11.30.2014

PASS ON*


Sumber gambar: Button Poetry


Saat meraba-raba ingatan delapan hal yang hilang:

Satu. Kita kapal-kapal. Kita ruang-ruang. Kita bagian yang begitu kurang penting atas hal-hal yang bernaung dalam diri kita.
Kita sepanjang papan-papan sirkuit, menelan listrik demi hidup pada kelahiran.
Menggelindingkan roda hari-hari kita; mencipta setiap peristiwa,
detak nadi sebuah kisah, menggerakkan kerja dan cinta dengan halus.
Pada saat-saat terakhir kita, akan tiba keramaian
dari dada-dada kita dan lalu dikembalikan pada angin.
Ketika kita mati. Kita pergi ke segala penjuru.

Dua. Newton mengatakan energi tidak diciptakan atau dileburkan.
Di aula sekolah menengah aku masih bisa dengar
kawanku Steven menyanyikan lagu favoritnya.
Dalam gimnasium aku masih bisa mendengarnya
bagaimana dia menggiring bola basket seperti sebuah godam
dan tanah memantulkan suara seperti sebuah gambang.
Dengan condong telinga menuju Atlantik aku bisa mendengar
Titanic Band bermain untuk lelapnya,
Musik. Angin. Musik. Angin.
Jika kau mendengar lewat angin, kau dapat mendengar musik ribuan tahun dan kau 
tak terlampau berat untuk menhisapnya.

Tiga. Hari kakekku tiada di sana ada hembus angin sangat kencang,
Aku bisa merasakan tangan lembut yang bertiup dariku.
Aku tahu mereka sedang beranjak menemukan seseorang
yang membutuhkan mereka melebihi aku.
Rata-rata 1,8 orang mati per detik di bumi.
Selalu ada nafas angin di suatu tempat di sana.

Empat. Hari Steven dibunuh
segala sesuatu yang membuat kita mencintainya mengucur dari luka pisaunya
seolah-olah dadanya jelma sebuah auditorium
hidupnya seluruh penonton yang meninggalkan barisan utama.
Setiap ons beratnya telah membungkus seluruh dunia dalam sebuah badai.
Aku telah mencari dia sepanjang 9 tahun.

Lima. Tubuh kita tidak lebih dari tuan yang mengumpulkan hal-hal brilian.
Ketika seseorang tiada aku tak meratapi polaroid atau sebangsanya,
aku mulai mencari cahaya kilat yang telah menanggalkan mereka.
Aku merasa menyentuh angin sepoi lalu berhenti berlari.

Enam. Setelah 9 tahun aku menemukan Steven.
Aku melewati lapangan basket di Boston
point guard digiringnya seolah ia memiliki stadion yang menderu di telapak tangannya
Wilt Chamberlain yang memompa kakinya,
tangannya berkelip seperti sinar-x,
sebuah cross-over, sebuah cross-over, sebuah wrap-around
rewinding, turn-tables yang retakannya terbuka.
Kameramen menyulap lampu flash menjelma kembang api.
Tujuh pertandingan dan ia tak pernah melewatkan pun satu tembakan,
tangannya berkemilau.
Berdenyut. Bergetar.
Aku bertanya berapa lama ia telah bermain,
9 tahun katanya.

Tujuh. Teori enam derajat pemisahan
tidak pernah dimaksudkan menunjuk berapa banyak orang yang dapat kita temukan,
melainkan serangkaian petunjuk bagaimana menemukan orang yang telah hilang di sekitar kita.
Aku mendapati paraumu Steven,
mendapatinya di tubuh seorang anak muda di Michigan yang selalu bernyanyi,
yang paru-parunya mengepak seperti layar-layar kapal
Aku menemukan senyumanmu di Australia,
seorang gadis muda dengan gigi bersinar seperti gedung opera di lehermu,
Aku menemukan cinta sejatimu yang datang berdiri di atas aspal Boston.

Delapan. Kita tak diciptakan atau dileburkan,
kita terus-menerus ditambah, diganti dan diperbarui.
Segalanya yang kita terima semata untuk kita.
Kematian tak datang ketika tubuh terlalu lelah pada hidup
Kematian datang, karena kecemerlangan dalam diri kita hanya bisa terkandung begitu lama.
Kita tidak mati. Kita berjalan terus, berjalan terus melewati pembakaran hidup melalui tenggorakan kita.
Ketika kau meninggalkanku, aku tak akan meratapimu
Aku akan berjalan menuju angin paling kencang yang dapat kutemui
dan menyambutmu. Di rumah.


*Ditulis oleh Michael Lee (seorang pegiat slam poetry, seorang terapis puisi) yang pembacaannya didokumentasikan oleh Button Poetry ( https://www.youtube.com/watch?v=0JAq6VpmgB0). Dialihbahasakan oleh Ganjar Sudibyo (Semarang, 2014).

0 pembaca kata berbicara:

Posting Komentar

silakan rawat benih ini