PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

6.05.2016

TIPS PENGAYAAN DIRI: SUDAHKAH KITA BEREFLEKSI HARI INI?





Judul: Heaven on Earth
Penulis: Mona Sugianto
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2015
Tebal: 224 halaman
ISBN : 978-979-21-4416-1

Istilah “refleksi” kini tentu sudah menjadi sesuatu yang familiar di masyarakat. Sejak berabad-abad yang lampau, Socrates pernah menyatakan bahwa hidup tanpa refleksi adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Demikianlah refleksi menjadi sesuatu yang penting untuk perkembangan diri seseorang dalam mejalani kehidupan.

Hannah Arendt menggunakan istilah vita activa dan vita contemplativa untuk menganalisis kondisi kehidupan kemanusiaan modern (dalam bukunya “The Human Condition”). Vita contemplativa merupakan aktivitas mental yang meliputi berpikir, berkehendak, dan mempertimbangkan. Vita activa meliputi kerja, karya, dan tindakan. Arendt mengungkapkan bahwa puncak manusia bukan pada ranah pemikiran, melainkan pada kehidupan yang aktif. Berdasarkan pada hal tersebut, kedudukan vita activa berdampingan dengan vita contemplativa.

Tulisan-tulisan Mona Sugianto membawa pembaca pada titik-titik refleksi. Mona menyodorkan pelbagai pertanyaan yang cukup mengentak kepada mata pembaca dari bab ke bab. Lantaran pertanyaan-pertanyaan reflektif ini menuai ketegangan dalam membaca adalah proses meresapi teks terhadap dunia nyata pembaca. Ketegangan yang mengarah pada “upaya perbaikan diri” tentu muncul bilamana pembaca benar-benar mau masuk ke dalam ruang jawab atas pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut.

Mona memulai dengan suguhan pertanyaan demikian: “untuk apa kita hidup dengan semua kenyerian hidup sebagai manusia?” (hal.23), “kapan terakhir kali Anda pernah begitu terhimpit beban berat?” (hal.58), “apa rencana Anda untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan beban dan penderitaan-penderitaan?” (hal.62). Hingga kemudian, mengarah pada pokok-pokok berikut: “jadi, apa yang paling penting dalam hidup?” (hal.101), “apa tujuan orang ingin sukses, kaya, dan enak, kalau toh juga menghambat kita untuk ‘selamat’?” (hal.110), “mau dan mampukah kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri?” (hal.127).

Tidak berhenti sampai di situ. Mona menekankan kepada pembaca untuk senantiasa menjunjung kedalaman dalam berefleksi. Sederet tanda tanya kepada pembaca berbunyi begini: “pernahkah Anda menjadi besar dan berkuasa, yang merasa bahwa Anda berjuang untuk bisa menang di atas saingan Anda?” (hal.81), “bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil, dirampas hak-hak, dilecehkan, diperkosa?” (hal.95), “bagaimana kalau zombi jadi guru, trainer, atau pengajar?” (hal.97), “bagaimana cara menikmati kemanusiaan kita?” (hal.98), “bagaimana menjadi ‘terang’?” (hal.112), “anda pernah menyesal dan kemudian dimaafkan? Bagaimana rasanya?” (hal.159).

Ajakan-ajakan penulis terasa semakin persuasif kepada benak pembaca ketika menuju halaman-halaman akhir buku ini. Berikut sejumlah ruang tanya yang semakin menuju ke dalam diri:  “Apakah panggilan hidup Anda? Apa kekuatan yang menarik dan memanggil Anda? Apa yang membuat Anda tetap kuat berjalan meskipun kesakitan, yang membuat Anda mau dan bisa bangkit kembali setelah jatuh? Apa yang membuat Anda bisa bersukacita meskipun tidak dikalungi bunga dan dihadiahi emas?” (hal.181), “apa yang membuat Anda yakin untuk terus berjalan? Yakinkah Anda bahwa ada jalan di depan yang akan membawa Anda sampai ke tempat tujuan?” (hal.200),

