PERCAKAPAN ANTARA LAWRENCE DENGAN AMICHAI [1]

Terjemahan atas Pembacaan Wawancara antara Lawrence Joseph dengan Yehuda Amichai (bagian 1)

NASIHAT-NASIHAT BEN ONKRI

Bagian Satu: 15 Nukilan “A Way of Being Free” (Phoenix House, 1997)

SESEORANG TELAH MENGACAK-ACAK MAWAR-MAWAR INI

Terjemahan atas pembacaan cerpen Gabriel Garcia Marquez

CETAK ULANG: "PADA SUATU MATA KITA MENULIS CAHAYA"

Cetak ulang buku Sepilihan Sajak oleh penerbit Garudhawaca

WAWANCARA ORTOLANO DENGAN COELHO

Terjemahan atas pembacaan wawancara antara Glauco Ortolano dengan Paolo Coelho

4.05.2017

PENDIDIKAN MORAL DAN MORIL



begini hadirin, kita harus bisa pisahkan
mana moral, mana modal. di zaman
terbuka, orang-orang belajar mengeja
maupun mengejek: nasib betapa
nasib separuh malang separuh
kepalang

begini hadirin, kita pasti sudah pernah
belajar di bangku-bangku sekolah
yang pucat beserta muka kita yang
sedikit pasi tersebab guru-guru berparas
penggaris kayu 100 sentimeter itu
kapur tulis, penghapus, dan
gunting rambut

begini hadirin, kita telah belajar
pendidikan sekolah rendah, kita telah
membaca bahwasanya,
bahwasanya negara berupaya men-
sejahterakan rakyatnya dan rakyat
sebaik-baiknya rakyat adalah
manusia yang memelihara moral
dan moril seperti kata para pemimpin
yang diserapahi kitab-kitab jabatan

maka kita mesti berterima kasih,
berterima kasih daripada pembelajaran,
hasil adalah nihil, proses adalah absensi;
sebab dengan moral kita selamat
sebab dengan moril kita dapat tempat


2017

3.18.2017

MEMBASUHMU DI KOTAGEDE



kita mesti terbiasa begini,
kamu, pulang tanpa kabar, aku
pergi sekehendakku. tapi
katakanlah bahwa waktu
yang kita sama-sama
menjaganya mulai menanak
gerak, belenggu tanpa kita tahu

apakah senja di kota ini tak cukup
menenangkan dan menyenangkan
tangan-tangan yang bertahan kuat
untuk tetap mengasuh bahagia? kamu
dengan segenap keyakinanmu
bahwa ada jalan lain menuju
masa depan, lalu aku mengantarmu
ke pintu-pintu itu. ruang orang-orang
mengabukan doa-doa, menuntaskan
pikiran-pikiran berbuntu yang
menurutmu tak mau lagi
mengubah pengumuman:
inilah lelaki yang kukasihi,
kepadanyalah aku menghapus
kecuali

dengan setabu-tabunya aku memandang
gelombang yang digerakkan ikan-ikan
di kolam, tembok-tembok
yang mengitarinya; aku henyak
bersama lebur bau dupa di hadapan
udara yang menjatuhkan mantra
kamu mengaji, aku mengarti
mengarti kamu, mengaji aku

orang-orang mengagumi tubuhnya
dengan seragam jawa, orang-orang
menyerahkan mohon pada nisan-nisan
seribu dua ribu tahun lampau;
di seberang aku melingkari
permandian, merenungi ikan-ikan
air tawar yang konon membikin
air kolam ini tak bisa dikoyak
oleh si jahat, sebab ini yang katamu
lebih hijau dari ratusan petak sawah
yang sering kita tangkap sebagai
ruang-ruang beku. simpanan
masa mendatang

di kota yang siap menyambut
dan melepas para perantau
kita mesti terbiasa begini, namun
tak mau sukmaku dibasuh
oleh basah lelembut


