PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

1.08.2015

BAIT PENGANTAR “ESKAPIS”*


Pembacaan Bagian I



Seiring garapan-garapan yang tak kunjung selesai karena berbagai macam hal, maka saya putuskan untuk membagi pembacaan atas buku kumpulan puisi karya Arif Fitra Kurniawan. Pembacaan bagian I ini semacam pengantar atas pembacaan sekilas puisi-puisi AFK (Arif Fitra Kurniawan).

"Eskapis" merupakan sebuah judul yang diambil dari judul puisi pada halaman 78. Apa dan bagaimana alasan AFK mengambil judul puisi ini sebagai judul buku tidak dijelaskan pada buku tersebut. Namun saya mencoba mereka-reka kaitan puisi "Eskapis" dengan beberapa puisi lainnya dalam buku ini supaya pembaca tidak terlalu terlantar oleh tanya tentang istilah yang jarang diunggah ini.

Ada dua sisi yang ingin ditunjukkan puisi “Eskapis” melalui dua bait pertama:

Di luar dirimu, cuma ada lingkaran kesalahan dan kekesalan
yang berputar. Tak bisa menghalau diri. Sementara kegelapan
datar menyerupai wajah lantai. Sebelum cahaya kota
dibangun dari mata air kemarahan yang menyeruak tumbuh
dari retakan cangkang kuku-kuku kuning busukmu. Telur-telur
yang ternyata berperangai demikian buruk. Kau tetap yakin
di dunia yang nyaris tak nyata ini orang-orang akan pulang
membawa diri mereka berjalan membungkuk memikul kepala
berisi padat—kaku penyesalan milikku.

Di dalam diriku sudah aku ciptakan ribuan pasang mata
yang menangis,bangsal-bangsal rumah sakit bersalin, jarum
suntik, kapsul penenang dan, rumit rumusan demi menebus
kehilangan.Masa depan orang-orang terlanjur bibit penyakit
menunggu waktu tepat sembari memeluk pertanyaan kapan
dirimu akan berulang-ulang bangkit. Mereka terlanjur getir
menyimpan ucapan selamat.


Dua hal yang dipertautkan tersebut tidak secara eksplisit ingin memberikan nuansa paradoks. “Di luar dirimu...” dan “Di dalam diriku...” tiga kata pembuka tersebut seolah ingin mengecoh pembaca tentang pembacaan paradoksal terhadap puisi ini. Adapun upaya-upaya AFK dalam mencari-cari celah dua sisi tertera di puisi lainnya. Pada puisi “Menukar Kau, Menakar Aku” berbeda dengan dua sisi yang ingin ditunjukkan pada dua bait pertama pada puisi “Eskapis”. Berikut potongannya: 

batu itu, kaukah?
air ini, akukah?
....

Pada puisi tersebut terasa lebih jelas dan tidak begitu rumit ketika mencernanya. Dengan pemberian penekanan melalui tanda tanya, dua larik puisi tersebut memiliki keterkaitan dan keterikatan secara utuh. Antara kata dan bunyi, yang kemudian mengerucut pada korelasi antarlarik (enjambemen). Pun kesan yang ditinggalkan dari puisi tersebut terasa lebih memiliki gesekan yang kuat di antara kedua kata benda “batu” dan “air”. Dalam kelanjutannya, batu dan air menjadi kekuatan untuk bersitegang. Saya mencoba menengok bait terakhirnya:


 agar engkau tahu
sekeras apa dirimu,
ketika leleh secair aku
--dan sebaliknya--

Kata “batu” sudah barang tentu menjadi asosiasi dari suatu benda yang keras, pemilihan kata “batu” memudahkan daya imajinasi pembaca untuk sampai pada bayangan ‘keras’ yang dituju. Begitu pula “air”, yang kemudian adalah suatu wujud yang mudah dicerna untuk mewakili cairan. Kedua kata ini dihubungkan untuk menimbulkan pertentangan dalam benak pembaca. Pertentangan semacam ini yang kemudian berusaha diujicoba oleh AFK untuk menarik adrenalin membaca. Tapi, apakah berhenti hanya sampai pertentangan ini? Dalam kasus teks puisi ini, kiranya AFK tidak memberikan kejutan apapun untuk pembaca yang menanti.

Kembali pada puisi “Eskapis”, yang mana puisi ini ditulis sekitar dua tahun setelah puisi “Menukar Kau, Menakar Aku”. Barangkali penggalan berikut cukup memperjelas kisi-kisi deskripsi dari dua bait awal puisi tersebut:
1. Di luar dirimu, cuma ada lingkaran kesalahan dan kekesalan yang berputar.
2. Di dalam diriku sudah aku ciptakan ribuan pasang mata yang menangis,bangsal-bangsal rumah sakit bersalin, jarum suntik, kapsul penenang dan, rumit rumusan demi menebus kehilangan.

Penggalan kalimat awal dari puisi tersebut ingin menunjukkan wajah yang berbeda. Pada teks nomor 1, didapati perpanjangan dari “di luar dirimu” yang memberikan gambaran bahwa persepsi diri atas di luar diri milik “mu” berisikan “kesalahan” dan “kekesalan”. Persepsi yang muncul di sini adalah persepsi negatif atau prasangka buruk. Pada teks nomor 2, dimunculkan bahwa diri milik “ku” adaah seorang pencipta yang melahirkan suasana-suasana ngeri. Kengerian tersebut diciptakan berupa ruang-ruang medis yang kemudian memiliki tujuan menitikberatkan pada yang bernama kehilangan. Bilamana kedua paragraf tersebut ingin didekatkan, kenapa AFK tidak memberi kata “di dalam dirimu”, sehingga pertentangan dapat terlihat jelas. Rupanya ada reaksi-reaksi ketakpuasan terhadap apa yang sedang digali oleh AFK sebelumnya sehingga menumbuhkan upaya untuk memberi penekanan berbeda. Kebiasaan-kebiasaan silogisme yang menyertai sebuah pembacaan dijadikan semacam uji coba untuk memberi ruang resepsi lain.

Penegasan pada teks nomor 2 dilakukan dengan memperpanjang narasi itu ke bentuk paragaraf baru:

Wabah yang berhasil membelah diri itu seperti air susu langit
memaku-maku batu, tabah meneteki mayatmu yang kekar
bercabang di liang kering angan-anganku.

Kata “wabah” memberi tambahan nilai negatif terhadap penceritaan “di dalam diriku”. Kondisi ini yang kemudian diimajinasikan dengan tingkap-tingkap kata mulai dari “air susu langit” sampai “liang kering angan-anganku”. Pada intinya, teks pada bait lanjutan tersebut berbicara seolah "wabah"  si-aku berujung pada "liang kering angan-angan".