Tidak sekadar menuntun pembaca pada pertanyaan-pertanyaan reflektif, penulis pun menawarkan tips-tips semacam pemecah masalah yang biasa hadir dalam hubungan interaksi sosial manusia dengan siapa dan apa pun. Selain ia kerap kali membubuhkan nukilan-nukilan kata mutiara dari tokoh-tokoh ternama: Lao Tzu, Gibran, Emerson, Gandhi, Martin Luther, Jr., Cicero, Frankl, dan sebagainya. Di satu sisi, penulis memberi semacam analisis ringan atas permasalahan-permasalahan aktual dari sudut pandang mitologi dipadukan dengan kelilmuan psikologi dari tokoh-tokoh seperti Freud, Jung, Maslow, Carol D. Ryff (hal. 40). Sebuah nilai plus karena penulis berlatarblekang pendidikan psikologi. 

Pendek kata, penulis buku mencoba merangkum seluruh tema permasalahan hidup, nurani, heroisme, perjalanan, sejarah, tragedi manusia, bias gender, kepemimpinan, serta cinta dengan sebuah pertanyaan profan. Pada bab akhir, alih-alih ia mengaitkan kehidupan yang diterima manusia dengan Sang Pemberi kehidupan itu sendiri: “apa yang akan saya lakukan bila 12 jam lagi saya akan menghadap Tuhan?” (hal.221). Berangkat dari buku dengan kemasan apik ini, masihkah kita bertanya tentang pentingnya refleksi?



Resensi oleh Ganjar Sudibyo
Yogyakarta, 2016

4.17.2016

MANGUNAN (KEMBALI) MERAYAKAN PENDIDIKAN


Judul: Secangkir Teh Hangat dari DED
Editor: G. Kriswanta, Pr
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2016
Tebal: 180 halaman
ISBN : 978-979-21-4485-7

“Alas dari pada pembangunan masjarakat jang nasional adalah pendidikan jang nasional”
, kata Muhammad Yamin (Mawardi, 2014). Alas yang dimaksud dalam penjelasan tersebut tentunya adalah pendidikan. 17 tahun sudah Y.B. Mangunwijaya, seorang rohaniwan, budayawan, dan pendidik telah meninggalkan dunia. Kini yang tersisa adalah warisan-warisan beliau yang berharga. Salah satu warisan berharga dari beliau adalah sebuah sekolah eksperimental yang berlokasi di Kota Yogyakarta.

"Secangkir Teh Hangat dari DED" merupakan sebuah judul yang menjadi personifikasi dari senarai peristiwa beserta refleksi yang ada di dalam buku ini. DED adalah singkatan dari Dinamika Edukasi Dasar, yang mana sekaligus sebuah nama lembaga dari salah satu yayasan pendidikan. Dieditori oleh G. Kriswanta, Pr, buku ini berisikan 26 tulisan yang menuturkan kisah dan refleksi masing-masing penulis atas pengalaman yang dijumpai.

Kedua puluh enam penulis yang ikut andil dalam buku ini berprofesi sebagai guru maupun karyawan di TKE dan SDKE Mangunan. Susunan buku ini dibagi menjadi empat bagian: “Spirit Romo Y.B. Mangunwijaya”, “Memberikan hati dalam Karya”, “Berbagi Spirit” dan sebuah epilog berjudul “Meletakkan Hati”. Berbagai kisah dan refleksi menarik menjadi semacam oleh-oleh yang bisa dibawa pembaca. Sebagian kisah menerangkan bagaimana seorang guru harus mampu menghadapi uniknya karakter para murid. Selain itu, seorang guru harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam suasana, termasuk dipindahkan ke jenjang yang lebih dasar (dari SD ke TK) atau melaksanakan tugas ke sekolah terpencil di luar Jawa untuk menerapkan kurikulum baru.


Di tengah pelbagai berita yang mendera di dunia pendidikan, buku ini pantas diseduh oleh siapapun, terutama para aktivis sekolah. Kisah-kisah berdasarkan realita yang diangkat dalam buku ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca. Tentunya untuk tetap berproses dalam mengembangkan pendidikan sekolah, terutama nilai-nilai luhur dalam jenjang pendidikan itu sendiri.

