PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

11.01.2011

PAGI DAN SEGELAS SUSU INI KEKAL SEMENTARA MENJADI AIRBIRU MATAMU

seperti pagi ini yang kau panggil-panggil dari uap susu panas, lihat saja rasa ngungunku
yang terbias di percakapan warna putih tulang semakin renyai menembus alam pikir
tentang kenapa kita mesti menyeka airmata. dari es yang pagi-pagi sama-sama beruap
seumpama susu panas itu, aku tak yakin bahwa kegiatan minum-meminum
terlalu sentimentil untuk disebut ibu dari segala kepanjangan awal hari. segelas susu
waktu itu menciptakan pagi yang tak pernah fiksi. setiap hari, kasihku. dan kau pasti
mengenali upayaku menerjemahkan deru mesin yang mulai mendera kesunyian
di antara simpanan mimpi atau sejarah kenapa semut-semut berenang-renang
hanya di permukaan air, seolah menahbiskan diri sebagai pemanis buatan.
pemanis buatan yang sekedar menginapkan anyir ke lidah atau menitipkan
kesangsian hidup: agar kekal kita atas percintaan menuju suara-suara kecil.
seperti pagi ini yang kau panggil-panggil dari dasar segelas susu-- akukah
yang sementara kekal atas kepalsuan bahwasanya akulah tanda berulang
tenggelam di airbiru matamu


2011

10.18.2011

MITOS PENYESALAN

selepas tuwung kuning*


--kita tak perlu menghunus kebhakilan
sendiri, bukan?

dengan melihat mata masing-masing seutuhnya
perlahan cakar ayam keluar satu-satu untuk beradu
di semesta lain, sedang tangan-tangan kita
akan bersilih-tumbuh bulu-bulu ayam jago
lalu setiap waktu berjalan menuliskan
rasa lupa yang ditimpa berat maki lelaki
sesak. semakin sesak. seolah membelukar.
dan tangan tak juga bergerak, selain berusaha
menerima selendang tuwung kuning untuk kafan
kesendirian menjelang ayam berkokok memanggil
panggil keserakahan yang lenting mengalihkan
pandangan, menempelkan sedu muka ke tajam
mata pedang. karena kita terlalu ceriwis menenun
basah api demi sebening api, karena siapa merasa
besar kelaklah memakai mata paling banyak airnya.
alangkah suara pohon kesayangan berbau hantu
seperti membenturkan kepulangan pagi-pagi sekali,
meniadakan memar nafas yang tak sengaja terbakar
dalam sekam batang pisang kering. kita ini
yang tercinta dan mencinta, seringkali harus
membuang hunus pedang. mencacatkannya,
seperti merobek pakaian baru kita. menyemat
sesal yang was-was hingga bulu-bulu rontok
lalu kita dibawa bangga atas pengaduan
ke pengaduhan, melepas persembunyian perih
untuk mempersunting diri kandung kita,
merayakan sesal kuat-kuat tanpa sedikitpun
mengeluhkan udara yang telah berton-ton cemar.


2011

MITOS KEHENDAK

selepas datu untal*


“barangsiapa menentukan nasib terlebih
dulu, kemudahan akan menunjukkan taring
yang luhur yang bukan lahir dari mulut buaya.”

sebab katamu mengucap lafaz tak henti
luas menyeberang dari gili ke gili
menghindari pasir yang menyerpihkan
kaki menjadikannya gaib dan begitu
nyeri seperti ditumbuhi sisik-sisik
barisan taring-taring yang berhunusan
dari buaya muara. berenang menjauh
lekas supaya tak merasa hidup ini
fiksi atas kesepian demi kesepian sebab
keterasingan yang kerap menganga
seolah ingin melempar kehidupan lain
atau sekedar menitipkan rintih kutuk
sebagai langkah membuat sungai seabadi
mungkin, seumpama nama. melafalkan
maklumat kesadaran kalau dunia
ini bukan angkasa tak terpetakan,
kalau dunia ini tempat tinggal roh-roh
duduk bersebelahan, terkadang menyapa:
“puan-tuan, kita sedemikian dekat
hanya saja kalian tak kunjung melek
menjaga diri baik-baik adanya.”
maka perlahan,
tubuh ini akan tertinggal khusyuk sendirian
tanpa kerangka karena manusia kini seperti
tersandung lebih dari satu abad lamanya
membuka mulut dan tak ada yang keluar
membaca mantera dan tak ada yang jelma
mengusiri nenek moyang di tanah sendiri
melupakan muasal detak-detik kecil. berdenyut
seakan mendebar-debarkan pelarian panjang
yang sesat dan tak tahu ke mana langkah
sebenarnya berlamat-lamat berat, berat
nampak selamat atau tamat.