Pada tiga bait terakhir, teks tidak jauh-jauh dengan deskripsi-deskripsi "di luar dirimu" dan "di dalam diriku". Dua hal yang ingin dipertautkan sampai teks puisi ini selesai.   
Di luar dirimu, dunia jadi kubus-kubus besar menyerupai
kekuatan sihir dan teka-teki raksasa. Pertanyaan yang cuma
membuat kita bersedih. Tidak ada musim. Cuma ada prasangka
dan kota yang berkelip-berkelip, sebentar naik ke atas,
mengambang, kemudian mencair. Menyusun siasat bagaimana
menggenangi jam-jam tidurku yang sempit. Cuaca benarbenar
membuat kita jadi mata si pencuriga. Terusan-terusan
salah menuduh bayangan seseorang menanamkan bencana.

Aku sengaja terpejam, membukakan pintu bagi benda-benda
sudah lama letih mengetuk diriku dari dalam; ingin berenang-renang 
menikmati kekalahan.

Di dalam diriku mimpi terbuat dari berjuta-juta kelahiran
bayi binatang purba. Aku satu-satunya manusia yang membenci
diri sendiri dan sering menangis. Kenapa tidak punah
dan diganti dengan perumpamaan baru agar bisa tertukar
denganmu.


Pengulangan-pengulangan yang dilakukan seperti bermaksud untuk menumbuhkan penegasan sekaligus kehibukan bagi pembaca. Dengan gambaran lain yang dimunculkan sebagai bentuk rangsangan bahwasanya ada permasalahan yang pelik antara dua hal yang ingin ditunjukkan oleh teks tersebut. 

Di luar konflik yang ingin disajikan dalam teks puisi "Eskapis" ini, bait yang saya beri warna kuning merupakan bait usaha untuk 'penghelaan nafas'. Hal itu dimaksudkan untuk mengarahkan pembaca pada klimaks yang ingin diucapkan bait terakhir. Semacam kesadaran 'aku' (terlepas sisi di dalam maupun di luar diri). Kesadaran yang ingin ditempatkan pada posisi di mana konflik tersebut tetap berporos pada 'aku'. "Eskapis" merupakan salah satu puisi yang hendak memberi nuansa ekstase bahasa pada pembaca, ditambah dengan bonus imajinasi puitik yang mewah. 

Jika "Eskapis" merupakan usaha untuk pembebasan 'aku' dari suasana yang memerangkap dalam ketidakberdayaan, tema yang hampir sama juga muncul pada puisi  "Jilatan Air".
air akan menjilat kampung-kampung kami 
kami ternyata sudah cukup lama jadi ikan 
mustahil bercita-cita jatuh dari bawah.

Potongan puisi tersebut tidak berbicara tentang 'aku' personal lagi, melainkan kami yang dibawakan oleh 'aku' kolektif. Kami yang kemudian ingin lepas dari perangkap suasana "cita-cita"Segala dugaan ini, membuat saya meyakini bahwa tidak sekedar tawar-menawar teknik penulisan puisi oleh AFK. Sebuah kesaksian majas 'kita' berusaha ditampilkan dari formasi pertentangan dalam bahasa puisi “Bekas Taman Bungamu”:
adakah sisa jarak yang masih bisa kita selamatkan. aku kesakitan
dan ingin menjauh dan ingin berpaling dari pertanyaanmu
yang meruncing. seperti kau, sebenarnya akupun tahu yang
selama ini dikehendaki dan yang tak dikehendaki.

Alih-alih, puisi-puisi yang dikemas dalam buku ini mengandung berbagai macam tema, maka biarlah teks-teks dalam judul buku yang tampak jarang didengar ini yang berkehendak bebas menyetubuhi masing-masing pembaca. Dan semoga pembaca diberkati supaya terbebas dari suasana biasa ketika membaca sebuah buku kumpulan puisi.



*) Adalah judul buku kumpulan puisi Arif Fitra Kurniawan yang dapat dilihat secara sekilas di foto di atas,di mana penulis sedang menunjukkan bukunya. 

Semarang, 2014

1.04.2015

CATATAN “EKSPERIMENTASI” HUBUNGAN JARAK JAUH


Sebuah upaya refleksi kecil


Di antara pucuk tahun lama dengan tahun baru, saya tiba-tiba ingin mempublikasikan jenis tulisan lain (selain fiksi, terjemahan dan esai sastra) di blog yang sudah saya kelola selama hampir 5 tahun ini. Tulisan semacam testimoni kecil tanpa kandungan referensi buku (dalam konteks ilmiah). Di sela hari-hari payah saya, ketika saya merasa bahwa segala hal yang tadinya dekat dengan saya ternyata menjadi potensi untuk berjarak. Tentu saja, hanya saya yang merasakannya, merasakan keterjauhan itu. Nah, saya mencoba  untuk menarasikan deskripsi hubungan saya berkenaan dengan jarak. Ada tiga macam hal terkait dengan hubungan jarak jauh (bahasa remajanya: long distance relationship disingkat ldr) yang sedang saya alami kini. Pertama, hubungan saya dengan kekasih saya. Kedua, hubungan saya dengan Tuhan. Ketiga, hubungan saya dengan tingkat kesadaran masa kini.

Perihal pertama bukanlah sesuatu yang baru sebenarnya. Saya sudah sedemikian rupa lebih dari empat tahun menjalani hubungan ini. Empat tahun lebih barangkali bukan jangka waktu yang lama bagi pasangan-pasangan yang sudah berpengalaman dalam menjalin asmara dengan memilih hubungan jarak jauh. Bagi saya, pun ini bukan suatu permasalahan yang terlalu berarti untuk diputuskan bahwa menjalin asmara jarak jauh adalah sebuah omong kosong dalam mengarungi bab-bab percintaan. Dengan kata lain, sama saja tidak punya kekasih. Anekdot semacam ini sangat sensitif bagi pasangan-pasangan yang sudah akrab dengan jalinan asmara jarak jauh. Saya dapat memaklumi, barangkali mereka yang mengatakan ini sedang mengalami fobia jarak atau level pemahaman atas cinta yang terbagi antara ruang dan waktu. Apapun itu, anekdot yang dibuat untuk menjatuhkan jalinan asmara jarak jauh sebenarnya tidak bisa melemahkan saya (barangkali juga pasangan saya).