Seorang guru bertutur demikian terkait refleksinya selama menjadi pendidik: “Sebagai guru TK, peran kita tak hanya sebagai guru. Kita pun harus dapat berperan sebagai ibu, kakak, teman, dan sahabat bagi anak. Kesabaran dan ketulusan adalah kunci utama agar bisa dekat dengan anak. Anak membutuhkan perhatian dari seorang guru saat mereka ingin berbagi cerita. Dalam hal ini guru berperan sebagai seorang teman/sahabat bagi anak. Saat anak-anak merasa sedih karena ada masalah dengan teman (seperti bertengkar, diejek teman, atau terjadi kesalahpahaman), perlukan guru adalah obat bagi mereka. Guru bagaikan ibu bagi anak-anak selama berada di sekolah." (hal. 126)


Tidak hanya itu, Romo Mangun (sebagaimana yang dikutip oleh penulis pada halaman 85-86) mengatakan, "Semua pendidikan yang baik selalu menganut kepada kearifan nenek moyang kita, yakni prinsip ajrih-asih...Apabila kedua unsur tersebut dipadukan dalam ramuan yang pas, maka pendidikan sejati akan terlaksana.” Suatu refleksi yang rasa-rasanya penting untuk direnung-rayakan oleh semua pendidik di zaman dengan variabel masalah bangsa yang kian menumpuk ini. 17 tahun setelah Mangunwijaya mangkat, buku ini tetap menjadi warisan lain. Alih-alih, demi tetap mengobarkan semangat pendidikan yang lebih baik, mencerdaskan kehidupan bangsa.



Diresensi oleh Ganjar Sudibyo
Yogyakarta, 2016

4.09.2016

BAGAIMANAPUN WAKTU (NISCAYA) TETAP BEREDAR


Judul: Waktu
Penulis: Artvelo Sugiarto
Penerbit: Yabawande
Cetakan: I, 2016
Tebal: ix + 91 halaman
ISBN : 978-602-73063-5-6


Isu yang santer tentang adanya dugaan plagiarisme di salah satu puisi dalam buku ini sehingga berdampak pada ancaman penarikan, tentu menjadikan ada yang berbeda terhadap stereotip pembaca maupun calon pembaca buku ini. Terlepas dari isu plagiarisme sastra yang relatif ramai dalam viral di jejaring sosial, peredaran buku “Waktu” malah tetap menyala. Bahkan buku yang konon dicetak terbatas ini ludes di pasar yang dituju oleh sang penulis dan penerbit. 

Buku ini berisikan 78 puisi yang diberi kata pengantar oleh Heru Mugiarso. Buku pertama Artvelo ini memiliki desan ilustrasi kover yang cenderung menarik. Warna kover yang didominasi oleh hitam, seolah ingin menjadikan buku kumpulan puisi tersebut menjadi sesuatu yang menyaratkan teka-teki misteri. Selain itu, lukisan jam dinding di tengah yang proporsi ukurannya agak janggal pun mempunyai daya tarik, meski sayang, jenis huruf yang dipakai kurang memunyai chemistry satu sama lain dalam ruang itu. Baiklah, agaknya memang rerata penerbitan indie yang berada di wilayah Semarang masih perlu banyak belajar mengenai kemasan buku yang laik.

Buku kumpulan puisi pertama yang ditulis oleh Artvelo ini tentu memberikan iklim tersendiri dalam jagad sastra, terutama di kota tempat penulis tinggal. Puisi yang dimunculkan dalam buku, berkisar antara tahun 2012-2015. Dalam catatan biografi penulis yang relatif singkat, ditorehkan bahwa penulis memulai aktivitas menulisnya sejak tahun 1978. Jangka waktu yang rasanya cukup panjang untuk sampai membukukan puisi-puisinya yang terpilih. Namun, sepertinya agak disayangkan bilamana dalam buku ini tidak ditemukan puisi-puisi dengan tahun pembuatan 1978-2011, dengan alasan apabila ada tujuan dokumentasi-publikasi terhadap karya terdahulu.