2017





12.26.2016

BAGAIMANA MEMBACA NOVEL “KIAT-KIAT TAK JELAS”



Ganjar Sudibyo*


Kiat Sukses Hancur Lebur adalah novel, sebagaimana label yang tertera di pojok kanan atas kover depan. Para pembaca harus paham itu terlebih dahulu sebelum memasuki halaman demi halaman. Mengapa demikian? Saya sempat takjub hendak mengatakan bahwa ini sungguh novel? Beberapa hari minggu setelah saya membaca novel ini, saya mencoba mencari alternatif bagaimana para pembaca novel (lewat resensi atau reviu buku) bercerita tentang proses baca mereka. Dan... Usai saya menulis kata kunci “Kiat Sukses Hancur Lebur”, berikut saya pilih 8 besar nukilan komentar yang bersinar versi saya (tidak menunjukkan peringkat):

1.
“Catatan ini adalah kemungkinan dan kebingungan seorang pembaca. Mungkin Kiat Sukses Hancur Lebur Martin Suryajaya adalah sebuah karya yang dinatkan dan dikerjakan dengan serius dan berhasil, bisa pula sekedar karya main-main dan tidak sepenuhnya berhasil. Lebih sering saya meyakini yang terakhir ini.”

2.
“Akan tetapi setelah membaca dan mendengarkan langsung penjelasan penulis perihal proses penulisannya, saya berpendapat bahwa novel ini memang betul-betul prematur, kelahirannya terlalu dini di tahun 2016. Tiga setengah abad lagi mungkin novel ini menjadi rujukan pelajaran sastra di ruang-ruang kelas.”

3.
“Buku ini, bagi saya telah memperkenalkan genre yang masih ganjil dalam dunia fiksi Indonesia. Kebanyakan dari pembaca fiksi hanya ditawarkan model eksperimen penulisan yang sekalipun kreatif, tak jarang berada pada jalur semiotika formal, yang pada akhirnya membenci humor, dan secara berlebihan menggandrungi balutan kosakata satir. Persis dalam konteks inilah, Kiat Sukses Hancur Lebur menjadi penting.

4.
“Acara selesai sangat singkat. Benar-benar terasa sangat singkat. Tak tahu lagi harus membicarakan apa. Sebuah novel yang benar-benar sialan. Membuat semua orang yang hadir di dalamnya, terasa tak tahu lagi harus mendiskusikan apa. Acara pun ditutup. Dengan tanda tanya.”

5.
Dekonstruksi seperti ini bisa jadi bermanfaat bagi orang-orang yang mabuk akut dalam hidup ini. Mabuk jabatan, mabuk cerita motivasi, mabuk agama, dan mabuk-mabuk lain yang menenggelamkan akal sehat. Resep yang ditawarkan buku ini adalah menggemburkan“mabuk” dengan kegilaan-kegilaan yang tidak kalah akutnya. Jadi, hancur lebur dan sukses sebenarnya merupakan dua wajah dalam sekeping koin.

6.
“Sulit menyebut Kiat Sukses Hancur Lebur ini buku jenis apa. Mungkin sejenis lele dumbo yang bisa terbang dan mendarat di depan kelas, nemplok di antara yang mulia presiden dan wakil presiden. Buku yang ngelanturnya sungguh keterlaluan. Membuat saya berpikir lagi tentang kesia-siaan membaca berbagai macam buku yang menawarkan ilmu pengetahuan. Seperti sindiran bagi pembaca yang menelan mentah-mentah apa yang ia baca tanpa perlu mengunyah atau mencari petunjuk informasi lebih lanjut. Melakukan apa yang ia baca tanpa berpikir, berjalan saja seperti primata gagal berevolusi menjadi manusia. Mengutip pendapat-pendapat orang orang penting agar dianggap penting tanpa menelusuri kenapa orang-orang itu menjadi penting dan pantas dikutip.”