Perjalanan asmara hubungan jarak jauh memiliki kekhasan yang menitikkan begitu banyak memori (jatuh-bangun dalam rangka memperbaikki hubungan). Memori-memori itulah yang mengajarkan saya bagaimana saya terus menerus memperbarui tafsiran atas jarak yang terbentuk melalui dimensi waktu.  Jarak, pada esensinya (ketika saya sedang berupaya melewati ini) bisa bertambah membahayakan pun bisa bertambah memesrakan. Membahayakan, sejauh jarak itu tidak dirawat dan merawat hubungan sebuah pasangan, pun sejauh diri yang satu ikut menjauh dari “diri yang lain”. Jarak dalam hal ini menjadi semacam pesakitan yang harus dihindari. Memesrakan, sejauh jarak itu semakin menjadi suatu perekat, bahwasanya hanya “ia” seorang (dari kedua belah pihak).  Lalu jarak, tak lain adalah sebuah sarana perindu untuk kembali bertemu dengan ikatan kasih sayang yang lebih segar yang jauh dari pikiran-pikiran buruk. Dengan kata lain, jarak hanya kilasan kesementaraan menuju pertemuan yang tepat.

Soal asmara yang seperti ini telah dilewati oleh banyak pasangan. Banyak yang bertahan hingga ke peristiwa puncak, banyak yang kemudian berpisah hingga memutuskan untuk menjauhi perkara jarak. Saya sadar, bahwa ini bukan kali pertama saya memutuskan untuk menjalin hubungan semacam ini. Tapi saya berusaha belajar untuk kesekian kalinya, barangkali ada sesuatu yang direncanakan yang tak saya ketahui tentang jarak. Peristiwa-peristiwa yang pernah mencemaskan emosi tentu berkali-kali muncul dan bahkan berulang. Bilamana seorang tidak menyadari akan peristiwa-peristiwa ini dan membuat semacam refleksi kecil-kecilan maka akan memunculkan bosan yang kemudian tinggal menunggu detik hubungan yang pecah. Saya sebenarnya tidak hendak menjadi mahaguru bahkan guru dalam berbicara soal ini. Namun saya berupaya mengambil sedikit panenan dari pekarangan saya.  Dengan demikian, jarak bagi saya bukan menjadi sesuatu yang pantas dicemaskan secara berlebihan.

Perihal kedua, saya mencoba untuk membuka keintiman yang selama ini saya tutup rapat-rapat. Keintiman saya dengan Sang Maha Pencipta. Saya berikan sedikit gambaran latar belakang diri. Saya dilahirkan di keluarga yang taat beragama. Saya sendiri memperoleh pendidikan agama yang cukup memperkaya sisi religiusitas saya. Pendidikan yang paling membuat saya semakin kaya adalah ketika berada di asrama (pada masa ketika saya menuruti kehendak bebas untuk menjadi seorang rohaniwan).  Di sana, saya belajar banyak hal, mengenai refleksi, mengenai penyembuhan luka batin, mengenai kemandirian beragama, mengenai orasi, dan tentunya mengenai menulis. Dalam konteks ini, saya akan jelaskan ringkas mengenai kemandirian beragama. Pendidikan yang saya peroleh di masa-masa itu menitikberatkan pada pengembangan iman beragama. Para seminaris (dan novis), diajak untuk tidak bermalas-malasan dalam menyelami kedalaman pengetahuan, dan relasi antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan Sang Maha Pencipta. Yang menarik dari sini adalah proses menemukan hubungan yang intim antara diri personal dengan Tuhan. Setiap individu berbeda dengan yang lainnnya. Di sinilah awalnya saya menemui keunikan, saya menemui jalan saya sendiri untuk membentuk suatu peradaban beragama, yaitu relasi intim saya dengan Sang Maha Pencipta.

Saya merasa bahwa setiap individu mempunyai gambaran Tuhannya masing-masing. Citra kehadiranNya yang berbeda satu sama lain. Tentu dengan landasang pengalaman masing-masing ketika menafsirkan suatu tanda selama berada dalam arus putaran waktu. Dan waktu, sekali lagi menjadi orang tua. Ia (waktu) sejatinya adalah yang mengasuh apa yang tumpul dalam diri kita. Sadar atau tidak, ia melakukan pembenahan secara perlahan. Dengan catatan, manusia yang ikut di dalamnya mempunyai rasa peka dan terbuka terhadap segala sesuatu yang dijumpainya. Kedewasaan bukanlah menjadi tujuan utama menurut saya. Sebab kedewasaan bisa melemahkan ‘pikiran kanak-kanak’ dalam diri manusia. Pikiran yang bisa mengajak terus menerus berkelana. Kedewasaan hanyalah sebuah omong kosong fase perkembangan, tidak lain adalah hasil dari mereka yang mengejar pola-pola hidup mapan dan monoton. Lahir-hidup-sakit-mati. Saya lebih ingin menyebut bahwa kemurnian adalah tujuan pokoknya. Semakin memurnikan diri, semakin juga mengeksistensikan diri di hadapan Yang Maha Pencipta. Waktulah yang akan memurnikan diri dengan kapasitas perkembangan manusia yang berbeda tiap individunya.

Dalam persoalan yang saya geluti, agama bukan lagi perihal taat - tidak taat, dosa – pahala, surga – neraka, melainkan sebuah jalan yang mengantarkan manusia pada peristiwa-peristiwa. Peristiwa di mana manusia bisa merasa sangat dekat, dan bisa merasa sangat, sangat jauh. Apa arti jauh – dekat di sini? Bagi saya, iman bermain di sini, sebab iman adalah pokok dari semua orang yang beragama. Ia menjadi sangat dekat, sebab manusia berani menggerakkan iman akunya menuju Sang Maha Pencipta. Ia menjadi sangat jauh, sebab manusia terbentur oleh gerakan-gerakan praktis, yang mana dipikir sesimpel ini, atau sesimpel itu untuk mendekatkan diri padaNya. Oke, saya malah membuat rumit di sini. Sekali lagi ini hasil dari hubungan pribadi saya denganNya. Bahwa apa yang dimiliki oleh segala pikiran dan perasaanNya tidak sesimpel apa yang dipikir dan dirasakan oleh manusia. Mana mungkin sebuah robot tau apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh Penciptanya secara tepat? Secanggih-canggihnya robot, tetap saja ia tidak bisa melebihi penciptanya. Ini analogi kecil yang sebenarnya tak bisa langsung diasosiasikan bahwa robot adalah manusia, bahwa pencipta adalah Tuhan. Saya ingin berbicara bahwa fenomena manusia yang kemudian meniadakan kehendak manusia lain dalam perilaku, sikap, ungkapan  berhubungan dengan Sang Maha Pencipta adalah sesuatu yang sangat keliru. Fenomena tersebut menyatakan bahwa pembodohan dan pemalasan dalam berketuhanan semakin ramai.