Waktu memang menjadi materi yang sering diolah oleh para penulis. Dalam penulisan puisi, waktu menjadi semacam minimarket yang merumput sepanjang pinggir jalanan di Semarang. Semacam angkringan di Yogyakarta. Dalam persepsi penulis buku ini, waktu menjadi judul sekaligus puisi pembuka pada halaman 2. Begini penulis membahasakan waktu: “...Karena waktu begitu sempit menuju isya/Waktu tak mungkin dibalik/Meski begitu panjang menuju subuh....Dimana kaki terus melangkah/Mendekat pada garis waaktu” (hal.2). Penulis mengidentifikasikan waktu sebagai waktu yang sebenarnya. Sesuatu yang tidak bisa diulang, sesuatu yang bergerak lekas dan mendesak. Penulis tidak bermain banyak konotasi atau kegelapan dalam berbahasa. Berbeda dengan waktu yang hendak disampaikan pada halaman 53: "...uratnya tampak keras dan membatu/disimpannya dalam saku waktu..." (Dalam Pergulatan Batin). Di puisi tersebut, tampaknya ada upaya penulis untuk mengombang-ambingkan makna waktu. Tapi, tunggu sebentar. Pada halaman 35:"...namun selalu setia menunggu hingga waktumu..” (Kepada Diri), pada halaman 21: “...aku kian terkepung di lengkung waktu...” (Empat Puluh Lima Tahun Yang Lalu), pada halaman 40: “...ditusuki belati direbus dalam tungku waktu...” (Sajak Pagi buat Kekasih). Dari kelima contoh tersebut mana yang terkesan puitis? (Biar pembaca yang memilih).

Adapun proses penerbitan buku ini terkesan terburu-buru. Ini bisa menjadi suatu perihal yang vital dalam dunia perbukuan puisi. Puisi yang erat dengan diksi-diksi dan menjaga sedikit mungkin dari kesalahan tipo (baik ejaan maupun kaidah bahasa), pun logika-logika sederhana, dalam buku ini kerap kali dijumpai hal-hal yang sebaliknya. Terlepas dari licentia poetica yang kerap diagung-agungkan oleh penulis yang belum benar menguasai esensi dan teknik-teknik kepenulisan, tentu ini bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang hendak menerbitkan buku kumpulan puisi. Ya, siapa saja.

Namun waktu tetap beredar sebagaimana pagi-siang-malam-pagi lagi-siang lagi-malam lagi-dan seterusnya. Waktu sekaligus yang akan memperkarakan: buku (penulis) ini bisa bertahan lama atau tidak. Sebuah kensicayaan. Semoga penulis (k)ini tetap ‘bertumbuh’ secara jasmani dan rohani selayaknya “kail dan jala cukup menghidupimu/tongkat kayu dan batu jadi tanaman/di(-)ambil dari lagunya koes plus” (hal.66).


Diresensi oleh Ganjar Sudibyo
Yogyakarta, 2016

2.04.2016

EKARISTI / n / PUISI BUKAN MILIK SEMUA




Judul: Ekaresti
Penulis: Mario F. Lawi
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: I, Juni 2014
Jumlah halaman: XII + 93
ISBN : 978-602-9481-67-9


Orang awam yang jarang membaca buku (pun di luar anggota gereja) pastilah banyak yang tidak tahu tentang kosa kata yang menjadi judul sebuah buku kumpulan puisi dengan kemasan cukup apik ini. Pembaca memerlukan waktu untuk membuka kamus atau mesin pencari guna memperoleh penerangan soal ekaristi.

Mario adalah mantan seminaris yang divonis tidak dapat melanjutkan pendidikan imamnya karena suatu penyakit. Latar belakang yang demikian tentu turut menjadi kontribusi bagi Mario. Ia dengan segala daya upayanya memasukkan unsur-unsur biblis (kitab suci) dan simbol-simbol dalam perayaan gereja. Selain bahwa Mario hidup di lingkungan yang barangkali nyaris setiap hari ada waktu khusus yang digunakan untuk menulis, Mario tekun dalam megasah pundi-pundi talentanya. Mario mengizinkan dirinya terseret oleh iklim di luar dirinya yakni pengetahuan dan pengalaman yang ia serap selama bertahun-tahun. Keberadaan buku ini menegaskan bagaimana ketekunan Mario dalam meresapi pengalaman, cerita dan simbol-simbol gereja.

