PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

Tampilkan postingan dengan label ukiran peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukiran peristiwa. Tampilkan semua postingan

7.17.2009

DAN KUPASUNG KERANDA UNTUKMU


: tragedi Kuningan`09 dan semacamnya


Terorisku Ksatriaku,


Apakah buta masih saja merakitkan dirimu pada butirbutir atom? Hingga kau tergesa memasang dan salah meletakkan. Segumpal kaitan kabelkabel itu. Lantaran kau sesegera ingin menjadi sebuah album. Tempat semua sejarah takkan dilupa. Menjadikan pertanda bahwa matahari tak lagi menyarangkan arti. Pantas saja, kulihat begitu dalam telaga surga tergurat di lembaran hatimu. Hingga dunia kita leleh terendam.


Aku ingat. Di perjamuan terakhir. Kau meninggalkan kepadaku seutas ragu. Tersimpul kemudian di jemarijemariku. Lalu terbentuk masa. Bahwa hurufhuruf ini akan membumbung bersama tebaltebal asap yang kau sisakan untukku. Bahwa akan menghangus bersama barabara gedung. Mengabu kemudian. Bahwa akan menyungai bersama darahdarah di ragamu. Dan mereka. Bahwa akan menghujan bersama segala macam airmata. Bahwa akan melayang bersama arwaharwah tak kenal rumah.


Terorisku ksatriaku. Akhirnya. Sampailah kita di sepenggal masa. Tempat sebuah keranda surga telah kupasung untukmu. Dan sebuah bom waktu sebesar nuklir yang kutempel erat di telaga hatimu.


Salamku,

teroris dari terorismemu.


2009


4.30.2009

MANUSIA dalam API


CRAKKK !!!

terbenam kau oleh pejam

menyeruak tubuhmu


mengupas hingga kelopak mata jinggamu

memerah-jingga membungkus setelah


terbujur sekujur tubuhmu

hingar dalam pijar-pijar meluap

bersama reruntuhan geliat dingin kristal mimpi


dan...

muncul, tampak

menyala, tak redup dipagut kelam

deras bara berkobar di ujung ketiadaanmu


terbakar kau oleh lukamu

sampai ngilu malam terisak menangisimu

menyusupi degup waktu

dirimu, serupa kau dalam api



200904SMG

4.15.2009

Serpihan Bernas Kata Tadi Malam


Tadi malam kata berkerumun di wajahnya

Menanggalkan gaun-gaun lamanya

Mengenakan topeng-topeng di luas-sempit ruangnya

Hingga pergelaran malam diporakporandakannya



Ialah bernas surga bahasa

Merajalela dalam ilusi-ilusi romansa

Dan semut-semut kata berdansa

Dalam rupa larik-larik karsa



Mereka melepas petang, akhirnya

Bertengger kembali di habitatnya



2009/01/06/SMG

4.05.2009

Ilustrasi penyair malam


Raga

Terbius

Irama sangkar

Bertubi

Berkelakar

Memintajawab

Mendung awan

Hanyut

Di kekeruhan malam

Sementara

Roh kata

Menghembus

Lewat

Jalan-jalan sunyi

Lenyap

Menggelap



200904SMG

2.28.2009

catatan akhir boelan

hari demi hari pujangga ditawan dalam merdunya perang malam, hingga kata tak bergutik dalam genggaman para ksatria licik. haluan malam membisu hingga gantungan di atas malam berubah menjadi abu. melabuh di daratan kata yang telah mati. pujangga lagi bergulat membebaskan anak-anak kata di sepinya bui terra.



SMG/01/03/09

1.13.2009

HUJAN


Menggelegar, lalu merintik

Serabut kata bertaburan masih

Meski bilik-bilik malam menutup akan

Sedang para biduan menerbitkan diri dari tidur panjang

Di sana sini terhampar benggala kata

Tak asing lagi bagi mereka

Yang berjejak di singgasananya

Merintik, lalu menggelegar

Dimensi ruang belum meniadakan malamnya

Sejak lereng-lereng senja berkemelut dalam lesak lembah

Dan bukit-bukit menghitamkan diri

Dengan perantaraan para kurcaci lirik

Menggelegar, lalu merintik

Sayub-sayub tertunduk kata yang sudah menjelata

Sesampainya di ranjang yang tak lagi kejang

Haluan malam tak bergutik di bawah nirwana para kristal

Menitik di muka tanah bernanah

Merintik, lalu menggelegar

Menggelegar, lalu merintik

Bersanding di tebing malam

Dalam

Hujan

2009/01/12/SMG

1.08.2009

Layaknya Puisi



ada waktunya senja terlelap

dan bergulir malam di keheningan sinar purnama

ada waktunya jemari kata terdiam kaku

dan tertinggal siulan-siulan di keramaian pijar bintang

ada waktunya langit mengerling

dan terlahir cucuran air kata-kata

membasahi di kekeringan sumur-sumur abjad

akhirnya semua berujung waktu

layaknya puisi

merekah di kedalaman semesta

menerangi setiap pantulan jiwa



20081231/SMG