2011

MITOS KETAATAN

selepas ni timun mas*


sepanjang tak lupa mencintai diri
berterimakasihlah karena ni timun mas
yang kepadanya pintu telah ditetapkan
sebagai ruang diri untuk tumbuh bergantian
menjagai dengan penuh kehati-hatian
bahwasanya setiap orang mesti tahu
ke mana berbuat kelu atas nasibnya
memperbaikki kedunguan yang tak
berkunci pada kedangkalan di bawah
telapak kaki wanita. demikian selebihnya
orang bertembang seperti nyai timun mas,
layaknya ibu yang menghaturkan mantera
ke atas tidur anaknya di samping puting
memercikkinya dengan doa sepanjang
mungkin. hingga kelak datang pencobaan
yang seringkali muncul wanita-wanita palsu
--ibu bersuara lain. berterimakasihlah akan
masa depan yang senantiasa menampakkan
pembebasan raksasa i lantang hidung. sebab
diri tak seharusnya begitu saja mempercayai
mitos tikus, kucing, ular, anjing. mitos diri,
sebelum mempelajari siapa diri telanjangnya
di antara yang lahir. inilah bab kesekian
tentang bagaimana tak mengingkari
yang hidup yang tak setimpal atas tumbal
yang menjadikan pelanggaran
menuliskan kenapa kini banyak
berhala palsu silih bergentayangan
mengetuk-ketuk pintu orang dengan
bersenandung nafsu lagu-lagu mesin
serupa seorang ibu merindukan kepulangan.



2011

10.02.2011

DI TELAPAK TANGAN - OKTOBER, HUJAN YANG AKAN DATANG

mari belajar meramu-ramal dengan telapak tangan yang ada
:tengadahkan telapak tangan kiri, mari belajar meraba
garis-garis sayatan lahir yang kian tebal dengan mozaik
seperti sulaman sutera. ingatlah tiga garis utama: kesehatan,
keuangan, relasi. masukilah satu per satu, ikuti jalan garis
itu masing-masing. hingga merasakan bagaimana
cintanya diri ini kepada tubuh dan jiwa seperti tusukan
rimbaud di telapak tangan verlaine. maka sepanjang
diri mengenal siapa yang ada di diri, ialah yang sekarang
--oktober yang belum banyak bisa ditebak. hanya jika
perjalanan adalah kepastian, itu mungkin berada
di antara ribuan takhayul. kenanglah oktober
yang tetap menjadi bagian dari telapak tangan
dan tafsiran-tafsiran masa depan serta segaris
kekinian. sebab siapapun akan kembali pada
timbunan titik yang menyatakan ia ada-tiada.
ketahuilah akan hujan yang kerap kali diperkarakan
orang, ia akan segera memataairkan langit, seperti
keringat dingin berembun di telapak tangan.


2011

9.27.2011

MENG-UPLOADMU DI DINI HARI

:m


benar. aku tak bisa merasakan ujung bibirku
begitu hangat meminum rindumu. selepas demam,
demam yang mengajakku berpetualang dari
sinyal ke ponsel. benar. seperti ada yang sedang
menjemputku. tapi mungkin itu bukan kau sekali.

sejauh kutemukan usia yang mahal harganya,
aku ingat benar kau yang justru mengajari
bahwasanya dari jangka waktu kau mengatakan
kangen adalah penggenapan atas lamanya
aku memeras mata di hadapan seluruh puisi.
sejauh kutemukan dini hari ini,
kau mengeramatiku dengan kekosongan suara
menuju paru-paruku yang tiba-tiba berhembus
sisa bau rokok sedemikian kuat,
seperti ingin mengalahkan mimpi kita tentang
carrickfergus-carrickfergus yang akan datang
tanpa memperdayai diri demi menghibur diri
sampai bulu kuduk berdiri menakut-nakuti
ikrar percintaan

karena kita tak lagi berfirasat sama, karena itu
tandai tandailah ini sebagai pendewasaan
sebab kita masih memandang langit yang sama
dan jarak berjalan pelan-pelan mengejar ruangnya
mempercintakan kita sekuat-kuatnya, sebenarnya
suatu ketika