Dalam pengalaman pribadi, saya mencoba untuk mengeksplorasi segenap pikiran dan perasaan terhadap Sang Maha Pencipta. Menjauhi diri dari ritual-ritual, menjauhi diri dari aktivitas kelompok-kelompok tertentu. Memang hujan tak ke mana jatuhnya, ke tanah, laut manapun, ke benda-benda apapun, ke makhluk siapapun. Ini menggambarkan suasana basah yang ada dalam diri saya. Suasana di mana saya tidak bisa menjauhkan diri dari Air. Pertemuan-pertemuan dengan berbagai macam individu, kejadian-kejadian yang tidak bisa saya duga, kemewahan hidup yang katanya absurd oleh sebagian orang. Semakin saya menjauhkan diri, saya malah semakin menemukan tanda-tanda lain. Bahwa Ia sangat bisa dan lihai bersemayam di manapun, pada siapa dan apapun. Di satu sisi, saya malah merasakan seperti merebahkan tubuh di kesejukan padang rumput hijau berembun dengan langit biru cerah ketika saya memasuki ruang-ruang keagamaan. Dengan kata lain, saya tidak menemukan kewajiban dan hak bagi saya yang beragama. Ya, alhasil latihan spiritual atas diri religiusitas saya ini masih mencapai hal yang demikian. Pasti namun perlahan, saya terus melatih daya-daya yang ada dalam diri saya karena masih banyak yang belum tersentuh. Dan sekali lagi, waktu. Ialah yang akan meneruskan Ia dalam memurnikan diri saya di antara periode-periode manusia.  

Perihal ketiga, adalah bagian yang sebenarnya tidak jauh dari masa kekinian saya. Apakah ini tanda semacam krisis dalam perkembangan? Saya tidak sepenuhnya mengamini.  Masa depan bilamana itu diasosiasikan dengan warna, adalah hitam legam. Ia gelap, bahkan sangat gelap. Bukan berarti saya antiharapan terhadap masa depan saya sendiri. Saya malah semakin menyadari bahwa sikap atau lebih tepatnya prinsip lepas bebas yang saya terapkan dalam diri saya mengerucutkan saya pada jalan ini. Masa depan hanya sebuah hasil tekanan dari alam manusia sendiri atas rasa cemas. Manusia malah melakukan kredit terhadap hidupnya sendiri dengan memberi nama masa depan.
Ringkasnya, upaya saya ini malah mengerucut pada redefinisi tentang masa depan. Saya tidak mempunyai obsesi cita-cita atau mimpi yang dikata orang setinggi langit itu. Saya yang kemudian tidak lantas melulu menaruh harap bahwa kamu atau kalian semoga selalu baik-baik saja. Sebab yang mulai bertumbuh dalam benak adalah upaya dan upaya. Bagaimanapun juga, harapan adalah sebuah godaan untuk melemahkan diri kini dan melalaikan jalan-jalan kecil masa lalu. Oleh karena itu, masa depan adalah gelap. Saya mesti menjaga jarak dengan masa itu. saya tidak ingin memberi noda pada masa kini. Lalu bukankah jalan masa kini dipancangkan oleh masa depan? Sedia payung sebelum hujan, misalnya? Oh, hei tahukah diriku sayang, bahwa alam telah benar-benar mempunyai perhitungannya sendiri, dan peristiwa-peristiwa yang manusia alami? Saya tetap saja tidak bisa merasakan dahaga dan lapar tanpa jarak. Tiba-tiba saya malah merasa kerdil dan dangkal jika terlalu dekat berdampingan dengan segalanya. Inilah hubungan jarak jauh. Inilah "laku puasa dan matiraga" yang sedang saya olah terus menerus. Refleksi ini telah menjadi semacam morfin kebahagiaan bagi sepanjang pandangan yang telah saya lalui.

Dalam nama waktu, menulis seperti ini telah memberi kesempatan pada catatan jarak untuk terus menumbuhkan padang-padang hijau-biru rindu yang tak lekang oleh upaya-upaya "aku".


Foto oleh Ganjar Sudibyo (2011)

Semarang, 2014 - 2015

       

12.29.2014

ABAD YANG SELALU BAHAGIA



ia seka wajahnya yang terhimpit tingkap gedung-gedung
roda-roda jalan, asap, limbah liar yang tumpah, dan jadwal
penggusuran. perayaan-perayaan yang tumbuh meriah
di antrean mimpi-mimpi orang yang terbukti kesejahteraannya,
di antaranya kesakitan kiri berjejal di tubuh-tubuh kemudi
atas rasa cemas terhadap matahari masa depan. udara abu
menempel di pipinya saban kali ia menengok ke kanan,
sebab di hadapannya setiap rumah menjadi tempat ibadah,
dan batu-batu yang dibuang oleh para tukang bangunan
menjadi hiasan sepanjang sejarah yang disembunyikan dari
catatan rahasia sebuah rezim.

sebuah abad yang selalu bahagia; dari orasi aristoteles sampai
rama dalam kacamata gandhi, ketika masing-masing
kemiskinan yang miris kembali untuk menatap matanya;
sebab katanya, itu semua surga yang merdeka dari cinta
luka-luka batin nenek moyangnya


2014



SELAMAT ULANG TAHUN, BETLEHEM!



dari tingkap atap katedral: pucuk salib, tak kulihat apa-apa
selain warna-warni pantulan cahaya yang ditebar sedemikian rupa,
pohon-pohon berdahan runcing, gua dan kandang buatan, dan,
patung-patung buatan;
sebuah rancangan istimewa yang dijadikan penghias suatu perayaan
telah dipercaya bahwa akan membawa ruah-ruah berkat,
tapi aku mulai sadar, orang-orang hendak memindahkan
ruang pun waktu dalam ayat-ayat yang dicetak miring
: sebuah kota yang teramat lampau
di suatu tahun, ketika sepasang kekasih ditolak  
untuk sedapat-dapatnya bersalin di tempat
seperti halnya kelahiran-kelahiran yang pantas

betlehem telah menjadikan sebuah peristiwa
yang sebenarnya tak diduga, atau tak dinubuatkan
nabi-nabi di perjanjian lama. betlehem, telah
menjadikan orang-orang kini membayangkan
peristiwa buatan abadi yang dicetak tebal
yang melahirkan tuhan buruan kaisar agustus



2014

12.28.2014

CINTA PERTAMA MANUSIA DIGITAL


ular kesekian telah sengaja dicipta di alam tubuh kami
dan dunia bising membuatnya pertanda: pasangan
pertama berjenis manusia bermata cahaya
layar-layar digital. sebab kami baru saja jatuh cinta,
semoga tak ada kehidupan bunyi-bunyi monitor  
untuk melarang apapun sebagai cinta pertama
yang pokok bijinya tetap sama. di firdaus baru:
lanskap jaringan sosial, tanah tempat mark zuckerberg
menggaruk-garuk kepala penciptanya



2014

AFORISME PERTEMUAN SINGKAT


:kate

ia peristiwa teramat singkat yang dekat, aku berada
tepat di belakangnya berusaha memegang lekuk pinggangnya
tapi ia lari tergesa menuju sebuah ruang yang sebenarnya
tak asing bagiku. ia menghilang di tengah keramaian
antrean orang-orang. (katanya, ini sebuah rekam ulang
dari sepanjang kenyataan yang berputar cepat dan pendek)

sehabis perempuan molek itu, yang kukira kekasihku,
aku mendengar seolah ada lirih suara malaikat
menurunkan nasihat dalam ayat dalam mimpi
subuh tadi: berkunjunglah ke kubur
yang kelak purna merestuimu, layaknya matahari
bapak dan ibumu

lalu aku terpaksa melepas jerih isak; hidup sepanjang kini
hanya untuk mencintai tanah kehilangan,
merelakan langit kepergian?

aku lari sebelum diketuk-ketuk oleh mata kesadaran
pemilik dada yang mahalapang
kate, kekasih narsisiusku,
ke mana saja dirimu yang malang?


