9.16.2015

GELOMBANG PERTANYAAN DALAM SPIRITUALITAS PERAHU


“Kita merasa sangat tidak nyaman dalam dunia yang telah terinterpretasi ini”.
(Rilke dalam Duino Elegy)


Mula-mula saya memperoleh buku ini, saya berpikir, seorang Rabu menulis tentang perahu? Adapun dugaan-dugaan interteks saya begini: apakah Rabu adalah seorang yang familiar dengan kehidupan sungai? Rabu Pagisyahbana alias Lukman Asri Alisyahbana adalah pria kelahiran Purwokerto yang kini memilih tinggal di Kota Pelajar. Dalam buku “Perahu Napas” terdapat puisi-puisinya di rentang tahun 2011-2014, yang mana cetakan buku pertama ini tercatat pada Bulan Mei 2015. Pertanyaan teknis yang muncul kemudian adalah bagaimana pemilahan teks puisi yang dilakukan Rabu? Dan, seberapa pentingkah penyair ini memandang waktu sebagai tanda proses menulis puisinya?

Oke, berlanjut pada pemilihan judul dalam buku yang mana terdapat kata “perahu” dan “napas”. Perahu (kata benda) seperti pada definisi mulanya adalah kendaraan air yang dibuat sederhana daripada kapal. Sedangkan pada kata “napas” (kata benda) yaitu proses  udara yang dihisap melalui hidung atau mulut dan dikeluarkan kembali dari paru-paru. Adapun kedua kata tersebut, “perahu” dan “napas” merupakan sama-sama kata benda. Dugaan pertama saya, penyair berupaya memberikan pengertian yang berbeda antara perahu dan napas namun mempunyai saling keterkaitan, seperti misalnya kata meja kursi. Dugaan kedua saya, perahu napas adalah perahu yang bernapas. Bernapas melalui apa, sebab perahu adalah benda mati? -- dengan kata lain penyair sedang berupaya membikin frase konotatif.

“Di Tepi Dermaga Kertas” merupakan sajian puisi pertama di buku ini. Dalam bait pertama penyair memberikan sentuhan suasana yang tidak jauh dari judul buku, berikut penggalannya:

“kau lingkari angka-angka di almanakku
saat sebagian bertelungkup di luar sana
kau malah terbangun dan berjaga, melipat
kertas-kertas putih menjadi perahu

seakan malam baginya adalah samudra
sedang mimpi seolah pulau tak berpenghuni
...”

Namun, tema besar apakah yang sedang hendak diarungi oleh penyair, yang ingin disajikan kepada para pembaca? Memandang sisi struktural yang ditunjukkan dalam puisi pertama, penyair hendak mengangkat definisi keterangan waktu dan tempat. Di puisi pertama secara utuh, menceritakan tentang malam dan dari pulau yang tak berpenghuni menjadi berpenghuni. Perahu memberikan semacam solusi yang menjadikan pulau tersebut berpenghuni: “kau bujuk angin bawa perahu/sehingga pulau pun jadi berpenghuni”. Ada imaji yang dimunculkan pada sosok “perahu”. “Perahu” menjadi semacam perantara untuk menjadikan yang kosong menjadi isi. Di sini ada semacam logika bahasa yang sedang dimainkan oleh penyair tentang pulau dan mimpi, yang barangkali sebenarnya soal “mimpi” yang menjadi hal penting untuk dimasuki oleh siapapun. Pertanyaan selanjutnya mimpi semacam apa sehingga siapapun itu bisa menjadi penghuni? Apakah mimpi yang dimaksud adalah sebentuk wadah pelarian dari realitas, malam itu sendiri (karena biasanya kata “malam” bergandengan dengan “mimpi”). Puisi ini menawarkan tentang imaji lain tentang perahu.

