ini tetap menjadi warisan lain. Alih-alih, demi tetap mengobarkan semangat pendidikan yang lebih baik, mencerdaskan kehidupan bangsa.



Diresensi oleh Ganjar Sudibyo
Yogyakarta, 2016

4.14.2016

HUJAN MENAKSIR BULAN


aku mencarimu di sela-sela percakapan
para mahasiswa pemesan mie instan di burjo,
musik-musik sendu di kedai tanpa wi-fi,
film-film dengan kesepian sebagai pahlawan
mengibarkan bendera: kenangan atau mati!

headline koran lokal memamah wajah bungah
terdakwa koruptor. bajuku kotor. kopi tumpah
aku tetap mencarimu. sepagi ini matahari
sedang ingin dicintai hujan dan jam kerja;

bulan yang belum tenggelam menjadi viral:
demonstrasi pasangan muda-mudi
melempar bunga-bunga plastik
ke depan pagar balai konservasi babi ngepet

mamah muda dengan gaun masa depan
mencium pencarianku
kamu: bulan berdandan tampan
dalam biasan luka yang genang

sebagai pendaku
petapa kekasih langit
tinggi
tinggi sekali
aku mencarimu
tanpa merasa hilang


2016

BULAN MENAKSIR HUJAN


BULAN MENAKSIR HUJAN

aku tak menemukanmu sama sekali
di cangkir keempat kopi hitam yang menjauhkan
dari diabetes mellitus; aku tak menemukanmu
pada pelangi yang muncul sehabis sembilan ibu
mengecor kaki-kakinya di depan istana mimpi

jalanan yang aduh dengan anak-anak bersabuk
dikasihi mesin-mesin beroda, jalanan yang ludah
oleh kaum aku. sejak kapan para aku tekun
mencarimu?

malam dengan ledakan trafo menjauhkan
dari jarak-jarak bunuh diri dalam kepala
seorang manajer pemasaran toko buku;
hujan lewat di kegelapan, mencuri waktu
yang dibungkus cahaya teplok di setiap angkringan,
tempias membeku dadu mengirim nasib
ke udara

aku tetap tak menemukanmu
sampai jauh indeks perasaan yang dilepas
oleh riuh busur kekuasaan:
cintamu, bulan
meringis
klasik sekali;
basah mata--kampanye para pendaku


2016

4.09.2016

BAGAIMANAPUN WAKTU (NISCAYA) TETAP BEREDAR


Judul: Waktu
Penulis: Artvelo Sugiarto
Penerbit: Yabawande
Cetakan: I, 2016
Tebal: ix + 91 halaman
ISBN : 978-602-73063-5-6


Isu yang santer tentang adanya dugaan plagiarisme di salah satu puisi dalam buku ini sehingga berdampak pada ancaman penarikan, tentu menjadikan ada yang berbeda terhadap stereotip pembaca maupun calon pembaca buku ini. Terlepas dari isu plagiarisme sastra yang relatif ramai dalam viral di jejaring sosial, peredaran buku “Waktu” malah tetap menyala. Bahkan buku yang konon dicetak terbatas ini ludes di pasar yang dituju oleh sang penulis dan penerbit. 

Buku ini berisikan 78 puisi yang diberi kata pengantar oleh Heru Mugiarso. Buku pertama Artvelo ini memiliki desan ilustrasi kover yang cenderung menarik. Warna kover yang didominasi oleh hitam, seolah ingin menjadikan buku kumpulan puisi tersebut menjadi sesuatu yang menyaratkan teka-teki misteri. Selain itu, lukisan jam dinding di tengah yang proporsi ukurannya agak janggal pun mempunyai daya tarik, meski sayang, jenis huruf yang dipakai kurang memunyai chemistry satu sama lain dalam ruang itu. Baiklah, agaknya memang rerata penerbitan indie yang berada di wilayah Semarang masih perlu banyak belajar mengenai kemasan buku yang laik.

Buku kumpulan puisi pertama yang ditulis oleh Artvelo ini tentu memberikan iklim tersendiri dalam jagad sastra, terutama di kota tempat penulis tinggal. Puisi yang dimunculkan dalam buku, berkisar antara tahun 2012-2015. Dalam catatan biografi penulis yang relatif singkat, ditorehkan bahwa penulis memulai aktivitas menulisnya sejak tahun 1978. Jangka waktu yang rasanya cukup panjang untuk sampai membukukan puisi-puisinya yang terpilih. Namun, sepertinya agak disayangkan bilamana dalam buku ini tidak ditemukan puisi-puisi dengan tahun pembuatan 1978-2011, dengan alasan apabila ada tujuan dokumentasi-publikasi terhadap karya terdahulu.