2014



HEADLINE DI BERANDA TUA


1.
sebuah pencarian tak akan lepas dari kilasan fana
pesan-pesan warisan yang tak sampai karena hidup
penuh dengan pandangan-pandangan yang ngadat
seperti tubuh prosesor tahun 90-an;
untuk sampai pada manusia utama, era hasrat nikmat
mesti dikaburkan, dilesatkan dari mata hening suryomentaram
atau jauh dari petasan nasihat derita sasrokartono.
tapi, tuan-puan, mungkinkah itu bisa dinyatakan
sebagai pengunguman penting
di antara kepadatan pasar-pasar terbuka?

2.
rupa-rupa lahir semakin tak murni, semakin tak tampak
dari jerih payah para pemahat arca-arca yang hilang
di museum, arsitektur rumah-rumah joglo yang kini
dipelihara orang asing

para pribumi yang tak mengindahkan
lengan-lengan etika para filsuf yunani
atau kaki-kaki ajaran serat-serat yang dibeli
oleh aurat para kolektor, mereka mencoba
mencari-cari semar yang terjebak
pada cahaya-cahaya kecil di lorong-lorong
cemasnya sendiri sebelum menjelma
foto-foto selfie

3.
seolah ada yang mencuri diam-diam
lalu perlahan menggali kuburan massal,
mempersiapkan monumen pahlawan kesiangan

pekik kehilangan akan indah pada waktunya,
tuan-puan!

lalu pada sebuah tatapan di headline koran
yang teramat lokal,
seorang tua tak mampu menghisap airmatanya
di beranda
:
jenazah kawannya (seorang kejawen) dilarang dikebumikan
di tempat pemakaman umum--tanahnya
sendiri



2014

12.14.2014

DI KUNCUP LUKA YANG DETAKNYA KUPERAM



seribu bulan berlalu begitu saja tapi aku tak juga mengerti
di arah mana kutemukan almanak yang bisa bikin
pandanganku berhenti menumpahkan yang suci
dari pendar cahaya airmatamu;
ataukah detak di kutuk tubuh dunia ini
memompa luka yang paraunya terlanjur mesra?

di kedalaman lain kutemukan yang kuncup semacam luka
yang mengeras setiap bulan akhir memintamu
menafikan waktu


2014



MUSIM DI KAMPUNG HALAMAN



I.
lewat tahun-tahun yang dihisap mulut sunyi
hendak kukabarkan keadaan yang melumat rongga dadaku
sedemikian rupa;
lama waktu, susah kuperoleh padanan kata rindu
yang mulai berduri di dinding-dinding sisa pertemuan
yang terbuat dari jarak. ingatlah, ini bukan soal
aku terlampau bodoh untuk menyerahkan diri
hanya pada cinta permen karet, ini soal
bahwasanya kosa kata itu telah sesepah
buah terlarang setengah matang
yang terlanjur ditelan

II.
di kampung ini dekorasi  lingkaran harian telah satu per satu
mengungsi jauh dari peradaban yang membikin nyala lain
pada bola mata manusia. nyala itu merasuk dan mengitari
lubang pada catatan masa lalu: tapak jalan-jalan batu abad
pertengahan,  sungai-sungai venesia yang berlengan kecil,
gemuruh gema konser perbukitan islandia, hujan di gurun afrika,
kebakaran di hutan tropis; suasana-suasana menyentuh
yang barangkali tingkat keasingannya
belum bisa kubayangkan dari peta geografis masa kini

III.
siapa bilang aku tak bersemangat bergerak di kampung sendiri;
membuang sampah hampir tiap pagi, bertemu tukang rosok
yang menambal nasibnya dengan barang-barang bekas,
meratakan penghijauan di pinggir kali tempat tikus-tikus
mati diracun, menyapu pelataran, dan akhirnya
mendoakan para pekerja nafkah yang merasa kesadarannya
terjebak oleh hal-hal praktis -- sebelum kusimpulkan,
betapa puitis dan metaforisnya kisah-kisah mereka

IV.
putaran musim yang keteraturannya sangat beraneka ragam
adalah kampung halaman adalah sebagian dari narasi iman
yang tunasnya tak kunjung mekar,
sebagian dari imajinasi yang dasar perihnya selalu sama;
menyatu jadi sepasang sayap
menyulap yang dilewati dan melewati
menciptakan pintu-pintu alpa dan omega


2014





12.05.2014

MEMUSATKAN KEINDAHAN


buat y.a.

seperti butir biji yang punya daya untuk pecah--tumbuh
di kedalaman tanah;
begitupula kuncup luka, aneka wajah yang bermusim
di kejauhan dirimu: yang pada saatnya mekar 
sebelum kesadaran paling akar menggetarkan kelopaknya,
menggugurkannya satu demi satu.

seumpama padma ungu yang bulir-bulir airnya memantulkan
seri buddha;
begitupula nyala rindumu yang sembuh



2014

SCHEHERAZADE


: 1001 malam

paruh waktu rentangan potongan kisah yang dibentang
diam-diam, tubuh yang harga mati; dipertuankan demi
sebuah kebahagiaan--abadi, barangkali seperti surga
yang dibisikkan.

ia selalu hibuk dengan dirinya yang mengandung
potongan-potongan kisah itu. hibuk dengan dirinya
yang menumpahkan potongan-potongan lain
ke tubuh lain, sebab itu perlahan jadi juru selamat
untuk menggenapkan kutuk:
cinta adalah irisan malam-malam raja dan kekasih,
sekerat dunia cemas yang terus menerus didongengkan
tanpa tanda tamat



