PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

6.19.2010

SECEPAT APAKAH WAKTU DI GELAS KOPIMU


secepat apakah waktu di gelas kopimu
sehingga penungguan yang hidup sanggup
merayakan kegigilan sore

lalu,
kau memangil manggil cintaku yang endap
rinduku yang lindap

secepat apakah waktu di gelas kopimu
lihatlah! aku tak sabar menenggaknya
tanpa merasa pahit


tbrs semarang, 2010

6.18.2010

BILA LAUT TIADA


~ BILA kelak aku menjadi mayat

aku tak mau tersimpan di kota siapapun

sebab tak akan ada yang merasa kehilangan;

maka buanglah aku jauh jauh bersama tanah ombak

yang sudi mengubur siapa saja supaya tak ada nama

di nisanku


~ LAUT tempat akhir aku mengenal bahwa tak akan ada

ombak lagi di seberang jendela kamarmu yang nyala

oleh mercusuar mercusuar tua tanpa penjaga; katamu

“ kapal kapal sudah tak ingin merindukan dermaga,

kapal kapal hanya butuh nahkoda menuju kota-usia yang tenggelam”


~ TIADA sapa untuk setiap dengkuran ruang ruang gigil

ketika barat daya yang sunyi telah pergi ke tenggara; sebab

aku bersedia datang kembali bukan sebagai ramalan kematian

tetapi perancang arah matahari yang siaga

menatang pengganti bangkai bayi rembulan

supaya tak lupa arah nantinya ke mana aku harus

membangunkan kegigilanku sendiri



2010

6.06.2010

PENGHARAPAN TANYA PADA SEJUMLAH WAKTU


tertanda gelombang-jantungku: M.


“...simpanlah supaya kau ingat itu suaraku,

bukan yang lain...

(: gie)”


waktu pertama - 18:56 -

bagaimana tanya itu bisa terjadi bagaimana malam

bisa menyatukan gelombang gelombang jatuh

dari arah bulan sabit menuju jalanan genang air hujan

bagaimana nomor ponsel yang sudah teramat lama bisa

menjadi tanda awal bagi seluruh suara di ruang teramat

puisi ini,


bagaimana?

(ponselku yang diam, ternyata mengharap

rindu melalui kaca kaca jendela di belakangnya)


waktu kedua - 19:25 -

“....!”

apa kau tak peduli, sekedar membalas atau

membaca tentang bunyian kata kata yang sudah

kurancang setelah kuambil dari rusuk keadamanku

apa kau tak mau tahu dan rupanya kau hanya ingin

berteman dengan sepanjang isyarat kesementaraanmu

yang aku pikir kau bagian dari kamar yang tak perlu

orang untuk boleh masuk selain benda benda

yang kau anggap lebih dari fiksi


: kursi, meja, lampu belajar dan buku?


“...!”


waktu ketiga - 19:38 -

(tanyamu tak pernah ingin kusimpan begitu saja,

hilang bersama iringan gelombang)

aku menulis harapan palsu yang sebentar lagi mati

di samping manusia manusia yang tak butuh puisi

seperti pengkhianatan setahun lalu


: bolehkah pengkhianatan itu redam

olehmu?


waktu selanjutnya....

o, malam malam yang terbakar!

bagaimana aku melanjutkan setiap pagiku

mendadandaninya serupa mimpi

yang sehabis malam jadi abu


dan, layakkah aku mengibakan pengharapan

yang jatuh berkali kali dari arah bau bangkai bulan

hanya kepadamu?


(bersua pun kita hanya mimpi

dan pasti jadi abu-kota di pagi hari)


maka, kepada siapakah waktu

menggantimu?


- ah...barangkali, kau hanya menginginkan

sejarah auman itu -



“...jelas-jelas pintuku yang bertanda darah

sudah kubukakan...”

(:M.)”



Semarang, 2010

6.05.2010

JALAN SAJAK -1-


tertanda Jl. Gombel Lama

* I *

rumah rumah di kaki bukit tak banyak

mengungkapkan bagaimana jalanan aspal

memperkenalkan kepada setiap pengendara

garis garis marka yang luntur karena musim

si pencuri warna putih untuk dibagikan

pada ramalan awan yang merengek meminta

asap supaya tidak datang menjelma anak anak

polusi

-rumah rumah di kaki bukit ternyata sudah lama

menyimpan suara dari atap atap berlumut,

hanya saja jalanan belum mendengar:

“sebentar lagi longsor bisa saja turun”-


* II *

lapangan golf tak sekedar bangga pada warna

hijau pada telaga kecil pada telikung jalan

sempit pada mobil dan motor di depan nama

gapuranya, karena mereka sebenarnya bukanlah

mesin mesin penggusur hutan yang pernah menjadi

nenek-moyangnya seabad silam.

-lapangan golf tetap nampak anggun dengan segenap

kelengkapan permadaninya. demikian, ia tak akan pernah

menyesal pada gusuran dosa masa lampau-


* III *

adakalanya trotoar bukanlah tempat bagi

para pejalan kaki, sebab ia kadang buta; dibutakan

oleh lubang siang dari matahari yang lupa pada

apa ia membuat persembunyian bagi keyakinan

asing bahwasanya tak pernah ada jalan-sorga

untuk mengenang alamat tempat tinggal

para penyesal penghujan dan kemarau


* IV *

suatu ketika di bibir rumah tua

seorang pengendara menemu amplop lama

berisi nama jalan dan sajak kecil

:

“dua ribu sepuluh;

pada sisi sisi Jalan Gombel Lama

nafas nafas berarak rapi, merodakan

percakapan doa yang ingin sendiri”



Kota Semarang, 2010