7.
“Terus terang saya menghadapi kesulitan yang hakiki ketika hendak mengulas novel ini. Bukan karena ia sulit dimengerti, tetapi karena Kiat Sukses Hancur Lebur ditulis dalam bentuk yang unik dan tidak konvensional. Novel ini ditulis selayaknya sebuah buku nonfiksi bertema pengembangan diri atau self-help.”

8.
“Meskipun kalau bukunya dibuka-buka sekilas kelihatan seperti buku nonfiksi serius, sangat disarankan untuk tidak serius membaca buku yang sangat melantur ini. Dari halaman-halaman awal sampai daftar pustakanya benar-benar konsisten ngawur seperti benar-benar ditulis oleh filsuf stress.” --Indah Threez Lestari (bintang 3)

“Harap diingat dalam memori cinta kita: pertama-tama, buku ini bukanlah novel. Novel adalah cerita yang memiliki plot dan tokoh utama. Buku ini tidak memiliki semuanya. Tak ada cerita, plot ataupun tokoh utama. Yang ada hanyalah kematian yang akan datang kepada siapapun juga yang telah berolah raga aerobik di halaman depan rumah sakit jiwa. Buku ini adalah racauan orang stres. Yang menakjubkan adalah racauan orang stres ini sampai menghabiskan 211 halaman! Sungguh-sungguh hanya menghabiskan kertas dan waktu saja.” --J. Garammyigan (bintang 2)

“DNF. WTF did I just read. Berhenti di bab kedua. Ga ngerti maunya apa ini buku. Ngelantur ga jelas (in a bad and messy way). Yang kaya gini cocoknya di twitter aja 140 karakter, nge-post jam 1 malem. Mirip2 sama captionnya geboymujaer di instagram, tapi lebih mending sih video nya menghibur.” --Dedi Setiadi (bintang 1)

Tentu saya tidak akan membahas satu per satu nukilan komentar tersebut, Kedelapan sumber tersebut memberikan penilaian yang berbeda-beda tentang Kiat Sukses Hancur Lebur, namun sedikit-banyak dari mereka mengungkapkan bahwa novel ini sarat racauan yang membingungkan pembaca. Benang merah komentar inilah yang menjadikan saya semakin gelisah, seolah novel semacam ini baru saja menembus kebaruan dalam dunia tulis-menulis di Indonesia: apakah mereka kehabisan bahan literatur untuk mengulas novel model beginian? Dengan demikian memang dalam sejarah literatur novel sejenis belum tercatat?

Martin mengemas novel ini dengan sistematika seperti halnya buku panduan atau pedoman dari daftar isi sampai dengan daftar pustaka. Ia membuat unsur-unsur yang terkandung dalam sistematika ini dikemas sefiksi mungkin. Lantas, fiksi yang bagaimana? Tengoklah judul-judul yang ada di daftar isi berikut: Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga, Tujuh Kurcaci Manajemen Bisnis, Dasar-dasar Akuntansi Avant-Garde, Pemrograman Komputer Menggunakan Sepuluh Jari, Resep Sukses Tes Calon Pegawai Negeri Sipil, Arahan Seputar Budi Daya Lele, Etika Hidup di Apartemen, Cara Gampang Memakai Baju. Martin mengamil tema-tema seperti psikologi, teknik, ekonomi, yang alih-alih menjabarkan kebutuhan masyarakat di antaranya pangan, papan, sandang. Tema-tema ini diambil yang kemudian jika dibaca secara lebih dalam terdapat lelucon-lelucon atau plesetan yang membuat pembaca perlu memikirkan ulang tentang pesan yang ingin disampaikan tiap bab-nya. Namun, Martin tidak menggurui, dan tidak memakai cara yang semacam itu dalam novel ini. Tak ada tokoh utama, plot, konflik, tak seperti novel pada umumnya. Novel ini bahkan bisa dibaca terbalik dari belakang ke depan, dari tengah ke belakang atau ke depan, atau random. Tak ada panduan khusus membaca novel ini. Martin membiarkan imajinasi pembaca yang bekerja untuk menghayati setiap lelucon yang dimunculkan di tiap halamannya. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah Martin sengaja memberikan lelucon tersebut? Kesengajaan yang bagaimana?