2014 

12.02.2014

TERSEBAB SINDU (TUAN PENDONGENG ANJING API)



dini hari dalam halaman-halaman bukumu
kutemukan seekor anjing menyalak di hadapan
dongengmu: malin kundang keluar dari nyala televisi
yang separuhnya hampir terbakar oleh kemarau panjang;

dunia kian riuh, sindu. malin tetap tak percaya benar
ia dikutuk ibunya – jauh di seberang pulau, laut jawa
yang perkasa  kini menyimpan suara-suara panggilan
burung-burung yang tak kembali. sarang yang semakin
tak mereka kenal, sebab kota-kota telah pengap
diikelilingi hitam sungai, pohon-pohon tumbang
digantikannya gedung-gedung bertingkat seribu satu

zaman yang berang, kekupu hanya menelorkan
kepompong-kepompong busuk, rama-rama
yang kehilangan rumah, kelelawar petang hari
mengunyah buah-buah doa yang ritusnya tak dijaga;
lalu gerhana yang katamu mengajak sangkuriang
mengaku dosa di depan wajah-wajah barbie
di salon-salon kecantikan – nah, ke mana anak-anak
sekarang mendandani diri dengan layar-layar video kekerasan
dan buku-buku pelajaran menjadi robot penyantap
mie instan?

ya
ya
...ya
sindu

dini hari aku melihat api di ketinggian 1000 kaki
lewat bahasamu mau kau apakan sejarah dan kisah
yang tak akan pernah bisa menjadi abu;
barangkali hanya ada sayup gonggong anjing dari kejauhan
melihat negeri yang ngeri dilupakan tuannya



2014

DESEMBER YANG IBU



dini hariku semakin dikutuk lamis bengis, betapa tidak
musim menggelindingkan musim selanjutnya
menumpuk rindu-rindu yang bercakar kenangan;
udara basah selalu membikin kejadian diulang dan
berulang. tak ada hari baru sebenarnya;
langit yang sama, lalu saudara-saudaranya
mendung, gerimis, hujan, rembulan dan matahari
yang tak mampu menembus kegelapan awan.

aku yang payah masih saja setia mengasuh aku yang luka;
aku yang sunyi sedang menunjukkan jarum desember
bulan perkasa yang hendak membenamkan bengis ini dan itu
ke dalam pusar waktu tempat perasaan-perasaan berdiam,
melesapkannya ke tanah: rahim yang menerima
menyusui melahirkan dan melebur segala nasib



2014

11.30.2014

PASS ON*


Sumber gambar: Button Poetry


Saat meraba-raba ingatan delapan hal yang hilang:

Satu. Kita kapal-kapal. Kita ruang-ruang. Kita bagian yang begitu kurang penting atas hal-hal yang bernaung dalam diri kita.
Kita sepanjang papan-papan sirkuit, menelan listrik demi hidup pada kelahiran.
Menggelindingkan roda hari-hari kita; mencipta setiap peristiwa,
detak nadi sebuah kisah, menggerakkan kerja dan cinta dengan halus.
Pada saat-saat terakhir kita, akan tiba keramaian
dari dada-dada kita dan lalu dikembalikan pada angin.
Ketika kita mati. Kita pergi ke segala penjuru.

Dua. Newton mengatakan energi tidak diciptakan atau dileburkan.
Di aula sekolah menengah aku masih bisa dengar
kawanku Steven menyanyikan lagu favoritnya.
Dalam gimnasium aku masih bisa mendengarnya
bagaimana dia menggiring bola basket seperti sebuah godam
dan tanah memantulkan suara seperti sebuah gambang.
Dengan condong telinga menuju Atlantik aku bisa mendengar
Titanic Band bermain untuk lelapnya,
Musik. Angin. Musik. Angin.
Jika kau mendengar lewat angin, kau dapat mendengar musik ribuan tahun dan kau 
tak terlampau berat untuk menhisapnya.

Tiga. Hari kakekku tiada di sana ada hembus angin sangat kencang,
Aku bisa merasakan tangan lembut yang bertiup dariku.
Aku tahu mereka sedang beranjak menemukan seseorang
yang membutuhkan mereka melebihi aku.
Rata-rata 1,8 orang mati per detik di bumi.
Selalu ada nafas angin di suatu tempat di sana.

Empat. Hari Steven dibunuh
segala sesuatu yang membuat kita mencintainya mengucur dari luka pisaunya
seolah-olah dadanya jelma sebuah auditorium
hidupnya seluruh penonton yang meninggalkan barisan utama.
Setiap ons beratnya telah membungkus seluruh dunia dalam sebuah badai.
Aku telah mencari dia sepanjang 9 tahun.

Lima. Tubuh kita tidak lebih dari tuan yang mengumpulkan hal-hal brilian.
Ketika seseorang tiada aku tak meratapi polaroid atau sebangsanya,
aku mulai mencari cahaya kilat yang telah menanggalkan mereka.
Aku merasa menyentuh angin sepoi lalu berhenti berlari.

Enam. Setelah 9 tahun aku menemukan Steven.
Aku melewati lapangan basket di Boston
point guard digiringnya seolah ia memiliki stadion yang menderu di telapak tangannya
Wilt Chamberlain yang memompa kakinya,
tangannya berkelip seperti sinar-x,
sebuah cross-over, sebuah cross-over, sebuah wrap-around
rewinding, turn-tables yang retakannya terbuka.
Kameramen menyulap lampu flash menjelma kembang api.
Tujuh pertandingan dan ia tak pernah melewatkan pun satu tembakan,
tangannya berkemilau.
Berdenyut. Bergetar.
Aku bertanya berapa lama ia telah bermain,
9 tahun katanya.

Tujuh. Teori enam derajat pemisahan
tidak pernah dimaksudkan menunjuk berapa banyak orang yang dapat kita temukan,
melainkan serangkaian petunjuk bagaimana menemukan orang yang telah hilang di sekitar kita.
Aku mendapati paraumu Steven,
mendapatinya di tubuh seorang anak muda di Michigan yang selalu bernyanyi,
yang paru-parunya mengepak seperti layar-layar kapal
Aku menemukan senyumanmu di Australia,
seorang gadis muda dengan gigi bersinar seperti gedung opera di lehermu,
Aku menemukan cinta sejatimu yang datang berdiri di atas aspal Boston.

Delapan. Kita tak diciptakan atau dileburkan,
kita terus-menerus ditambah, diganti dan diperbarui.
Segalanya yang kita terima semata untuk kita.
Kematian tak datang ketika tubuh terlalu lelah pada hidup
Kematian datang, karena kecemerlangan dalam diri kita hanya bisa terkandung begitu lama.
Kita tidak mati. Kita berjalan terus, berjalan terus melewati pembakaran hidup melalui tenggorakan kita.
Ketika kau meninggalkanku, aku tak akan meratapimu
Aku akan berjalan menuju angin paling kencang yang dapat kutemui
dan menyambutmu. Di rumah.