2011

8.24.2011

KONON, DI SEBUAH KAMAR YANG MENDOWNLOAD BULAN TAK HENTI-HENTINYA


menghisap udara dengan sepuluh jari tanganmu
seperti berpulangnya sengal nafas satu per satu
menuju penantian yang kucatat-ulang tadi pagi
karena tanggal-tanggal semakin semu tak berganti
dari episode menjelang episode yang terindui
orang-orang kampung bermatakan channel televisi.

udara kian sesak saja dan bunyi sepi bergentang
seperti penyair menenggelamkan kesunyian dirinya
seumpama berkendara di kemacetan tanpa klakson
selebihnya kota telah lampau memperbaikki alarm
supaya tak ada pagi terbit bersilih karena kaki-kaki
mulai tak sanggup menasrifkan kilometer perjalanan
menyembunyikan derap-derapnya, merahasiakannya
dengan nafas istirah panjang di kamarmu. demikian
segalanya terasa ingin abadi di kamarmu, dan kau tak
kunjung menyerah karena bulan selalu kuning merah
diam tak ingin kausuarai sebagai bulan yang pelan
masuk ke malam berikutnya.

alangkah kau masih mempercayai penantian bertahun
yang batal itu, menuliskannya dengan kecut jari-jarimu
dari kamar hingga bulan bisa tampak kekal di dalamnya
mengembalikan seluruh alamat pergi, membesuki
kebahagiaan tinggal di sini sambil menyaksikan gelap
kamar beserta bulan yang sebentar lagi memilih mesra
selamanya


hey, bukankah bulan tak mudah kehilangan byte sedikitpun?


2011

8.22.2011

TAKDIRKAN AKU SEBAGAI KATAKMU
















tertanda nenek lampat


[i]
selama perut masih girang beribu tahun lampau
selama dirimu tak pernah fiksi,
izinkan aku membenamkan diri ke rahim kesepianmu

lebih sulit rasanya jika batu batu ini kujelma
sebagai bunga bunga liar di ladangmu
daripada menjadi mahkota pangeran
sebab di rabun usiamu, aku belajar menghayati
tawar airmata mana yang benar benar menenggelamkan
warisan cinta adam

sebelum aku menatap nanar sesudah segalanya
lenyap karena tertelan ludah sendiri—sesudah manusia
tak lagi mengenal hikayatnya sebagai penyempurnaan
makhluk, aku benci dan sangsi jadi manusia
nek!

[ii]
niscayalah bujang katakmu, tak sekali anakmu semata
niscaya zamanmu itu nyata di belakang abad danau toba
dan seketika orang orang menamai sebuah tempat
dekat jurang terjal di jawa
:tangkuban perahu

ini aku. datang dari milenium ketiga
yang bersedia diberkati olehmu—oleh rapal doa doa
menjadi anak kedua berkulit hijau licin
bermuka katak

ini aku. jemputlah ke masa kini
atau doakan aku
supaya bisa tiba ke masamu
walau terkadang di duniamu
matahari tampak bayang
manusia tampak binatang

[iii]
silakan datang, nek
lahirkanlah kembali aku.
dunia ini bisa kau cipta
sebagai masa lalumu

dan barangkali, di balik kaki bukit itu
--yang kini penuh televisi, internet
blackberry pun ipad;
ada keyakinan
bahwasanya mereka tak pernah sanggup
memfiksikanmu juga si bujang anakmu
sama dengan manusia

“nenek lampat, demi namamu
aku takdir kemanusiaan katak
aku takdir hidup musibah milenium masa

takdirkanlah aku”




2011
Puisi ini terinspirasi dari sebuah pembacaan cerita rakyat: Si Bujang Katak
(Puisi masuk dalam antologi Pertemuan Penyair Nusantara v: "Akulah Musi")



8.14.2011

TUGU MUDA SERATUS RIBU TAHUN


Sir Richard Owen takkan pernah melihat semarang punya tugu
homo sapiens kini bergentayangan naik bus trans semarang
keduanya bertemu dinosaurus yang ternyata masih hidup
di bawah tanah. bergerak bergelimpang, tak bisa kencing tenang
karena kota ini semakin keparat saja. bau pesing terjadi di mana-mana.


2011

SEDINDING GABUS, SEPANJANG PERJALANAN YANG LANTAS KE TEMPAT SAMPAH

karena f.