Ada klasifikasi menarik yang pernah diulas oleh seorang kritikus sastra. Jakob Sumardjo (1979) mengklasifikasikan novel menjadi dua, novel hiburan dan novel sastra. Artinya bahwa tidak semua novel adalah sastra. Novel bisa semata adalah hiburan. Novel sastra adalah novel yang berupaya memecahkan persoalan artifisial. Apa yang diupayakan Martin berada di tengah-tengah jenis novel tersebut. Namun, sekali lagi, ini bukanlah suatu persoalan yang genting untuk mengetahui genre novel yang ditulis oleh Martin. Kiat Sukses Hancur Lebur bilamana dilihat secara seksama sarat dengan kritik sosial. Persoalan yang terjadi di masyarakat dialih-bahasakan dengan menggunakan majas-majas sinisme, satire, metonimia, totem pro parte, dan sebagainya. Semuanya dicampur-adukkan sehingga terlalu riuh bilamana pembaca bersegera untuk memperoleh manfaat dari bacaan ini selain untuk menghibur diri.

Kembali pada pertanyaan, bagaimana membaca novel “Kiat-kiat Tak Jelas”? (saya sebut tak jelas karena memang sepertinya ini bukan kiat yang berpola pada umumnya) Berangkatlah dari bab yang Anda senangi, bisa dibarengi juga dengan kesesuaian mood Anda. Saya sendiri memilih membaca dari halaman belakang ke halaman depan. Nikmati saja kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf, ilustrasi per ilustrasi, halaman per halaman. Martin barangkali seperti sedang bermain-main membuat karya seni, bukan karya sastra.

*Pegiat Lacikata dan pengelola Majalah Kanal, tulisan dibuat untuk keperluan acara Kelab Buku#11
  




MONTASE JURU SELAMAT


di siria, kirenius melakukan sensus
berabad-abad setelah para nabi
perjanjian lama meramal;
Seorang besar akan lahir,
--lahir, ditolak, bahkan dihukum
mati

milenium sesudahnya, peringatan
kelahiran dinyalakan di seluruh penjuru
keriuhan, kesunyian, himpitan
antara lanskap maya dan nyata

kini kaisar agustus telah menjelma
para pemuka fatwa dan pemodal,
merebut sudut-sudut atribut,
merencanakan keyakinan barbar
yang terbuat dari dinding batas
penyintas timur dan barat, mencuri
kabar surga kecil masa lalu. segalanya
dikebumikan oleh pemijak tanah
milik tanah surga
nenek-moyangnya sendiri

yudea sebagaimana para gembala
mengasuh tanah pertiwinya,
yang wajah-wajahnya sebagian lalu
menjadi paras para penolak pabrik,
sebagian menjadi peta gusuran
memucat dingin yang asing;
yudea kini sedang gigil-gigilnya
tersekat menanti lengking pertama
juru selamat dunia yang sebenarnya


2016

Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/290834088417862310/

12.22.2016

YANG TAK HENDAK BERHENTI MEMELUK





sebab warna-warna menghanyutkanku, ibu
kepada muasal yang membuat pintu
kamarku menderit-derit, memintaku,
pulanglah ke suatu masa,
ber-
damai
-lah;

warna-warna bermunculan dari
lanskap mana saja, dari yang tumbuh
dari yang lenyap, yang akan, yang sedang;
kadang kita lupa pada tanda-tanda
yang membikin cahaya itu bernama

lantaran warna-warna yang dilempar
anak-anak kampung selekas bermain
di pinggir kali berair cokelat telah mengubah
pandangku bahwa bayangan-bayangan sore
adalah petunjuk, bahwasanya musim seperti
kaca-kaca yang pecah, membenamkan
seluruh pantulan kelu
yang dibekap waktu

di pucuk bunga-bunga plastik 
yang entah sebagian dari aku pun
belum mengenal sungguh ini warna
ini aroma, bentur kenyataan atau kepalsuan;
ibu mengajarkanku bertutur kepadanya:
kemarilah,
bertandanglah dari ragu
telah kukecup dagumu
telah kutahir mataku
telah kuiris lidahku
yang kaku
menyebut-nyebut
jalan masuk kita teramat
melankoli