Waktu memang menjadi materi yang sering diolah oleh para penulis. Dalam penulisan puisi, waktu menjadi semacam minimarket yang merumput sepanjang pinggir jalanan di Semarang. Semacam angkringan di Yogyakarta. Dalam persepsi penulis buku ini, waktu menjadi judul sekaligus puisi pembuka pada halaman 2. Begini penulis membahasakan waktu: “...Karena waktu begitu sempit menuju isya/Waktu tak mungkin dibalik/Meski begitu panjang menuju subuh....Dimana kaki terus melangkah/Mendekat pada garis waaktu” (hal.2). Penulis mengidentifikasikan waktu sebagai waktu yang sebenarnya. Sesuatu yang tidak bisa diulang, sesuatu yang bergerak lekas dan mendesak. Penulis tidak bermain banyak konotasi atau kegelapan dalam berbahasa. Berbeda dengan waktu yang hendak disampaikan pada halaman 53: "...uratnya tampak keras dan membatu/disimpannya dalam saku waktu..." (Dalam Pergulatan Batin). Di puisi tersebut, tampaknya ada upaya penulis untuk mengombang-ambingkan makna waktu. Tapi, tunggu sebentar. Pada halaman 35:"...namun selalu setia menunggu hingga waktumu..” (Kepada Diri), pada halaman 21: “...aku kian terkepung di lengkung waktu...” (Empat Puluh Lima Tahun Yang Lalu), pada halaman 40: “...ditusuki belati direbus dalam tungku waktu...” (Sajak Pagi buat Kekasih). Dari kelima contoh tersebut mana yang terkesan puitis? (Biar pembaca yang memilih).

Adapun proses penerbitan buku ini terkesan terburu-buru. Ini bisa menjadi suatu perihal yang vital dalam dunia perbukuan puisi. Puisi yang erat dengan diksi-diksi dan menjaga sedikit mungkin dari kesalahan tipo (baik ejaan maupun kaidah bahasa), pun logika-logika sederhana, dalam buku ini kerap kali dijumpai hal-hal yang sebaliknya. Terlepas dari licentia poetica yang kerap diagung-agungkan oleh penulis yang belum benar menguasai esensi dan teknik-teknik kepenulisan, tentu ini bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang hendak menerbitkan buku kumpulan puisi. Ya, siapa saja.

Namun waktu tetap beredar sebagaimana pagi-siang-malam-pagi lagi-siang lagi-malam lagi-dan seterusnya. Waktu sekaligus yang akan memperkarakan: buku (penulis) ini bisa bertahan lama atau tidak. Sebuah kensicayaan. Semoga penulis (k)ini tetap ‘bertumbuh’ secara jasmani dan rohani selayaknya “kail dan jala cukup menghidupimu/tongkat kayu dan batu jadi tanaman/di(-)ambil dari lagunya koes plus” (hal.66).


Diresensi oleh Ganjar Sudibyo
Yogyakarta, 2016

3.23.2016

MEA CULPA, MEA MAXIMA CULPA


jangan hanya engkau basuh kaki kami
tapi juga segala ingatan kami yang membikin
jiwa kami terjerumus dalam ratap picisan;
jangan hanya engkau basuh kaki kami
kepala mereka yang beku
suara mereka yang teraku-aku
beserta dada penuh aku,
basahilah mereka
basahilah kami
sebelum engkau benar
ditinggalkan bapa
disepikan manusia
disapih kehilangan

mea culpa, mea culpa
o dolorosa yang terpancang
tragedi yang gugur
seperti bulu mata
dan biji rindu
yang terlanjur


2016

3.19.2016

SEORANG PENGANGGIT GAYA BAHASA


sepanjang sore, ia rayakan lema-lema di kepalanya; 
ruang kepala yang berbentuk meja kerja penuh kabel dan buku-buku
dengan halaman terbalik; cermin di seberangnya memantulkan
sesuatu yang lain. sesuatu yang hendak dijauhkan
dari usia-almanak

sepanjang sore, kata-kata menebar dari sisi yang lain,
kata-kata yang berangkat dari album-album kumpulan puisi
milik kawan-kawannya yang gagal dibaca utuh.

