PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

2.06.2016

STANZA MENCINTAIMU




cerlang matamu yang hendak mengabarkan alamat lain
adalah sepatah kecap lidahmu yang disembunyikan waktu
kemarilah, aku tak butuh sajak-sajak picisan dengan kamus tebal
maka aku memutuskan untuk tidak berpihak pada sunyi yang lain
menerjemahkan gerak nasib di atap ratap sebelum dinding batu dipatuk lelatu
sebab dalam rohaniku jiwa ini bersikeras menyatakan rindu-rindu itu gagal
sejak kutanam musim demam yang menggusur seluruh bangunan suci di tubuh
lalu cinta kudirikan seperti pemandangan sesaat kita bersepakat ingin jatuh



2016

Sumber foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1139724566040033&set=a.843738915638601.1073741851.100000075020855&type=3&theater



2.05.2016

MAKING DO**




Syahdan, ada sebuah kota di mana segala sesuatu dilarang.

Kini, sebab satu-satunya hal yang tidak dilarang adalah permainan tip-cat*, masyarakat kota biasa berkumpul di padang rumput di belakang kota. Mereka menghabiskan hari-hari di sana dengan bermain tip-cat.

Ketika aturan-aturan yang melarang hal telah diperkenalkan mereka pada suatu waktu dan selalu mendapat respons yang baik dari masyarakat, bahkan tidak seorangpun yang dijumpai membawa keluhan atau protes. Polisi daerahpun merasa tidak sulit untuk membiasakan mereka dengan aturan-aturan.

Tahun-tahun berlalu. Suatu hari para polisi daerah memandang bahwa tidak ada lagi alasan mengapa segalanya harus dilarang, lantas mereka mengirim utusan untuk memberi kabar kepada masyarakat bahwa mereka boleh melakukan apapun yang mereka kehendaki.

Para utusan pergi ke wilayah-wilayah di mana masyarakat kota berada untuk berkumpul.
"Dengarlah, Dengarlah kalian", mereka mengumumkan, "mulai saat ini tidak ada yang dilarang lagi."
Orang-orang sedang hibuk-hibuknya bermain tip-cat.
"Kalian ngerti? "Utusan bersikeras. "Kalian bebas untuk melakukan apa yang kalian kehendaki."
"Baik, "jawab masyarakat. "Kami sedang bermain tip-cat. "

Para utusan berusaha semaksimal mungkin mengingatkan mereka bahwa ada banyak pekerjaan yang bagus dan berguna mereka yang mana pernah terlibat di dalamnya dan sekarang bisa terlibat lagi. Namun masyarakat kota tidak akan mengindahkan itu. Mereka terus bermain dan bermain, pukulan demi pukulan, bahkan tanpa berhenti untuk sekedar istirah.

Mengamati bahwa upaya mereka sia-sia, para utusan pergi untuk memberitahu para polisi daerah.
Dengan gampang para polisi daerah bersepakat, "Mari kita larang permainan tip-cat."
Saat itulah orang-orang mulai memberontak dan membunuh sebagian besar dari para polisi daerah itu.
Kemudian tanpa menyia-nyiakan waktu, mereka kembali bermain tip-cat.


*Tip-cat adalah permainan yang diperkenalkan oleh kolonial Inggris pada awal abad ke-17 di Amerika Utara. Kemudian populer di Inggris pada abad 19. Permainan ini semacam kasti dan kriket hanya saja menggunakan tongkat dan sepotong kayu. (sumber: britanica.com)
**Cerpen karya Italo Calvino (dalam e-book The Complete Cosmicomics--Translated in english by Martin McLaughlin, Tim Parks and William Weaver) ini diterjemahkan oleh Ganjar Sudibyo, 2016.
***Sumber foto: https://www.flickr.com/photos/39981363@N04/6924136837/sizes/l


2.04.2016

EKARISTI / n / PUISI BUKAN MILIK SEMUA




Judul: Ekaresti
Penulis: Mario F. Lawi
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: I, Juni 2014
Jumlah halaman: XII + 93
ISBN : 978-602-9481-67-9


Orang awam yang jarang membaca buku (pun di luar anggota gereja) pastilah banyak yang tidak tahu tentang kosa kata yang menjadi judul sebuah buku kumpulan puisi dengan kemasan cukup apik ini. Pembaca memerlukan waktu untuk membuka kamus atau mesin pencari guna memperoleh penerangan soal ekaristi.