Apakah hal-hal yang berusaha dirangkum Mario ke dalam puisi adalah sesuatu yang sophisticated menimbang bahwa tema-tema yang ia sodorkan ke pembaca jarang digarap penulis lain di Indonesia? Tunggu dulu, tidak semudah itu untuk membawa karya ini ke irisan avant garde dalam sastra meski di antara para penulis dari Indonesia bagian timur, Mario bisa dikatakan menonjol dalam hal publikasi karya di media cetak nasional. Buku ini sebagian memuisikan kisah tentang Zakheus, Ararat, Magdalena, Rafael, Samuel, Yusuf, Nuh, Musa, Zakharia, Saulus. Syahdan, Mario menjadikan nama-nama tersebut sebagai bahan utama menulis puisi. Selain itu, simbol-simbol dalam kitab suci dan perayaan agama Katolik, seperti Pentakosta, Quo Vadis, Homo?, Via Dolorosa, Getsemani, Nazaret, Kyrie, Sakramen, Perjamuan, Requiem, Adventus, Paskah, Angelus, Wirug, turut dihadirkan. Walaupun demikian, istilah-istilah tersebut masih terbatas istilah judul, belum mengenai isi puisi yang dikandungnya. Bisa saja, pemberian judul berseberangan dengan isi. Hal ini sangat mungkin terjadi, dan sering terjadi dalam puisi-puisi yang kian jamak di indonesia kini. Demikian memungkinkan hal tersebut muncul di puisi-puisi Mario. Dugaan ini menyisakan seputar kejelian dalam membaca karya sastra, terutama puisi.

Ada dua teknik penulisan dalam sebagian besar puisi-puisi Mario di dalam buku ini. Teknik gaya bahasa alusi atau disebut dengan kithtavi, eponim dan metonimia. Kedua teknik ini hampir sama, namun jika digali lebih akan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Istilah yang digunakan oleh Mario dalam puisi-puisinya mengandung kedua teknik ini. Salah satu nukilan puisinya yang menggunakan teknik metonimi: “Ke matamu yang ceruk, Tobia berenang” (Adventus). Sedangkan nukilan yang menggunakan teknik alusi salah satu contohnya: “sedang Adam tersedu sendiri / menyaksikan Eva / melahirkan bayi-bayinya” (Ruang Tunggu, 2). Teknik eponim digunakan dalam nukilan berikut: “meletakkannya demi menjaga langkah para Majus.” (Fragmen Natal)  Ketiga majas itu masif digunakan oleh penulis untuk mengolah materi yang dibawakan. Terlepas bahwa apakah penulis sadar menggunakannya atau tidak, ketiga teknik itu sering muncul dalam puisi-puisi Mario.

Pembaca yang baik tentu bisa merasakan tenaga Mario dalam mengemas isi Alkitab cukup besar, kekuatan Mario ditunjukkan dengan tema-tema tersebut yang terarah dalam buku ini. Ekaresti identik dengan eksplorasi-eksplorasi teks yang menggubah dari pengalaman pembacaan biblikal dan dibumbui dengan sentimen pribadi (latar belakang kepercayaan jingtiu termasuk di dalamnya). Membaca Ekaristi tanpa mengenal seluk beluk kisah-kisah dan simbol-simbol gerejawi akan membawa pembaca merasa di dalam ruangan baru dengan benda-benda yang nampak memendarkan kilat indahnya tanpa tahu nama, sejarah, dan kegunaan benda itu. Hal ini yang membuat pembaca hanya bisa duduk diam merasakan saja tanpa memikirkan karena bisa berujung pada sesat pikir.