sementara ia,
ia hibuk memutuskan: baiklah tinggal di masa lalu
atau di masa depan?
sebab dengan lengan-lengannya yang ditumbuhkan
oleh sederet perasaan tumbang
kedua masa itu dapat diimbuhkan atau menjadi awalan,
menjadi kata keterangan atau sebentuk kata kerja
menjadi subjek-predikat-objek. menjadi majas

sekarang baginya adalah waktu yang baik
sore yang laik sebagai warkop 24 jam
menunggu ketetapan
memperkarakan alam raya bahasa
asalkan tetap dengan mata terbuka


2016

3.09.2016

DISTIKON PENGHUJAN



seperti gerak embun jatuh menyerahkan liris pandangmu
ada perasaan yang belum bernama tergelincir ke tiris mataku

cuaca dicipratkan waktu, seperti kamu dijerat pendahulu
aku titipkan pipi rindu pada penghujan dan jalan-jalan berhantu

sejak perpisahan menyebutmu dengan nama kota masa lalu
perjalanan ke depan adalah soal menyingkap rahasia kelu 

hujan sebentar tiada bersama sepasang malaikat pencabut nyawa
satu berasal dari elegi adam, satu berasal dari ode hawa

suatu pagi bersama bibir mega yang dibayangi biru
aku kembalikan yang lalu pada yang baru


2016
*sumber foto: id.pinterest.com

2.25.2016

IL POVERELO


lapar sebab setiap jumat yang agung, ia memilih
bersemayam pada tau dengan kilat coklat; seperti
jubah-jubah berkerudung dengan ikat pinggang
sumbu kompor, berjalan telanjang kaki percaya
bahwasanya tanah mengalirkan akar-akar darah,
dan raga dengan kaul jiwa-jiwa selibat.

maka murung mukanya diikat dengan ofisi
seribu tahun agar secercah langit tiga hari sehabis
goncangan di listostrotos, tabir kuil yang terbelah
menjelma pemulih kepedihan bagi semesta
yang dikhianati makhluk-makhluknya sendiri.

pada dahaga yang membuat jerih payah ada,
binatang dan tetumbuhan tak pernah tak jujur
kepada yang bernama tubuh. lalu ia mengucap
mereka sebagai saudara; supaya sukacita naik
ke haribaan juru-bahasa yang sama


2016

2.19.2016

KUCING DAN TIKUS*


 



Pada ujung potongan-daging domba, di bawah terik matahari
Seekor tikus mengambil posisi, menatap kesempatan
Ia lalu mulai takut untuk mengambil.
                                        Zaman dan sebuah dunia yang
Terlampau tua untuk mengubah, hamparan Five Mile--
Ladang-ladang, desa-desa, peternakan--mengumandangkan berat perasaan
Atas ketidaksadaran pada hidup.
                                         Baik yang berkaki

Dua maupun empat, o betapa picik para pendoa!
Baik di mata Tuhan maupun di mata seekor kucing.



*Diterjemahkan dari "Lupercal" (karya Ted Hughes) oleh Ganjar Sudibyo, 2016.

2.14.2016

OBITUARI DARING



kepada....

seperti fesbuk menyatakan teman pada
yang bernama kenangan, notifikasi bilang
ia telah menjengukmu dari mode-mode
tak tampak, menawarkan identitas diri
pertemanan hingga kerumitan.

lalu lintas bak kota tak pernah tidur, 
padat melalulalangkan kabar
sebab saban hari adalah pengingat
ini kawan berulang tahun; tapi di beranda
ia mulai alpa pada yang bertanya 
dengan kaca yang selalu sama
apa yang kamu pikirkan?

terbaca pesanmu penuh ngungun,
bagaimana cara selfie paling catchy
bagaimana membagikan perasaan
kepada publik bahwa pikiran-pikiran kini 
berhastag hanya untuk kamu
 
ia yang sempat memilih musim berkicau
pada 140 kata jauh sebelum kamu
menyatakan bahwasanya cinta itu 
diciptakan oleh foto profil
dan unggahan foto album
yang lupa kamu kunci


2016


2.12.2016

PERCAKAPAN LAWRENCE JOSEPH DENGAN YEHUDA AMICHAI [1]*


(Perlu diketahui bahwa wawancara ini saya penggal secara acak, sesuai mood penerjemah)




Terlepas sejauh ini--ketika berusia 18 tahun--pernahkah Anda menulis, lebih tepatnya berpikir tentang menulis puisi?