2016


Sumber gambar: pinterest.com

12.17.2016

KOTA KEPADA BAHASA



kata-kata menjelma apa saja
yang kelihatan maupun tak,
ia ingin sesekali hadir bersama
angin. menjadi hujan, menjadi
terang, menjadi mendung,
menjadi terik, menjadi warna-
warna langit.

kata-kata menjadi kamus di kota,
orang-orang mengubah dan
menjadikan; yang diam-diam
punah dan bisu. kata-kata
tunduk pada penguasa:
kita yang ingin hidup-semati
bermain sebagai badut ribut
sembari bersungut-sungut

kata-kata merangkum perjumpaan
demi perjumpaan di antara
yang tumbuh, yang layu,
dan yang tumbang; ia menjaga
supaya segalanya tak berlebih
antara lamur ingin dan angan

huruf-huruf luruh mencipta kata,
kata-kata runtuh mengikis ia;
sebab ia tak gampang rubuh,
maka ia dirikan monumen
bahasa di setiap kepulangan
jalan-jalan yang menghijau
menuju masa depannya


2016

11.03.2016

ESKALASI PAGI



1 ~
dua kenari dalam sangkar
mengibas-kibaskan bulu-bulunya,
yang kuning-oranye dan rontok;
sebuah sangkar kosong
menunggu bunga-bunga liar
melingkar pada jeruji, yang
catnya terkelupas dan hampir
separuh karat

dua musim dalam sangkar
menyatakan tak ada yang bisa
bernapas sendirian, tuan


2 ~
lima anak ayam dalam kurungan
berlindung dekap cahaya bohlam
sebagai induk yang rupa hanyalah nyala,
hanyalah hangat, sebab berkeciap 
menandakan aku tak ingin terlampau siap
dewasa


lima tempuh telah berjalin
usia, bagaimana mungkin bisa
dilipat oleh kecemasan?

3 ~

dua perumpamaan dan kekuatan aforisma
menjaga matanya yang dipenuhi jahitan
gambar antara ulangan jarak dan waktu



2016
(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/306737424596511458/)

11.01.2016

MENAFSIR RUANG



1 ~
pada sekelebat detik perjumpaan
tak pernah ia punya cukup sajak,
sejak orang-orang yang ia kasihi
malahan menyesak diri
menanami bilik diri mereka
dengan kekuatan jari-jari kanak
yang ujungnya mudah tersayat;
sebuah lanskap ditumpahkan
oleh tabah ombak pesisir selatan
pasir-pasir memecah-daur busa
kehendak laju sekeras luka tumbuh,
bergerak ia bertandang menguji
seperti kapal-kapal ikan bertolak
menjauh dari jangkauan dada-dermaga.

2 ~
pada sekelebat detik perpisahan
tak pernah ia punya cukup sajak,
serampungnya menerka mimpi
yang bicara soal waktu hanyalah
pendar-pendar masa yang ia tanam
dalam kobar ingatan sebagai penanda
hasrat adalah akar, hasrat adalah dasar;
batas-batas sejujurnya telah menitipkan
ia kepada perkara bagaimana
memberi tempat untuk nama
dan teka-teki angkasa, elemen
di luar rahasia tubuhnya


2016

(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/169940585915233935/)