2008, sketsamu berjumpalitan
sketsamu masih berjumpalitan di dinding yang terbuat dari gabus
sepertinya ingin membunyikan sesuatu tentang kebaikan dunia maya
--kita mesti jujur...kita mesti jujur
aku sempat mengiggau tentangmu dan enam belas tahun sms balasanmu
menunggui bau printer yang ngadat, lantas kapan selesai mencetak
sejarah kenapa kau putuskan untuk menemaniku sebagai lelaki

ketahuilah, sketsamu berkali-kali memanggil dingin dinding bukan tanpa alasan,
adakalanya aku tak dapat sepenuhnya mengerti bahasa
kedamaian yang hanya ada di pundakmu
lalu terpotret di sana bersama sebab-sebab takhayul
kucing hitam, bunyi gagak, kekupu cokelat, bintang jatuh,
hujan monyet, kecelakaan

aku mulai paham kalau kau tak pintar membikin puisi sampai-sampai menyesal
menangisi puisimu sehingga menggantinya sebagai musik
namun musik telah berhenti sebagai musik selain menumbuhi pemandangan berdua
mungkin sepasang kekasih yang lama jumpa. musik hanyalah diam dengan
bisikan lembut kepada telinga kita:
ya, kita tak sepatutnya berjalan
kita tak sepatutnya menempuh perjalanan
mengatur siapa yang akan menyelesaikan arah
menentukan di mana rumah yang sah

kepadamu, suatu waktu telah bersedia diketemukan oleh tempat sampah
aku meremasmu dan sketsa yang berisi pundak-pundak kita
dengan demikian kita tak perlu berkeluh kesah atas tempat
yang telah menemukan kekesahan terlebih dahulu
melepasnya ke ruang yang tak pernah terkira untuk disinggahi

barangkali, perkenankanlah aku untuk memperkenalkan diri, lagi

sejujurnya
ini aku yang mengetuk malam-malam supaya aku kau keluarkan dari bau printer
sketsa, dan 2008!



2011

8.11.2011

ALEGORI POHON BELIMBING


yang rela menerima segala sampah

dan tumpah tanpa membunyikan sebah adalah tabah

kita tak perlu bermuluk-muluk memakai peci
dan baju koko yang baru bilamana yang lama
telah usang karena kita tak pandai merawat
atau mengukur cawat

dahi ini tetap dahi setinggi manusia, ia akan
seperti kesombongan bilamana mendongak
lebih tinggi dan tinggi hingga melupakan
siapa yang menderaskan darah ke segala
tingkah

aku. aku. akulah pohon yang setengah terpangkas
oleh dada penuh bulu brutal yang mengeras.
setengah mati tanpa ada suara ketuk pintu
suara kerendahan hati--
"izinkanlah aku memangkasmu sebab telah kuketuk pemilikmu"

hahaha!
ini musabab, pak erte yang baik...
akulah batang-batang pohon yang tersungkur di pinggir jalan
yang tak mengutuk kalaupun benci angslup di tajam belatimu
manakala kau bersikeras patahkan dengan doa sepulang umroh

maka di pangkal akarku telah berulangkali
menerima nasihat syahdu dari air selokan
dan tak sebentar sungsang karena berseberang
semata,
lantas suaraku yang khilaf mengaku aku
menjemput laku kehilangan manusia
seketika pergi tanpa busana
tanpa memberi salam pemiliknya, tanpa!

yang rela menerima segala sampah
dan tumpah tanpa membunyikan sebah adalah tabah


2011

8.01.2011

SAJAK-SAJAK MELANIE LIEBERMAN*

Menghabiskan Waktu dengan Kakek


Bagian I
Untuk Seseorang yang Pernah Veteran

ia sudah terbang mobil di stopwatch langit yang membeku
rem dengan katup yang terjebak
seperti burung cuckoo macet di pintu sebuah jam.

ia duduk
di kursi penumpang dari ford lengkap fokus 2007
tapi semua yang ia lihat hanyalah kendali tekanan udara
dan sayap di samping pandangan cerminku.

ia masih menganggap sekelilingnya adalah perang
yang berjuang selama terbang di atasnya sehektar padang hijau
ujung es dan biru seperti electroshocks yang melalui kulit.

itu
pelajaran pertama aku mengemudi, tapi aku tidak belajar untuk terbang
mencoba untuk menavigasi pinggiran kota terasa lebih sulit
ketika rekan-pilot mengira kau menghindari artileri-artileri.

di puncak
bukit ia mendesakku melepaskan gas -- dan rem,
untuk pindah ke gigi yang lebih rendah,
sehingga aku mampu memberhentikan jet kargo di landasan.

tidak ada gunanya
bersikeras
bahwasanya mobil tidak bekerja dengan cara yang sama seperti jet
atau pikiran yang tua sama dengan yang muda
bahwasanya rem ada untuk berhenti sementara
meluncur menuju tepi sebuah langit yang datar.