Dalam benak saya, tidak pernah terlintas untuk menulis puisi, setidaknya tidak dalam arti secara umum. Saya menulis beberapa di buku harian, yang kemudian hilang, dan saya hanya banyak membaca. Saya mulai menulis puisi demi gadis yang saya cintai. Ya, hanya itu dan ini bersifat pribadi.

Kapan Anda mulai serius dalam menulis puisi?

Saya menjadi tentara tetap hingga akhir tahun 1949. Saya kemudian kembali ke Yerusalem dan mulai mengajar lagi. Saya juga mengambil beberapa kursus di Universitas Hebrew, studi tentang Alkitab dan sastra. Lalu, beberapa waktu kemudian, saya mulai serius dalam menulis puisi. Hingga waktu itu saya tidak pernah berpikir bahwa menulis merupakan suatu jenis pekerjaan, sebab saya merasa tidak yakin akan apa yang sedang saya lakukan. Saya seorang yang pernah berada di kemiliteran. Saya meyakini bahwa secara khusus menulis merupakan cara untuk menjaga beberapa pemikiran pribadi. Saya tidak pernah menulis selama di medan tempur, namun kadang-kadang ketika dalam pertempuran saya menulis apa yang bisa dijadikan wasiat-wasiat kecil, warisan-warisan kecil, pesan-pesan terakhir, objek atas perasaan yang bisa saya jaga dan tetap saya bawa. Apa yang saya tulis saat itu bukan untuk orang lain. Saya juga bertanya-tanya mengapa sepanjang penulis lain mampu mewakili apa yang saya pikirkan dan rasakan, saya mesti repot-repot untuk mencobanya. Tapi di akhir tahun empat puluhan muncullah titik di mana saya mulai berpikir, mengapa saya tidak melakukan ini sendiri? Tulisan yang saya baca tidak mewakili kebutuhan saya, apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan. Saat itu saya baru berusia dua puluh lima tahun. Saya mulai menulis puisi pada awal tahun lima puluhan. Saya sedang kuliah di Universitas Hebrew. Oleh karena perang, seluruh generasi saya mulai studi di universitas, ini terjadi ketika kami berada di pertengahan abad dua puluhan. Saya memilih kursus-kursus di sana pada saat saya sedang mengajar murid-murid di sekolah.

Apakah Anda menjalin hubungan dengan penulis lain?

Pada tahun 1951, saya berumur dua puluh tujuh tahun, saya menunjukkan puisi-puisi milik saya kepada salah satu guru saya dalam bersastra, Profesor Halkin. Kemudian beliau mengirim salah satu dari puisi saya itu untuk salah satu majalah, lalu dimuat. Suatu ketika ada sayembara yang disponsori oleh surat kabar bulanan mahasiswa yang diterbitkan sangat terbatas. Saya mengirim satu puisi untuk sayembara itu dan memenangkannya sebagai juara pertama. Saya ikut ambil bagian dalam sekomunitas penulis muda, namun sebagian besar kawan-kawan komunitas tinggal di Tel Aviv. Yerusalem, yang kemudian seperti sekarang, adalah tempat yang cukup banyak terisolasi dari setiap semangat intelektual. Panggung sastra berada di Tel Aviv dan di sana merupakan tempat bagi penerbitan, kafe, bioskop, komunitas penulis dan sebangsanya. Sebagian orang di Tel Aviv mulai menerbitkan puisi-puisi, lebih tepatnya secara berkelompok, empat hingga lima. Salah satu dari mereka, Benjamin Harshav, sekarang menjadi profesor di Yale. David Avidan, Nathan Zach, dan menyusul Dahlia Ravikovitch juga di dalam kelompok itu. Saya lebih tua daripada yang lain karena penyair-penyair lain yang berusia seperti saya telah serius menulis lebih lama daripada saya. Para penyair lain telah serius menulis pada akhir remaja, awal dua puluhan. Tidak ada penerbit yang akan menerbitkan kami, jadi kami menerbitkan majalah kecil sendiri dan mempublikasikan sendiri. Buku pertama saya pada kenyataannya, yang terbit pada tahun 1955, diterbitkan oleh majalah ini, yang berarti bahwa itu diterbitkan dengan uang saya sendiri. Tempat-tempat penerbitan hanya menerbitkan karya-karya orang tua yang namanya sudah besar dalam sastra Ibrani modern seperti misalnya Bialik dan Tchernikhovsky serta penyair yang sangat populer seperti Alterman, Shlonsky, dan Greenberg. Dari semuanya itu, saya akan mengatakan bahwa saya menulis di bawah pengaruh puisi Rusia, Jerman, dan Perancis.