SEMENJANA KITA



dahan patah jumpa bertulah
mata yang kabutnya menekuri
tebing-tebing di mana ratapan
diletakkan sebagai dasar-dasar
pengujian diri, berkali-kali;
potret dahan yang kita pun
tak sampai memaknainya
atas berjibun peristiwa
yang diucapkan semesta,
tinggal tanggallah segala
kehilangan cuma-cuma
kedapatan lupa-lupa

pohon yang kita tanam
yang kambiumnya terbuat dari
benda-benda kesayangan
makhluk-makhluk kesayangan
nama-nama kesayangan
beserta wujud-wujud perpisahan;
hibuklah kita dalam pengetahuan
yang belum sempat kita miliki

merayakan batas-batas kita
menerjemah sari-sari kegelisahan
batang-batang ranggas meremaja
tanpa kemuning daun sebelum jauh
gugur,
mengukur ketinggian
mengikis yang padas


2016

(sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/305330049720312329/)

10.13.2016

MENYELAMATI BOB


Penganugerahan nobel sastra yang digulirkan oleh Nobel Prize setiap tahunnya muncul sudah. Nama Bob Dylan menjadi pilihan para juri nobel  untuk sastra tahun 2016 (sumber: https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2016/press.html). Penghargaan nobel ini sendiri dalam sejarahnya digagas pertama kali oleh Alfred Nobel (Swedia) ketika ia membuat surat wasiat yang didedikasikan untuk orang-orang yang berjasa benar dalam dunia fisika, kimia, kedokteran, sastra dan perdamaian. Baru pada tahun 1901 penghargaan ini bergulir pertama kalinya. Tentu, nama Bob Dylan sudah menjadi nama yang tak asing lagi, di dunia musik terutama. Usianya yang melewati angka 75 tahun itu tak menjadikan nasibnya semakin terjungkal, malahan sebaliknya. Saya tidak akan mengulas banyak tentang Bob, saya akan sedikit merayakan dan menyelamati Bob (meski keputusan panitia nobel terkesan kontroversial itu) dengan menerjemahkan salah satu lirik lagunya yang berjudul "Not Dark Yet". Lirik ini pernah menjadi soundtrack film "Wonder Boys" (2000). Dari hasil penelusuran yang saya lakukan, lirik ini ditulis pada tahun 1997 (sumber: http://bobdylan.com/songs/not-dark-yet).



Bayangan jatuh dan sepanjang hari aku telah di sini
Hawa yang kian gerah untuk istirah, waktu terus-menerus berlari
Seolah-olah jiwaku telah menjelma jadi baja
Aku masih punya bekas luka yang matahari pun tidak dapat memulihkan
Bahkan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungku
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

Baiklah, rasa kemanusiaanku sepertinya telah sia-sia
Di balik setiap hal yang indah di sana tersirat berbagai luka
Perempuan itu menulis surat kepadaku dan dia menulis dengan kesungguhan
Ia menulis tentang apa yang hadir dalam pikirannya
Aku hanya tidak habis pikir kenapa aku bahkan harus peduli
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

Baiklah, aku pernah berkunjung ke London dan aku pernah ke gay Paree
Aku telah menelusuri sungai dan mendapati lautan
Aku telah turun di sisi bawah dunia yang penuh kemunafikan
Di mata siapa pun aku tidak mencari apa-apa
Kadang-kadang bebanku tampak lebih berat dari apa yang bisa kutahan
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa

aku lahir di sini dan aku akan mati di sini, menentang kehendakku sendiri
Aku tahu sepertinya aku bergerak, namun aku masih menahan diri
Setiap saraf di tubuhku betapa hampa dan mati rasa
Aku bahkan tidak ingat apakah aku datang ke sini untuk menjauh
Bahkan supaya tidak mendengar rapalan seorang pendoa
Ini belum terlampau gelap, namun semakin terasa


Selamat Bob... Selamat telah membuat kesegaran ekspresi puitik dalam lirik-lirik lagumu... Selamat datang era musisi cum sastrawan...


Yogyakarta, 2016