1.19.2015

JALAN MENGHINDARIMU




JALAN MENGHINDARIMU

menghindarimu, di hari-hari kerja yang payah
kesedihan setengah matang beserta mentah sukacita
santapan kami sehari-hari.  matahari adalah penunjuk arah
ke mana kami temukan peziarahan; doa-doa yang kecut
setelah airmata kami menggugat kenapa ia mesti dijatuhkan 
sebagai bahasa perasan perasaan

hari-hari kerja, panen raya seluruh pekerja. dipadamkannya
mesin penghitung kebahagiaan, karena keringat sama saja
dengan air mata; langkah-langkah kami hanya menuju
tanggal-tanggal merah dan kompas dari pantulan
 langit-langit yang berkecubung
: jalan kiri kepulanganmu


2015











JALAN MENGHINDARIMU

rambu-rambu yang terpasang di kepalamu
memerintah kami untuk berjalan menunduk
sampai bosan kami mesti mengulang tanya,
tuan, tuhan di mana?

 kaki-kaki kapal kami terus maju, dengan punggung
yang dibebani hutang-piutang masa lalu, sepeninggal
firdaus, mata yang melek ini sebenarnya buta;
lalu dengan menghindari riuh dunia kini, 
pandangan kami mengeras seperti empu 
yang sedang memercikki jimatnya dengan airmata

kami memanggul segala yang tertanam dalam diri kami
menuju rekaan sebuah jalan ketika tuhan menciptakan cinta
manusia pertama sebagai kiasan atas rasa sakit
yang pangkal pilunya sembunyi kemana



2015







0 pembaca kata berbicara:

Posting Komentar

silakan rawat benih ini