Segmen pembaca buku ini pasti terbatas. Mario tidak menulis untuk pembaca. Mario menulis untuk dirinya sendiri dan barangkali kalangannya. Sebab itu, percayalah, puisi hari ini bukan untuk semua.


2016
*Resensi ditulis oleh Ganjar Sudibyo



1.24.2016

PROSES KREATIF MENUNTUN STRES SEBAGAI EUSTRES*


Judul : Writing for therapy
Penulis : Naning Pranoto
Cetakan :  I, 2015
Penerbit : Buku Obor
Jumlah Halaman : xv + 187
ISBN : 978-979-461-949-0


Stres adalah istilah yang biasa muncul di benak tiap-tiap orang yang sedang menghadapi gesekan antara kenyataan dan angan-angan. dr. Handrawan Nadesul dalam prolog buku ini memaparkan bahwa stresor pada manusia milik segala umur, selalu menghadang setiap saat, dan meruntuhkan kalau jiwa kita ridak tahan banting. Stresor merupakan objek yang menjadikan manusia mengalami keadaan stres. Istilah stres yang dikaitkan dengan terapi menulis tidak bisa dipisahkan dalam dunia psikologi, meski banyak penelitian-penelitian non-psikologi bermunculan dari berbagai sumber.

Buku ini sebenarnya tidak fokus pada teori-teori cara penanganan stres, tetapi langsung pada bentuk praktik menulis yang diharapkan bisa membantu untuk menyehatkan jiwa. Naning menyediakan 11 lembar praktik terapi menulis. Tentu yang dimaksud di sini adalah menulis dengan alat tulis, bukan menggunakan komputer, laptop atau gadget lainnya.

Terapi menulis sudah lama digunakan sejak era psikoanalisis muncul. Seorang psikolog dari Amerika membuktikan dalam penelitiannya pada abad milenium bahwa menuliskan perasaan-perasaan dapat membawa pengaruh positif terhadap sistem kekebalan tubuh. Menulis perasaan-perasaan negatif, misalnya akan dapat meredam emosi dan menyembuhkan ketidakseimbangan emosi yang ada pada diri seseorang. Bahkan bisa meredam gejala-gejala penyakit kronis, misalnya serangan asma. Sebuah jurnal penelitian di Indonesia pada tahun 2012 menyatakan bahwa dengan menulis ekspresif, seseorang akan dapat meningkatkan pemahaman bagi diri sendiri maupun orang lain dalam bentuk tulisan. Selain itu meningkatkan kreativitas, ekspresi diri, dan harga diri, memperkuat komunikasi dan interpersonal, mengekspresikan emosi yang berlebihan (katarsis), menurunkan ketegangan, dan meningkatkan kemampuan individu dalam beradaptasi dan menghadapi masalah.

Menulis secara kontekstual dapat diartikan sebagai bentuk yang khusus dari komunikasi (baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain), menulis juga mengembangkan pikiran dan menimbulkan kesadaran akan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Fokus terapi menulis adalah pada proses menulisnya bukan pada hasil tulisannya. Menulis ekspresif seperti yang ditawarkan Naning dalam buku ini membutuhkan privasi, bebas dari kritikan, bebas dari aturan tata bahasa dan sitaksis. Artinya, dalam hal ini tidak perlu mempelajari teori yang berjibun sebelum menulis. Demikian, maka penting untuk menyadari perihal menulis yang dimaksud dalam buku Naning. Terlepas dalam buku tersebut ditampilkan berbagai kilasan para penyair besar (dari Seneca, Kahlil Gibran sampai Maya Angelou), yang mana sebenarnya tidak lain sebagai pembungkus untuk sampai pada inti: menulis adalah terapi. Semata-mata terapi.

Naning menyajikan tahapan-tahapan terapi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca --terutama mereka yang ingin menjajagi proses ini--, bahasa-bahasa yang kental dengan motivasi menjadi ciri bahwa apa yang hendak digarap tidak jauh-jauh dalam rangka kesehatan dengan k besar. Kandungan lain dalam buku ini sebenarnya masih terasa campur aduk, tumpukan kata-kata mutiara dengan desain layout yang dapat dikatakan cukupan bisa menjadi keterbatasan. Oleh karena itu, barangkali penting disarankan bahwa pembaca perlu tutor atau paling tidak partner ketika mulai memetik faedah dari buku ini.

