9.29.2015

FABEL ITALO CALVINO: "THE BLACK SHEEP"




Konon ada sebuah negara di mana semua warganya adalah pencuri.

Pada malam hari semua orang akan meninggalkan rumahnya masing-masing dengan kunci pencuri khusus yang dibuat untuk membuka pintu rumah dan sebuah lentera remang lalu pergi untuk merampok rumah tetangganya. Mereka akan kembali pada waktu fajar, membawa barang curian, lalu mendapati rumah mereka sendiri yang telah dirampok.

Demikian semua orang hidup bahagia bersama, tidak ada yang merasa kehilangan, karena masing-masing mencuri dari yang lain, dan yang lainnya dari yang lain lagi, dan seterusnya dan seterusnya sampai kamu mendapati orang terakhir yang mencuri dari orang pertama. Perdagangan dalam negeri itu mau tidak mau terjerumus dalam lingkaran kecurangan antara kedua belah pihak, pembeli dan penjual. Pemerintah hanyalah sebuah organisasi kriminal yang mencuri pendapatan dari rakyatnya, dan rakyat cuma mereka yang hanya terdorong dalam usaha penipuan terhadap pemerintah mereka sendiri. Dengan demikian kehidupan berlangsung lancar, tidak ada seorangpun yang kaya dan seorang yang miskin.

Pada suatu hari, sebagaimana kita tidak tahu, ada kejadian ketika ada seorang jujur yang datang untuk tinggal di sebuah tempat. Pada malam hari, ia malah tidak ikut pergi keluar dengan membawa karung dan lentera, ia memilih tinggal di rumah untuk merokok dan membaca novel.

Kemudian seorang pencuri datang, melihat lampu menyala dan ia pun tidak jadi memasuki rumah itu.

Persitiwa tersebut berlangsung selama beberapa waktu: lalu orang-orang yang mencuri itu disuruh untuk menjelaskan kepadanya, bilamana ia hanya ingin tinggal tanpa melakukan apa-apa, maka tidak ada alasan untuk menghentikan orang-orang dalam melakukan pekerjaan mencuri. Setiap malam ia menghabiskan waktu di rumah yang berarti bahwa sebuah keluarga tidak akan memiliki apa-apa untuk makan pada hari berikutnya.

Seorang yang jujur itu hampir tidak dapat mengerti alasan tersebut. Ia memutuskan untuk pergi keluar pada malam hari dan datang kembali keesokan harinya seperti yang mereka lakukan, tapi ia tidak mencuri. Ia adalah seorang yang jujur, ia tidak dapat melakukan apa yang seperti orang-orang lakukan. Lalu ia pergi sejauh mungkin menuju sebuah jembatan dan memandangi arus air di bawahnya. Ketika ia sampai di rumah, ia mendapati barang-barang di rumahnya telah dirampok.

Dalam waktu kurang dari seminggu seorang yang jujur itu menyadari bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang. Tidak ada yang bisa digunakan untuk makan dan tidak ada barang-barang berharga di rumahnya. Tapi keadaan ini tidak begitu bermasalah, ia sadar hal ini disebabkan oleh kesalahannya sendiri; tidak, masalahnya adalah bahwa perilakunya mengacaukan sesuatu yang lain. Tersebab ia membiarkan orang lain mencuri segala yang ia miliki tanpa ikut mencuri apa pun dari siapa pun; sehingga selalu ada seseorang yang sampai di rumah pada saat fajar, menemukan rumah mereka yang tak tersentuh: rumah yang seharusnya dirampok. Dalam setiap peristiwa setelah beberapa waktu orang-orang yang tidak dirampok tersebut menyadari bahwa diri mereka lebih kaya dari yang lain dan tidak berhasrat untuk mencuri lagi. Dalam rangka menciptakan keadaan yang malah memburuk, orang-orang yang datang untuk mencuri di rumah seorang yang jujur itu akan mendapati rumahnya selalu kosong; sehingga mereka menjadi miskin.

Sementara itu, orang-orang yang telah menjadi kaya ikut dalam kebiasaan seorang yang jujur itu. Mereka pergi ke jembatan pada malam hari untuk menikmati arus air di bawahnya. Peristiwa ini membawa kekhawatiran karena ini berarti banyak orang lain yang menjadi kaya dan banyak pula orang lain yang menjadi miskin.

Kini, orang-orang kaya memandang bahwa jika mereka pergi ke jembatan setiap malam mereka akan segera menjadi miskin. lantas mereka berpikir: “Mari kita membayar beberapa orang miskin untuk pergi dan merampok. Ini demi kepentingan kita.” Selanjutnya mereka membuat kontrak, gaji tetap, persentase pembagian: tentu saja mereka masih menjadi pencuri, dan mereka masih mencoba untuk menipu satu sama lain. Namun, betapa kecenderungan yang terjadi karenanya, orang kaya semakin kaya dan lebih kaya dan yang miskin semakin melarat dan melarat.

Beberapa orang kaya menjadi sedemikian kayanya sehingga mereka tidak perlu mencuri atau menyuruh orang lain untuk mencuri supaya mereka tetap kaya. Tetapi jika saja mereka berhenti mencuri maka mereka akan menjadi miskin karena orang-orang miskin pasti mencuri dari mereka. Oleh karena itu, mereka dibayar dengan upah yang terendah dari penghasilan orang-orang yang miskin demi mempertahankan barang-barang berhaga mereka. Bertahan dari orang-orang miskin lainnya. Alih-alih, sehingga perlu mendirikan lembaga kepolisian dan bangunan penjara.

Kejadian tersebut berselang hanya beberapa tahun setelah munculnya seorang yang jujur, orang-orang tidak lagi berbicara tentang merampok dan menjadi korban perampokan, namun memunculkan polemik kalangan orang kaya dan orang miskin; walaupun mereka semua masih menjadi pencuri.

Akhirnya, satu-satunya orang yang jujur itu telah menjadi pendahulu. Ia meninggal dalam masa yang tidak lama, meninggal karena kelaparan.



*Black Sheep adalah idiom dalam Bahasa Inggris yang mempunyai makna tentang anggota kelompok yang dipandang sebagai pembawa aib, sehingga sering kali dikucilkan.

**Dialihbahasakan oleh Ganjar Sudibyo setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Tim Parks. Sumber cerita: Number in the Dark and Other Stories by Italo Calvino. Vintage Books, New York. Sumber gambar: www.experienceproject.com


2015

0 pembaca kata berbicara:

Posting Komentar

silakan rawat benih ini