Bagian II
Jika Kau Tak Gunakan Kata-Katamu Mereka Menghilang

Seumpama dokter-dokter yang mendeteksi infeksi
merambat naik dari pergelangan kaki kirinya
melalui pahanya yang seperti puding kismis
dan ke dalam tebal-kanker perutnya.

ia meletakkan jariku ke dalam tangannya,
sementara lidah licinnya bertongkat pada sebuah kata,
vokal akord kuno berdecak dengan sungguh
semua sembilan puluh tahunnya mundur dari sistem.

sebuah kamera video betanda kutu-kutu pada
sudut meja dapur,
untuk mengabadikan cerita-cerita
dari orang-orang pabrik

hikayatnya menetes perlahan
sampai gambar abu-abu dan putih yang mengerak
sejak tahun 1930-an di New York
membusuk ke dalam sarang laba-laba dan debu.

"kau
tahu," katanya, berpindah dari satu
pemikiran mampet menuju yang baru,
"jika kau tidak menggunakan kata-katamu mereka benar-benar
menghilang. "

dan
aku mencoba untuk merawat milikku
menandai setiap chip seperti dalam sebuah batu rosetta
sebelum berubah menjadi tetes embun di beranda belakang
pergi secepat cahaya matahari gudang seantero dunia





*Melanie Lieberman adalah seorang penulis dan editor muda Amerika yang sampai saat ini telah menerbitkan 13 buku. Sajak-sajak ini diterjemahkan oleh Ganz Pecandukata, 2011.

Sumber: http://www.hillstead.org/PDFs/lieberman_grandpa2009.pdf

7.31.2011

SAJAK-SAJAK WALT WHITMAN*



Seorang Anak Takjub

DIAM dan takjub, bahkan ketika kecil,
Aku ingat aku mendengar pengkhotbah setiap Minggu yang meletakkan Tuhan dalam
kata-katanya,
Sebagai pengkhianatan atas beberapa persaingan atau pengaruh.



Tengah Malam yang Cerah

INI adalah jam-Mu wahai diri, perjalanan bebas menuju tanpa kata-kata,
Menjauh dari buku-buku, jauh dari seni, hari terhapuskan, pembelajaran dilakukan,
Engkau sepenuhnya muncul, diam, menatap, merenungkan tema yang
terbaik untuk engkau cintai.
Malam, tidur, dan bintang-bintang.




Sebuah Daun untuk Bergandengtangan

SEBUAH DAUN untuk bergandengtangan!
Kau orang tua dan muda!
Kau yang di Mississippi, dan seorang mekanik! Kau orang kasar!
Kau orang kembar! dan semua prosesi bergerak sepanjang jalan!
Aku berharap membenamkan diri di antara kalian hingga terbiasa bagi kalian untuk
berjalan bergandengtangan
!



* Walter "Walt" Whitman (31 Mei 1819 - 26 Maret 1892) adalah seorang penyair, esais, wartawan Amerika yang pernah bekerja sebagai guru dan pegawai pemerintah. Sajak-sajak ini diterjemahkan oleh Ganz Pecandukata, 2011.

Sumber: www.poemhunter.com/ebooks/redir.asp?ebook=2353...walt_whitman...

7.28.2011

SAJAK-SAJAK KATIA KAPOVICH*


HARI SAMPAH

Mereka harus berteriak satu sama lain
karena angin pagi setelah Natal.
Aku berharap bisa melukis wajah mereka tanpa menggunakan kata-kata:
satu tinggi dan reyot, pendek dan gemuk, sedang yang lainnya
mengenakan jaket oranye kotor, celana olahraga,
dan masker wol hitam pada mulut mereka-
adalah orang-orang hari sampah.
Mereka terjebak denganku untuk melakukan sejumlah akrobat.
Gelap-biru daur ulang sampah diangkat dengan tangan berurat satu
menemukan diri dalam pelukan lain,
yang bersenandung atas apa pun yang bersenandung
kepada sopir, dan dorongan nyala stopkontak
ke atas piramida tong sampah yang dikosongkan.
Aku baru saja menaruh beberapa puisi buruk di dalamnya
puisi dari musim dingin sebelumnya, dan sekarang mereka pergi,
seperti masa Sang Buddha. Terima kasih, Bung.