Di bagian akhir, Naning menawarkan catatan harian yang penuh manfaat sebagi langkah bersambung dari 11 praktik terapi menulis. Tentu tawaran ini menjadikan bahwa praktik terapi masih berlanjut. Buku ini baru pertama kali ada di Indonesia dan ditulis oleh seorang praktisi terapi sekaligus penulis karya sastra. Ada baiknya untuk tidak melewatkan buku ini begitu saja, mengingat pentingnya mengelola stres dengan menulis akan mengubah hal negatif menjadi positif yang biasa disebut eustres. Dengan catatan sembari menikmati aliran proses kreatif menulis tanpa berekspektasi untuk melahirkan karya serius.



Semarang, 2016

*Resensi ditulis oleh Ganjar Sudibyo 






12.05.2015

BAGAIMANA SEORANG COPYWRITER NEWBIE MENGASAH KETERAMPILAN BER-BAHASA?*





Judul : Saya Pengen Jadi Copywriter
Penulis : Budiman Hakim
Cetakan :  I, 2015
Penerbit : Indonesia Cerdas
Jumlah Halaman : xv + 187 halaman
ISBN : 978-602-8728-47-8


Ada banyak profesi yang beririsan dengan dunia tulis menulis. Mulai dari genre fiksi sampai non fiksi. Copywriter, sebuah istilah profesi yang sebenarnya tidak asing bagi saya. Sekilas mendengar istilah tersebut terkesan menarik dalam batin saya. Siapakah dan bagaimanakah rupa-kerja seorang copywriter? Sebelum saya menemukan deskripsi yang jelas mengenai tugas seorang copywriter, saya sebenarnya dibingungkan dengan istilah yang belum dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia tersebut. Lalu saya mencoba untuk membelahnya, maka didapatkan: writer adalah penulis, sementara copy adalah salinan, sehingga jika digabung maka menjadi: “penulis salinan”. Demikiankah? Ah... ya, itu tugas para pakar bahasa yang memasukkan lema-lema baru ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun, istilah tersebut saya rasa penting untuk dibahasa-indonesiakan. Bukan kenapa-kenapa, melainkan supaya nasionalisme dalam berbahasa semakin ditegakkan (alahhh...). Selanjutnya, saya mencoba mengorek-ngorek bagaimana “google” memberi klu terhadap definisi copywriter, begini saya memperolehnya:

“Copywriter adalah profesi di lingkungan periklanan yang bersifat komersial yang tugasnya menulis naskah iklan, baik untuk iklan cetak (print ad), iklan televisi (TV Commercial), iklan radio (Radio Commercial) dan segala macam bentuk komunikasi merek." (wikipedia, 2015)

     Selain itu, di sebuah situs lain (http://www.copywritingskill.com) mengartikan bahwa “copywriting pada dasarnya adalah ilmu mempengaruhi orang melalui kata-kata untuk menjual produk dan/atau jasa, menciptakan image tertentu di benak konsumen, untuk membuat orang menyetujui suatu ide, dan bahkan juga bisa untuk merubah budaya sebuah bangsa.” (tujuan terakhir keren juga tuh....)

         Ya, dunia copywriting sudah pasti tidak bisa dipisahkan dengan periklanan.  Saya tidak akan mengupas secara mendalam menyoal definisi terkait copywriter (sementara di buku Budiman Hakim juga tidak secara gamblang dijelaskan mengenai sejarah tetek-bengek copywriting). Saya hendak memberikan semacam testimoni kecil dari buku yang saya baca. Salah satu alasannya karena saya rasa menarik untuk memulai sesuatu tulisan di blog ini dengan tema yang agaknya berbeda.