Apakah Anda memiliki banyak kawan penulis?

Saya tinggal di Yerusalem, bila dibandingkan dengan Tel Aviv sangat tidak artistik sekali. Tel Aviv adalah sebuah kota yang sangat memukau, sangat hidup, dan sebagian besar aktivitas dalam sastra, teater, jurnalisme, penerbitan, lukisan, fotografi, bioskop ada di sana. Sebaliknya, Yerusalem adalah lingkungan tertutup, sangat sedikit aktivitas kesenian. Itulah kenapa saya suka tinggal di sana. Saya merasa banyak menghidupi diri saya sendiri di sana, seperti orang-orang pada umumnya, saya tidak ikut nongkrong di saban kafe sastra karena sesungguhnya tidak ada sastra di dalamnya. Saya pikir itu wajar bagi para penyair untuk bergaul, tapi saya juga berpikir setelah waktu tertentu itu sangat sulit bagi penyair untuk menjaga sebuah kelanggengan dalam persahabatan. Misalnya, saya selalu merasa bahwa jika dua penyair menikah, maka pernikahan itu menjadi hampir mustahil. Secara pribadi saya tidak berpikir bahwa seorang penyair menjalin persahabatan nyata dengan penyair yang menulis dalam bahasa mereka atau di wilayah mereka. Saya rasa tidak demikian. Saya bertumbuh dengan gagasan ini --saya berpikir bahwa hal tersebut diasuh oleh hubungan spritual-romantisis antara Keats dan Shelley, Wordsworth dan Coleridge-- yang mana bisa dikatakan bahwa penyair adalah teman terdekat. Bagi saya, kendati persahabatan dengan penyair dirasa sulit karena seorang penyair memiliki ego dan kecemburuan yang besar. Saya tidak berpikir bahwa saya memiliki satu tulisan teman dalam bahasa Ibrani yang merupakan seorang penyair yang saya perhitungkan di antara kawan-kawan dekat, kawan-kawan terbaik saya. Saya berpikir bahwa para penulis, terutama penulis dalam bahasa yang sama, yang sebenarnya lebih dari sekedar kawan, seperti ahli bedah di kalangan ahli bedah. hubungan profesional semacam ini yang terbaik, meski seseorang bisa berpotensi sebagai pemantik suatu perseteruan. Demikian jalan terbaik adalah menghindari ini, menjauh dari hal tersebut. Saya dekat dengan kawan yang penulis seperti Ted Hughes. Ia juga memiliki sikap emosional pada diri macam mereka. Hughes merasa tidak pernah membutuhkan kesusastraan London, panggung artistik dan saya yakin ada banyak orang yang tidak sepertinya, ia keluar dari perkara kecemburuan atau alasan-alasan lain. Saya memiliki kawan-kawan baik lain yang menulis dengan bahasa berbeda di mana saya bisa menghabiskan waktu yang berkualitas dengan mereka. Christoph Meckel dari Jerman, Stanley Moss dan Philip Schultz sebagai contoh, misalnya. kawan-kawan dekat saya di Israel adalah sebagian besar orang yang terlibat dengan keilmuan, seorang ahli geologi dan ahli biologi, ya barangkali karena saya sangat mengagumi sekaligus cinta akan ilmu-ilmu alam.

Apakah Anda membaca banyak puisi?

Bacaan saya sebagian besar adalah puisi, banyak buku puisi, dan sampai sekarang lalu setelah itu bacaan novel atau buku cerita. Ketika saya muda, saya terbiasa membaca banyak buku-buku fiksi. Saya juga membaca koran-koran dan majalah. Beberapa koran di Israel cukup menarik, dengan rubrik-rubrik ulasan budaya dan politik yang bermutu.


*Diterjemahkan dari "Yehuda Amichai, The Art of Poetry No. 44, Interviewed by Lawrence Joseph" oleh Ganjar Sudibyo, 2016
**Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/508625351637385233/