*Ditulis oleh Michael Lee (seorang pegiat slam poetry, seorang terapis puisi) yang pembacaannya didokumentasikan oleh Button Poetry ( https://www.youtube.com/watch?v=0JAq6VpmgB0). Dialihbahasakan oleh Ganjar Sudibyo (Semarang, 2014).

11.29.2014

TERAPI PUISI*



Oleh: Hirsch Silverman**

“...puisi berada
dalam hati semua manusia.”

Thomas Carlyle

Sumber gambar: https://frombehindthepen.wordpress.com/tag/poetry-therapy/



Orang-orang di seluruh dunia memilih puisi untuk melepaskan emosi—sebagai harapan dalam menghadapi keputusasaan, untuk memperoleh kenyamanan ketika menghadapi stres, sebagai inspirasi ketika menghadapi kebimbangan. Akhir-akhir era ini, banyak terapis (psikolog, psikiater, pekerja kesehatan mental, ilmuwan perilaku) yang mengakui puisi sebagai sebuah kekuatan, bahasa yang halus, instrumen penyembuhan—penyemangat, pembebas dan penenang perasaan-perasaan yang bergejolak dari jiwa tak sehat dan dari sisi emosional individu yang terganggu.

Terapi puisi memberikan penerangan pada sisi gelap pikiran. Yang kemudian menekankan bahwa pengalaman puitik sebagai sebuah bagian penting dalam ilmu psikologi, pendidikan dan program rehabilitasi. Penggunaannya (terapi puisi) yang spesifik sebagai sebuah alat yang valid dalam mencipta kreativitas bagi pergolakan ilmu psikologi. Dalam praktik profesional, puisi dapat digunakan sebagai sebuah pemeriksaan psikodiagnostik untuk menilai keadaan tak sehat, fungsi kepribadian dan modifikasi perilaku. Terapi puisi mencoba untuk membawa kepada kesadaran yang mendasari munculnya ketegangan dan kecemasan, dengan demikian ilmu psikologi menawarkan kenyamanan dalam mempercepat proses penyembuhan. Melalui proses membuka pikiran individualitas pasien, proses ini juga membantu terapis-psikolog untuk mengenal atribut dalam bentuk kepribadian pasien.

Dalam melakukan treatment terhadap pasien yang menderita dari ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan, dan depresi, puisi dapat dibaca dan ditulis secara individual, berpasangan maupun berkelompok. Ini adalah cara terbaik yang digunakan para terapis guna mempengaruhi persepsi mereka tentang pasien. Sebuah kesadaran dari dalam diri berkaitan dengan kebutuhan dan cara-cara mencari untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka adalah dasar bagi terapis puisi, sebagaimana mereka tidak memisahkan antara kesadaran dan peran sosial dengan semua ekspektasi-ekspektasi mereka. Banyaknya wawasan diri adalah prasyarat kebijaksanaan terapis yang nantinya digunakan untuk diri mereka sendiri. Melalui pemilihan puisi-puisi yang berkaitan dengan filsafat dan psikologi stres, yang memaparkan pikiran bermasalah dengan penghiburan, dan dunia perasaan moral yang salah, terapis dapat memodifikasi, menghapus, atau memperlambat gangguan-gangguan.

Puisi adalah salah satu sumber daya alami yang dimiliki oleh manusia untuk penyembuhan. Dalam konteks ekologi manusia, puisi dapat menjadi sebuah pengaruh yang konstruktif untuk memelihara keseimbangan energi-energi dalam diri manusia.

Efek penyembuhan lebih dimungkinkan terjadi ketika pasien menullis puisi dengan spontan. Ketika pasien bebas bermain kata-kata dan imajinasi, mencampurkannya, menyusunnya, mendengarkannya dan memandangnya. Lebih dari itu, menulis spontan akan memunculkan rima, ritme, imajinasi visual, repetisi dari suara-suara. Pendekatan ini menjelaskan lebih lanjut bahwa sebuah puisi tidak dinilai dalam hubungannya dengan kesusastraan, moral dan nilai estetik, atau menyangkut apakah puisi disukai dan tidak disukai. Dalam menulis spontan, format dan struktur puisi-puisi tidak dibuang; malah sebaliknya mereka akan muncul dengan sendirinya.

Pembacaan puisi serta penulisan puisi adalah kekuatan bagi penyembuhan. Ada tiga kondisi yang menawarkan penyembuhan melalui pembacaan puisi. Pertama adalah bahwa puisi harus dibaca kata demi kata, agar irama dan sajak, asonansi dan aliterasi dapat dihargai. Kualitas-kualitas akan hilang jika puisi dibaca sambil lalu. Kondisi yang kedua adalah bahwa puisi itu harus didengar. Salah satunya dapat mendengarkan puisi yang dibaca oleh orang lain atau mungkin membacanya keras-keras untuk diri sendiri atau mungkin "mendengar"kannya dalam pikiran seseorang sebagai salah bagian dari membacanya diam-diam. Kondisi ketiga untuk penyembuhan adalah seperti apa yang disebut Jack Leedy (1969) sebagai "iso-principle", yang berarti bahwa perasaan puisi harus sama dengan perasaan orang yang mendengar puisi itu. Meskipun demikian, mungkin memerlukan waktu untuk dapat bekerja terhadap pemenuhan kebutuhan seseorang. Apabila seseorang merasa putus asa dan membaca sebuah puisi putus asa tanpa harapan yang mendasarinya, perasaan seseorang mungkin akan semakin galau. Apabila terlalu banyak keputusasaan yang dirasakan, kita bahkan bisa berhenti membaca sebelum tiba di bagian membagikan harapan lebih dari puisi itu. Apabila seseorang tidak merespon sebuah puisi, kita harus menghentikan membaca dan membalikkan halaman puisi atau penyair lain, seolah-olah melihat ke atas menu untuk sesuatu yang menarik. Puisi dengan tema-tema sedih tetap harus memiliki bait yang mencerminkan optimisme.

Puisi digunakan sebagai sarana komunikasi antara terapis dan klien. Puisi akan menjadi landasan bersama dalam sebuah dialog yang mencari alternatif penyelesaian konflik. Ini tidak berarti bahwa terjadi pembicaraan yang tak ada habisnya. Pentingnya pikiran jernih yang dapat terjadi secara alami dalam pertimbangan kebenaran puisi itu harus diterima. Puisi yang dipilih harus atraktif baik bagi terapis maupun pasien.

Terapi puisi dengan cukup sukses digunakan untuk mengatasi kegelisahan dan depresi. Pasien rehabilitasi akan difokuskan pada langkah pembacaan; puisi menawarkan perasaan depresi dengan contoh-contoh bertema harapan. Dalam langkah terapi, pasien didorong untuk menghafal puisi sehingga mereka dapat menarik krisis yang mereka hadapi untuk kemudian memperoleh hasil (kesembuhan) yang diinginkan. Pasien membaca, belajar, membaca-ulang, menafsirkan puisi dan mengakui bahwa mereka tidak sendirian dalam masa keputusasaan mereka. (Puisi sering berhasil digunakan adalah " I’m Nobody " karya Dickinson, "The Road Not Taken" karya Frost, " Ode on a Grecian Urn" karya Keats, dan " I Celebrate Myself '' karya Whitman).