MALAM FLAMENCO

Tersebab musim semi mendatangi bulan yang terlambat,
Orang-orang beramai turun ke jalan-jalan,
termasuk aku dan seorang gadis cebol.
Sebuah band sedang bermain flamenco favorit,
sedang dia berdandan, seolah-olah demi sebuah kencan
ia telah berdiri ke atas panggung
di hadapan semua orang.

Dia mulai mengetuk-ngetukkan kakinya,
sepatu hak tingginya tak tertahankan
menangkap irama tetapi tidak pernah meninggalkan tempat
di antara lampu neon di Cambridge Trust Company
dan risik padang rumput Bunga-bunga Harvard.

tangan putih pendeknya
menekan ke pelukan dadanya
yang patah hati
dan memegangnya seperti semangkuk susu.

Dia menari dan menari,
bayangnya tumbuh lebih panjang dari tubuhnya,
seperti lampu-lampu jalan Square yang berdatangan,
menghapus jejak kaki dari debu
meninggalkan cangkir-cangkir kertas untuk memutihkan
senja biasa.


(Flamenco adalah sebuah genre musik dan tari yang berasal di wilayah Spanyol selatan Andalusia di akhir abad ke-18)



TERBAKAR

Ketika hari membersihkan sampah turun ke atas rongsokan,
sebuah Balai kota dan tuan rumah Jerman kami temukan
dalam kompartemen koper kecil
mereka berbagi dengan sebuah bola dari kaus kaki, kap robek,
kau menggigil dalam celana renangmu
pada pohon beku tempat orang-orang Jerman
mendorong kami untuk bergabung dengannya demi berenang.

Aku akan mengambil arlojiku dan menguburnya di kerikil
yang mungkin menggerus pasir kekosongan,
melambaikan tangan-tangannya, mememarkan sikunya,
namun kukuku adalah sebuah kaca pembesar.
Kau meminta orang-orang Jerman untuk meninggalkan kami sendirian,
meneguk dari botol, menikahi seseorang,
tetapi dalam mimpi aku tergoda lagi
telanjang di bawah matahari musim gugur.

Satu hal terakhir sebelum aku lupa
kulit berbintik-bintik, bibir biru, suara-konyol
Aku akan mengambil kaca pembesar
dan menunjukkan apa yang kumaksudkan.




*Katia Kapovich, seorang penyair yang membawakan sajak-sajaknya dalam bahasa Inggris dan Rusia. Dia adalah penulis Rusia yang tinggal di Cambridge di tahun 2000. Aajak-sajak ini diterjemahkan oleh Ganz Pecandukata, 2011

http://www.janushead.org/10-1/kapovich.pdf

7.27.2011

SAJAK-SAJAK PAUL CELAN



Sebuah
gemuruh:adalah
kebenarannya sendiri
yang berjalan di antara
laki-laki,
di tengah
badai metafora.



Di mana
?
Pada
malam seketika bukit batuan runtuh.

Dalam
puing-puing dan curam keresahan,
dalam kegaduhan paling pelan,
kebijaksanaan itu - adalah lubang bernama Ketiadaan.

Jarum-jarum air
menjahit bagian
bayangan - di jalan perjuangan
yang lebih dalam dan bawah,
yang bebas.



MEMECAH

Tanpa kesakitan, sebuah pohon-
kuburan pecah menjadi
ranting-ranting yang patah:

racun masa lampau
istana-istana, katedral-katedral masa lampau,
mengapung-
di arus dan jatuh

sebab pembakaran yang berulang
lepas
dari tanda baca kesela-
matan,
Kitab Suci,
melarikan diri ke bagian-bagian
tak terkirakan hingga
yang dinamai tak-
mampu mengucapkan
nama-nama.




(Paul Celan, seorang penyair dan penerjemah yang berasal dari Rumania berdarah Yahudi. Ia lama tinggal di Jerman di masa perang dunia II. Sajak-sajak ini diterjemahkan oleh Ganjar Sudibyo setelah sebelumnya dibahasa-inggriskan oleh John Felstiner, 2011)

sumber:http://www.janushead.org/10-1/celan.pdf