         Budiman Hakim (melihat dari riwayatnya) adalah seorang aktivis copywriting. Dalam deskripsi tentang CV-nya di belakang buku tersebut, ia menyebutkan kurang lebih dua puluh tahun menjadi seorang copywriter (hal. XVI). Tentu bukan usia yang pendek dalam jenjang karier menjadi copywriter. Di buku Om Bud (panggilan umumnya) kali ini diulas tentang  bagaimana copywriter bekerja dengan bahasa yang mudah dicerna dan terkesan semacam transkrip dari percakapan sehari-hari. Om Bud tentu mempunyai pertimbangan tentang penyajian bahasa dan juga ilustrasi untuk pembaca berkalangan apa dan siapapun. Salah satu yang dapat diduga di sini adalah karena alasan pasar. Profesi copywriter memang belum banyak yang mengenal lebih jauh, namun bahasa dan ilustrasi yang menarik dalam buku ini memberikan pemahaman bahwa copywriter adalah sebuah profesi yang menyenangkan. 

        Merujuk pada isi buku, pembaca (baca: pembelajar) ditawarkan menjadi seseorang yang berproses menjadi copywriter terampil. Adapun tema-tema pembelajaran yang dijadikan bahan antara lain dimulai dari bagaimana merangkai kata hingga menjadi seorang risk taker. Pelajaran-pelajaran tentang copywriter dibawakan secara ringan oleh penulis dengan bahasa metropolitan sehari-hari. Berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi yang bisa saja barangkali tidak semuanya nyata, tapi penulis tetap memposisikan diri sebagai provokator pembaca untuk terus menerus menyelesaikan pelajaran sampai akhir. 24 tema pelajaran yang ditampilkan dalam buku ini merupakan satu kesatuan. Bahkan pembaca diajak untuk merenung-renung seperti bagaimana kreativitas diperlakukan sebagai sikap hidup. Penulis menyertakan intisari di setiap bab pelajaran. Hal ini tidak lain untuk membuat pembaca mudah dalam menyerap pokok pelajaran di setiap bab. Lantas, apalagi yang belum dilakukan penulis untuk membuat pembaca bertahan dan nyaman?


Ada yang agaknya menarik dan dapat dijadikan prinsip sebagai awal kepenulisan (yang notabene bukan hanya untuk wilayah copywriting saja) di antara bab-bab pelajaran dalam buku ini. “Gue sih pengen latihan nulis tapi nggak tau harus nulis apa. Kalau kalian mempunyai masalah yang sama, cobalah gunakan rumus 3P” (hal.134).  3P itu antara lain, pengalaman, pengamatan, dan pengemasan. Prinsip ini merupakan pegangan yang mutlak mesti dimiliki seorang penulis manapun. Hal elementer seperti inilah yang kemudian menjadi buku ber-cover kuning-hitam ini semakin berbobot. Adapun penulis menawarkan teknik-teknik kepenulisan yang  mana jarang dibeberkan dalam buku-buku kepenulisan, seperti belajar dari mantra, belajar dari plesetan, belajar dari makna ganda, belajar dari teka-teki, belajar dari jokes, belajar multitasking, belajar dari supir truk. Pembelajaran semacam itu seolah memberikan dorongan kepada pembelajar untuk mengasah sensivitas terhadap lingkungan sekitar dan terlebih pada diri sendiri.



Sebagaimana iklan mempunyai hakikat sebagai ujung tombak dalam penglaris suatu produk, demikian copywriter adalah profesi yang semestinya mempunyai pedang berbahasa yang tajam dan mengkilat untuk menebas dan menembus keramaian pasar, sehingga profesi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Penulis kemudian memberikan nasihat-nasihat penting yang bertujuan dapat merangsang para pembaca untuk terus bergerak mengasah diri dan percaya bahwa copywriter adalah pekerjaan menjanjikan: "inti dari tulisan ini adalah kalau Anda mau jadi penulis maka caranya cuma satu: LATIHAN! Percaya deh! Bakat itu Cuma 1%, sisanya yang 99% adalah latihan dan latihan (hal.137). "...saya cuma mau bilang bahwa sukses hanyalah milik orang-orang yang berani". (hal.183)
 

2015
*Ditulis oleh Ganjar Sudibyo untuk keperluan semata belajar dari "hiburan"