Mario adalah mantan seminaris yang divonis tidak dapat melanjutkan pendidikan imamnya karena suatu penyakit. Latar belakang yang demikian tentu turut menjadi kontribusi bagi Mario. Ia dengan segala daya upayanya memasukkan unsur-unsur biblis (kitab suci) dan simbol-simbol dalam perayaan gereja. Selain bahwa Mario hidup di lingkungan yang barangkali nyaris setiap hari ada waktu khusus yang digunakan untuk menulis, Mario tekun dalam megasah pundi-pundi talentanya. Mario mengizinkan dirinya terseret oleh iklim di luar dirinya yakni pengetahuan dan pengalaman yang ia serap selama bertahun-tahun. Keberadaan buku ini menegaskan bagaimana ketekunan Mario dalam meresapi pengalaman, cerita dan simbol-simbol gereja.

Apakah hal-hal yang berusaha dirangkum Mario ke dalam puisi adalah sesuatu yang sophisticated menimbang bahwa tema-tema yang ia sodorkan ke pembaca jarang digarap penulis lain di Indonesia? Tunggu dulu, tidak semudah itu untuk membawa karya ini ke irisan avant garde dalam sastra meski di antara para penulis dari Indonesia bagian timur, Mario bisa dikatakan menonjol dalam hal publikasi karya di media cetak nasional. Buku ini sebagian memuisikan kisah tentang Zakheus, Ararat, Magdalena, Rafael, Samuel, Yusuf, Nuh, Musa, Zakharia, Saulus. Syahdan, Mario menjadikan nama-nama tersebut sebagai bahan utama menulis puisi. Selain itu, simbol-simbol dalam kitab suci dan perayaan agama Katolik, seperti Pentakosta, Quo Vadis, Homo?, Via Dolorosa, Getsemani, Nazaret, Kyrie, Sakramen, Perjamuan, Requiem, Adventus, Paskah, Angelus, Wirug, turut dihadirkan. Walaupun demikian, istilah-istilah tersebut masih terbatas istilah judul, belum mengenai isi puisi yang dikandungnya. Bisa saja, pemberian judul berseberangan dengan isi. Hal ini sangat mungkin terjadi, dan sering terjadi dalam puisi-puisi yang kian jamak di indonesia kini. Demikian memungkinkan hal tersebut muncul di puisi-puisi Mario. Dugaan ini menyisakan seputar kejelian dalam membaca karya sastra, terutama puisi.

Ada dua teknik penulisan dalam sebagian besar puisi-puisi Mario di dalam buku ini. Teknik gaya bahasa alusi atau disebut dengan kithtavi, eponim dan metonimia. Kedua teknik ini hampir sama, namun jika digali lebih akan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Istilah yang digunakan oleh Mario dalam puisi-puisinya mengandung kedua teknik ini. Salah satu nukilan puisinya yang menggunakan teknik metonimi: “Ke matamu yang ceruk, Tobia berenang” (Adventus). Sedangkan nukilan yang menggunakan teknik alusi salah satu contohnya: “sedang Adam tersedu sendiri / menyaksikan Eva / melahirkan bayi-bayinya” (Ruang Tunggu, 2). Teknik eponim digunakan dalam nukilan berikut: “meletakkannya demi menjaga langkah para Majus.” (Fragmen Natal)  Ketiga majas itu masif digunakan oleh penulis untuk mengolah materi yang dibawakan. Terlepas bahwa apakah penulis sadar menggunakannya atau tidak, ketiga teknik itu sering muncul dalam puisi-puisi Mario.

Pembaca yang baik tentu bisa merasakan tenaga Mario dalam mengemas isi Alkitab cukup besar, kekuatan Mario ditunjukkan dengan tema-tema tersebut yang terarah dalam buku ini. Ekaresti identik dengan eksplorasi-eksplorasi teks yang menggubah dari pengalaman pembacaan biblikal dan dibumbui dengan sentimen pribadi (latar belakang kepercayaan jingtiu termasuk di dalamnya). Membaca Ekaristi tanpa mengenal seluk beluk kisah-kisah dan simbol-simbol gerejawi akan membawa pembaca merasa di dalam ruangan baru dengan benda-benda yang nampak memendarkan kilat indahnya tanpa tahu nama, sejarah, dan kegunaan benda itu. Hal ini yang membuat pembaca hanya bisa duduk diam merasakan saja tanpa memikirkan karena bisa berujung pada sesat pikir.

Segmen pembaca buku ini pasti terbatas. Mario tidak menulis untuk pembaca. Mario menulis untuk dirinya sendiri dan barangkali kalangannya. Sebab itu, percayalah, puisi hari ini bukan untuk semua.


