11.16.2010

PUISI NOVIANA WIJAYANTI*


Masih Membisu**


Orang-orang memanggilmu,

Merapi.

Menjulang tinggi tembus cakrawala

Laksana raja bertakhtakan mega

Naungi seribu jiwa penuh dosa.

Betapa bodoh kami ini,

berpaling sudah dari isyaratmu

yang terus merintih dalam bisu.

Kadang kau adalah surga,

namun juga hadirkan luka

sibak jendela tabu

antara mati dan dosa.


Kini kau,

Merapi

Ah. . .

Marah, murka, atau malah

Lara?

Bisu, masih bisu.

Mengapa kau hadirkan bencana

Di tanah daku ini?

Abu, wedhus gembel, lahar,

Menu favoritmu

Sudah. . .

Sudah. . .


Wahai Tuhan yang Maha Baik

Dengarkanlah doa kami,

Agar para petani,

Kembali memabajk sawah.

Agar para siswa,

Kembali ke sekolah.

Kini tinggal posko-posko kecil

Sebagai pengganti rumah,

Tuhan. . .

Akankah desaku masih sama seperti dulu?























*siswi kelas I SMA

**salah satu puisi yang saya himpun dari salah seorang remaja korban dampak bencana merapi

1 komentar:

  1. merapi merupakan tamparan
    ataukah suatu pertanda bagi bencana yang lebih besar

    tapi yakin bahwa ini bukan azab
    yakin bahwa ada suatu makna
    yakin bahwa rencana-Nya tak pernah cacat

    andai dulu aku bisa membantu..

    BalasHapus

silakan rawat benih ini