Para pasien menekuri puisi yang berisi prosa dan mimpi. Sebab puisi adalah jalan keluar yang lain menuju ketidaksadaran. Pasien memiliki katarsis dalam melepaskan perasaan tertekan, dan kemudian muncul intensi yang diungkapkan secara tak sadar. Keinginan bunuh diri secara langsung dapat dideteksi, hal tersebut yang sering pasien ungkapkan. Dengan kata lain bahwa mereka ingin mengatakan supaya mereka diselamatkan.

Terapis harus berusaha menggunakan puisi dengan tema-tema yang mendalam dan luas. Puisi membutuhkan pemikiran, banyak keheningan, dan semua perasaan yang tulus yang alamiah dari masing-masing individu. Bagi penyair (yang ahli dalam menciptakan puisi), hidup kadangkala agung, kadangkala tanpa harapan, berbahaya dan menakutkan. Terapi puisi harus mengeksplorasi tema-tema ini dan kemudian pengaruhnya terhadap konflik yang dialami oleh pasien. Terapis menjelaskan dan membuat saran sebagai solusi yang berangkat dari permasalahan. Upaya ini dilakukan untuk memecahkan karakter tersembunyi, membantu pasien mendapatkan kekuatan batin dan memampukan pasien untuk mengarahkan jalinan baik hubungan mereka dengan orang-orang. Meskipun individualitas sering ditekankan dalam teknik terapi, integrasi sosial ke dalam masyarakat tidak dapat dikesampingkan dari realitas.

Fungsi tertentu puisi untuk terapis harus memindahkan emosi dan untuk membawa pikiran. Pikiran itu harus mendominasi kata-kata; penyair  dengan penuh harapan telah berusaha memandang kedalaman daripada hanya permukaan. Dalam puisi, jika ingin menjadi vital dan dinamis, harus ada pemantik suasana hati, aksen dan gambar dalam intensitas yang segar. Puisi lebih dari sekedar seni; puisi mencakup seluruh rentang pengalaman manusia dan ruang takdir moral. Oleh karena itu, puisi terapi harus mewakili sesuatu yang lebih dari pengungkapan secara lisan; dengan demikian harus menggabungkan fragmen-fragmen personalitas daripada keterampilan-keterampilan retorikal (dalam membaca puisi). Garis penyair membantu untuk mengaktifkan pencarian pasien atas realitas dan penegasan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena penyair cenderung menyibukkan diri dengan tema-tema kehidupan dan kematian. Bagi pasien, karya-karya penyair (puisi) barangkali dapat mengasah beberapa aspek kehidupan: keindahan, cinta, ketenangan pikiran. Demikian puisi dapat mengembangkan sebuah kesadaran baru dalam merasakan sesuatu.

Terapi puisi bergerak ke dalam jiwa orang tersebut perlahan dan diam-diam, demi membuat individu merasa lebih baik, lebih baik, lebih baik, sebagai media pencarian diri. Shelley melihat puisi sebagai "gambaran yang sangat hidup yang diekspresikan dalam kebenarannya yang kekal." Puisi, di satu sisi dapat memantik potensi kecerdasan seseorang, juga memiliki dasar keindahan yang merawat moralitas dalam diri secara alami. Mungkin ini terlampau idealis serta individualis. Namun, keaslian dapat ditemukan dalam puisi-puisi yang berfokus pada kemampuan abstraksi seseorang.

Terapis menyadari bahwa puisi merupakan sebuah representasi dari sebuah gagasan. Di lain sisi, meliputi konten dan karakter yang "ideal", dan idealisme ini sangat erat kaitannya dengan individualisasi yang bertumbuh secara signifikan. Semakin banyak kita tahu tentang fenomena yang berikaitan dengan interpersonal, intrapsikis, tubuh, energi dan transpersonal, semakin banyak mendapati prinsip-prinsip yang mendasari pertemuan dan penyatuan diri melalui terapi puisi.

Mengaktualisasi terapi secara kreatif melalui puisi menciptakan sebuah inti dimana polaritas perasaan disintesis. Pendidikan holistik dalam setting puitik berkembang dalam pikiran. tubuh, emosi, imajinasi. intuisi dan semangat. Sebagai terapis, kita harus mengeksplorasi pengembangan dan integrasi dari masing-masing fungsi tersebut melalui pengembangan konsep diri, kesadaran sensoris, kesadaran gestalt, fantasi terkontrol, psikosintesis, afirmasi dan pemikiran individual.

Hambatan dan emosi negatif dapat dibuka melalui terapi puisi dan energi yang berharga dalam diri kita, yang kemudian digunakan untuk menjalin interrelasi secara mendalam. Menjalani psikoterapi melalui puisi sebagai pembuka kunci energi psikis membuat orang semakin terbuka untuk mengalami pertemuan-pertemuan yang lebih intens antara fisik, emosional dan spiritual.

Puisi digunakan oleh seorang terapis yang memiliki daya sensitivitas, sehingga dapat menenangkan pikiran yang berkecamuk ketika memberikan ungkapan-ungkapan emosional. Terapi puisi dipandang sebagai pekerjaan rehabilitasi yang dicapai dengan kombinasi ilmu pengetahuan dan seni. Terapis puisi akhirnya harus menyadari bahwa orang dengan kesulitan-kesulitannya adalah buah dari kesulitan dirinya sendiri dan ekspektasi dari proses terapi tersebut barangkali dibatasi oleh resistensi individu atau ruang lingkup gangguan psikisnya.

Melalui terapi puisi, seorang ahli klinis dimungkinkan berhasil mengobati kecemasan, kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian diri, gangguan-gangguan psikosomatis, fobia, gangguan hubungan interpersonal, gangguan perkawinan, keragu-raguan untuk terlibat dalam kegiatan hidup, perilaku antisosial, ketidakmampuan untuk menjalin interaksi dengan orang-orang, kebingungan, konflik, malfungsi kepribadian, dan fenomena psikologis pada umumnya.


* Sumber Jurnal: The Arts of Psychoterapy, vol.13 pp.343-345, 1986, USA. (Dialihbahasakan secara bebas oleh Ganjar Sudibyo, S.Psi.)
**Hirsch Silverman, seorang profesor emeritus, divisi pascasarjana, Universitas Seton Hall, dan Direktur Nasional Konselor Akademi dan Terapis keluarga, Hirsch juga seorang pengarang berbagai buku dan artikel.



semarang, 2014