2016
*Resensi ditulis oleh Ganjar Sudibyo



KUATRIN SCHEHERAZADE





: 1001 malam

paruh waktu, negeri pada jeda itu, setelah persiamu  
istana yang diam, tubuh hidup dan kematian; tanah kaki
sebuah kebahagiaan, mengangkang seperti surga-dukamu
yang dibisikkan angin gurun sebelum tubuhnya terisi

pikirannya selalu hibuk sebab dirinya kadung mengandung
perkara raja-raja arab yang nasihatnya tak pernah mujarab
malam menumpahkan potongan sakit di pelukannya yang cekung
tubuh lain, ibunda, meniadakan juru selamat telah kirab

bulan kelewat sabit menggenapkan nasib di ujung kutuk
--cinta, ialah irisan ribuan malam dan sampiran patah-pepatah
dunia yang cemas sebab pintu-pintu rumah menolak diketuk
suatu negeri bertahan: tubuh anak-anak cengeng, dongeng berkilah


2014-2016 
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/521925044291092940/

2.01.2016

KUATRIN IBU


ketiak yang memberi napas-rangkak pada sepasang kakimu
pundak yang mengayunkan tahir-takdir pada sepi-sepimu
bau bubur yang pertama kali dikecap lidah, sebagai asah
segala tabiat kelaparanmu dan bayangan yang resah

musim menggantikan putingnya, menyusuimu dengan kerja
mengantarmu pada kibasan perjalanan-perjalanan tak tampak
musim mencubit seluruh kesadaranmu dengan duka durja
agar kamu terhindar dari tunas perasaan-perasaan rusak






2016
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/483151866246401809/

1.31.2016

SEPTIME KENANGAN



gosok gigilah sebelum kamu rebah di ranjang
sebentar aku memacak wajahku jadi bulan terang
memakai pelembab kulit supaya pori tak berkarang
sudah sudahilah kerjamu yang sama dan tanpa jeda
aku telah siapkan kosmetik doa untuk kita yang buta
setelah suntuk memasang dengung lagu-lagu cinta
mempercayai pertemuan sederhana tanpa salam perpisahan

gosok gigilah sebelum kamu rebah di ranjang
biar napasmu wangi melumuri pandanganku seorang
kita sama-sama rindu membikin telur setengah matang
tetapi hanya di sinilah kita dirikan jiwa tahan goncang
bertahun lamanya kita meniadakan masa depan penuh ancaman
bertahun kita lupa cara mengatakan sesunguhnya hingga kemudian
bersama sunyi, tuhan mencipta kenangan untuk dirayakan


2016
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/413205334535648620/

1.28.2016

SEKTET KEGELISAHAN


jika kegelisahan itu padanan tanda cinta, kata layla
maka tak ada yang mampu mencuri batas-batas
semacam napas yang dialirkan majnun menuju bebalnya
perasaan; semisteri kematian yang ditaklukkan iman
romeo dan julia. lalu tanda cintakah yang sekali lagi
menunjukkan bahwa sesuatu kerap kali dihakimi manusia?

musim mekar dan gugur sementara, kita tak habis-habisnya
menerjemahkan hasrat beserta seluruh tema besar
di dalamnya; pukulan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini
dijatuhkan angin dari tingkap pohonan di waktu pagi:
basah di dada, iba di muka. siklus napas berkaki secepat
gelisah menunggu abu musim-musim reda selagi tiba


2016












1.26.2016

SEPERTI BERKULIT SALJU


kehilangan. silsilah kata gelap dalam kamus.
hari-hari yang lapar di pikiran yang bunting
manusia berjalan sendiri-sendiri, nasib genap;
maukah kamu seperti angin di atas pohonan
jatuh bersamaku?

seperti tanda: bergerak tanpa jeda, bahasa
terlahir dari hasrat, perasaan untuk memeluk
ketidakpastian yang pasti. hasrat diciptakan
dengan sangat dingin dari perpanjangan tangan
rekaman perpisahan. seperti tanda: bergerak
tanpa jeda, ingatan-ingatan itu terlalu deras
melampauimu

bicaralah saja dengan pohonan, sebab angin
tak kuasa mengucapkan reranting yang ia
patahkan. bila hidup soal mengejar,
yang lalu akan mudah terbakar. bicaralah saja
dengan pohonan, sampai kita lupa bagaimana
menyisihkan dendam atas kesempurnaan
yang dirampas

barangkali kita terlalu bahagia, memasang
tenda-tenda sebagai mukim para penjajah
menukar emas dengan kulit rusa. kita terlalu
bahagia mendirikan pohonan yang terbuat
dari akar pagi; sebelum semuanya jatuh
dan di langit hanya ada api

masa seperti berkulit salju, darah yang disesap
napas yang dihisap, seluruh indera mengingatmu
telah cacat; pandangan yang gelap. ia yang terus
memata-matai tidur nyenyak, mimpi buruk
para makhluk. peristiwa sebeku rindu, semisteri
kematian. tanda tidak akan pernah istirah

sebab aku memang belum mengucapkan sesuatu
kepadamu duka raya sebuah masa:
kita yang bersepakat untuk jatuh dari tujuh tingkap,
membayangkan surga di himpit rusuk-rusuk kehilangan



2016

1.24.2016

PROSES KREATIF MENUNTUN STRES SEBAGAI EUSTRES*


Judul : Writing for therapy
Penulis : Naning Pranoto
Cetakan :  I, 2015
Penerbit : Buku Obor
Jumlah Halaman : xv + 187
ISBN : 978-979-461-949-0


Stres adalah istilah yang biasa muncul di benak tiap-tiap orang yang sedang menghadapi gesekan antara kenyataan dan angan-angan. dr. Handrawan Nadesul dalam prolog buku ini memaparkan bahwa stresor pada manusia milik segala umur, selalu menghadang setiap saat, dan meruntuhkan kalau jiwa kita ridak tahan banting. Stresor merupakan objek yang menjadikan manusia mengalami keadaan stres. Istilah stres yang dikaitkan dengan terapi menulis tidak bisa dipisahkan dalam dunia psikologi, meski banyak penelitian-penelitian non-psikologi bermunculan dari berbagai sumber.

Buku ini sebenarnya tidak fokus pada teori-teori cara penanganan stres, tetapi langsung pada bentuk praktik menulis yang diharapkan bisa membantu untuk menyehatkan jiwa. Naning menyediakan 11 lembar praktik terapi menulis. Tentu yang dimaksud di sini adalah menulis dengan alat tulis, bukan menggunakan komputer, laptop atau gadget lainnya.

Terapi menulis sudah lama digunakan sejak era psikoanalisis muncul. Seorang psikolog dari Amerika membuktikan dalam penelitiannya pada abad milenium bahwa menuliskan perasaan-perasaan dapat membawa pengaruh positif terhadap sistem kekebalan tubuh. Menulis perasaan-perasaan negatif, misalnya akan dapat meredam emosi dan menyembuhkan ketidakseimbangan emosi yang ada pada diri seseorang. Bahkan bisa meredam gejala-gejala penyakit kronis, misalnya serangan asma. Sebuah jurnal penelitian di Indonesia pada tahun 2012 menyatakan bahwa dengan menulis ekspresif, seseorang akan dapat meningkatkan pemahaman bagi diri sendiri maupun orang lain dalam bentuk tulisan. Selain itu meningkatkan kreativitas, ekspresi diri, dan harga diri, memperkuat komunikasi dan interpersonal, mengekspresikan emosi yang berlebihan (katarsis), menurunkan ketegangan, dan meningkatkan kemampuan individu dalam beradaptasi dan menghadapi masalah.

Menulis secara kontekstual dapat diartikan sebagai bentuk yang khusus dari komunikasi (baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain), menulis juga mengembangkan pikiran dan menimbulkan kesadaran akan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Fokus terapi menulis adalah pada proses menulisnya bukan pada hasil tulisannya. Menulis ekspresif seperti yang ditawarkan Naning dalam buku ini membutuhkan privasi, bebas dari kritikan, bebas dari aturan tata bahasa dan sitaksis. Artinya, dalam hal ini tidak perlu mempelajari teori yang berjibun sebelum menulis. Demikian, maka penting untuk menyadari perihal menulis yang dimaksud dalam buku Naning. Terlepas dalam buku tersebut ditampilkan berbagai kilasan para penyair besar (dari Seneca, Kahlil Gibran sampai Maya Angelou), yang mana sebenarnya tidak lain sebagai pembungkus untuk sampai pada inti: menulis adalah terapi. Semata-mata terapi.

Naning menyajikan tahapan-tahapan terapi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca --terutama mereka yang ingin menjajagi proses ini--, bahasa-bahasa yang kental dengan motivasi menjadi ciri bahwa apa yang hendak digarap tidak jauh-jauh dalam rangka kesehatan dengan k besar. Kandungan lain dalam buku ini sebenarnya masih terasa campur aduk, tumpukan kata-kata mutiara dengan desain layout yang dapat dikatakan cukupan bisa menjadi keterbatasan. Oleh karena itu, barangkali penting disarankan bahwa pembaca perlu tutor atau paling tidak partner ketika mulai memetik faedah dari buku ini.

Di bagian akhir, Naning menawarkan catatan harian yang penuh manfaat sebagi langkah bersambung dari 11 praktik terapi menulis. Tentu tawaran ini menjadikan bahwa praktik terapi masih berlanjut. Buku ini baru pertama kali ada di Indonesia dan ditulis oleh seorang praktisi terapi sekaligus penulis karya sastra. Ada baiknya untuk tidak melewatkan buku ini begitu saja, mengingat pentingnya mengelola stres dengan menulis akan mengubah hal negatif menjadi positif yang biasa disebut eustres. Dengan catatan sembari menikmati aliran proses kreatif menulis tanpa berekspektasi untuk melahirkan karya serius.



Semarang, 2016

*Resensi ditulis oleh Ganjar Sudibyo 






1.23.2016

VARIASI PAGI

: menonton stars and rabbit

dalam bilangan ingatan saya, kamu ajak saya
bercanda: tapi saya tak bisa begitu. matahari menanak
awan-awan sepagi ini. pikiran saya agaknya rusak
seperti kabel-kabel speaker di pojok kamar.

waktu memang penuntun yang baik, menghadap
ke selatan di atas genteng-genteng rumah
angin bergerak seperti loncat kelinci; saya cemas
tapi dengan cemas saya ngerti, yang hilang
tetap bersandar di tempatnya. saya sadar

kamu barangkali masih ingat, meja bertiga, teras,
roti bakar dan kahlua. malam dan tanpa cukup bintang
telah mengungsi, menyusupi pagi yang sedikit buruk
seperti berita-berita yang terbaring di koran ibukota;

sore itu mendung dan hitungan lain: menonton dua orang
bercerita di halaman sebelum nyala cengkok lagu
dengan arakan binatang yang suaranya mirip gangsing.
alih-alih seseorang di samping mencoba mencubit saya:
apakah cuaca macam ini
masih bisa membikin kamu bersedih di pagi hari?

dalam bilangan ingatan saya, cara candamu yang begini
seperti kenangan yang susah ditertawakan


2016

1.22.2016

MENCARI KIVIUNG


semakin mengayuh semakin deras ia:
di dalam rumahmu di tengah jalan gerimis
di pinggir jalan hujan di pantai-pantai selatan
di pulau-pulau kosong di belantara
di badai-badai di cahaya-cahaya di remang-redup,
di kutub-kutub

sekencang-kencangnya ia
di waktu yang tak pernah sekalipun berbalik arah
ia tancapkan kesedihan dari licin kulit anjing laut
berenang-merangkak-lari-mencapai

hingga pada akhirnya ia kenakan harpun
menyeret masa lalu sebesar ikan paus

mencari kiviung masa kini
bumi jadi lambat berputar, sebab
manusia hanya bisa menangkap ikan teri


2016

1.21.2016

AURORA BOREALIS



adalah cahaya kecil yang terjebak
pada suatu kisah: yang terlahir dari masa lalu
yang saling kejar dan yang meniup nada
serendah-rendahnya; sebab yang menyala
hanyalah potongan-potongan permainan

adalah cahaya kecil yang menyesap
pada tubuh kanak-kanak: lipurlah, lipurlah
sepanjang langit menghisap kecemasan
yang bertubi dikembalikan manusia;
setelah mereka menyembunyikannya
dari duka semesta

yang terbentuk dari masa lalu
yang mengibaskan sunyinya
dari tengkorak kepala anjing laut:
dari napas musim tua

cahaya kecil mencipta gugusan
warna-warna yang gaib dan dewasa; lalu barangkali
penggal usia hanyalah mainan milik juru selamat


2016


*Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/452682200025997676/

1.18.2016

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA, KITA MENULIS CAHAYA"



Atas permintaan beberapa pembaca yang mana di antara mereka adalah pembaca baru, saya bermaksud mencetak ulang buku yang memuat sepilihan sajak saya: "Pada Suatu Mata, Kita Menulis Cahaya" (Epilog: Joko Pinurbo). Penerbit Garudhawaca adalah penerbit indie yang mencetak ulang buku saya ini pada akhir Bulan Desember 2015. Sebelumnya buku saya diterbitkan oleh penerbit indie penulismuda pada Bulan April 2013. Perbedaannya selain pernerbit dan tahun terbit adalah kemasannya yang lebih elegan. Jika Anda tertarik untuk membaca sekaligus memesan silakan kunjungi website berikut:

http://penerbitgarudhawaca.com/produk/pada-suatu-mata-kita-melukis-cahaya/




Atau bilamana Anda menginginkan tanda tangan plus salam dari saya, bisa pesan langsung ke saya dengan menghubungi 085740969199 (tentunya yang ini stok terbatas). Terima kasih. Salam kangen dan jabat erat dari saya :)



Semarang, 2016