Mari tengok sajak lain yang berbincang soal perahu. Pada halaman 52, puisi yang berjudul “Di Sepertiga Malam” berikut:

“bulan putih di pangkuan musim
dingin kemarau hampir berakhir
saat angin menjelma perahu di ketinggian
dalam lubuk kau menjelma bintang layang-layang
dan kita berlayar ke selatan

berpeluk ombak
menempuh ujung gelap
di bawah jemari waktu
yang bangkit memainkan benang
berdua kita berenang di sepertiga malam
menyelami laguna bawah sadar
menjelma sunyi di kedalaman”

“Perahu” lagi-lagi menjadi perantara untuk menuju ke “selatan”. Lantas ada apa dengan selatan sehingga memerlukan perahu dan lewat jalur air untuk menuju ke sana? Apakah selatan adalah suatu tempat yang memberikan romantisme kebahagiaan sepasang manusia? Apakah penyair ingin memberi tanda bahasa yang lain tentang selatan? Terlepas itu, nuansa “perahu” seolah tidak terasa kental di sini, melainkan hablur, terutama ketika penyair mencoba menyajikan bahasa dalam bait kedua. Dua Bait seolah menjadi kurang sinambung. Demikian kedudukan perahu seolah menjadi hanya sebagai semacam pelengkap dalam teks puisi tersebut.

Selanjutnya keberadaan imaji perahu dapat ditemui dalam puisi “Perahu Napas” pada halaman 54:

“lelaki duduk memangku laut tiada
selain menyeberangi nasib di kejauhan
bersama angin. angin utara yang berhasil turun
membawa perasan jantung perempuan bukit
menuju arah pantai

sendiri ia berbisik
merangkum masalalu
melipat bangku kosong dan cerita hantu
sementara waktu perlahan karam
merapikan angan-angan

bersamanya perahu napas berlayar
melampaui tubuh dan pikiran
batas diam antara lubuk dan jantung laut
yang pecah membawa ia pulang
ke tugur masadepan”

Kata “perahu” yang digandengkan dengan kata “napas” ini menjadi semakin jelas bahwasanya perahu yang dimaksud adalah kata benda yang dihidupkan menjadi subjek. Pada bait yang terakhir tampak jelas penyair hendak menunjukkan bahwa perahu merupakan kendaraan hidup menuju masa depan. Pertanyaan yang lagi-lagi menggoda saya adalah kenapa penyair hendak memakai "perahu" sebagai kendaraan yang dihidupkan itu? Ya barangkali penyair ingin mengangkat spiritualitas tentang perahu. Spiritualitas yang merupakan kehidupan ruh, sesuatu yang berpikir, kata Descartes. Yakni yang meragukan, menegaskan, menolak, mengetahui sedikit hal, tidak mengetahui banyak hal, yang berkemauan, berhasrat juga berimajinasi, dan merasa. Di dalamnya ada semangat. Perahu dalam buku puisi ini menjadi simbol yang membawa spritualitas tertentu.

"Perahu" dalam buku puisi ini tidak hanya dimunculkan dalam ketiga puisi yang saya perlihatkan. Adapun penyair melesapkan subjek: perahu ke dalam bentuk-bentuk lain, selain memberi alternatif penamaan dengan kata "kapal" (hal.21 & 27). Tema-tema yang coba ditawarkan oleh penyair dalam buku ini yang saya tangkap adalah wujud pelipuran diri atas gejala keputusasaan terhadap ingatan, kenangan, kisah historis, masa lalu, masa depan, roman-roman kesunyian, dan terhadap ketidaknyamanan masa kini. Keputusasaan itu memunculkan subjek-subjek sebagai asosiasinya untuk memandang dari sisi lain, sebagaimana Sartre melalui tokohnya Orestes yang berkata kepada Zeus: kehidupan manusia dimulai pada sisi lain keputusasaan. Dalam konteks ini, gejala keputusasaan atas bentangan diri imaji yang dihadapi penyair; "dan ini nasibku biar saja, biar aku pilih jejak sendiri" (Pada Rautan Pensil, hal.36)  

Dalam catatannya di antologi "Manusia Utama", Arif Budiman mengungkapkan agaknya memang terlalu berbau heroik untuk penyair masa kini di negeri kita. Dibutuhkan perumusan yang lebih halus untuk tidak terlalu heroik, tetapi juga tidak terlalu bermartabat untuk membujuk penyair kembali menjadi saksi zamannya. Untuk ini diperlukan kepekaan sejarah yang tinggi yang menyebabkan suatu karya puisi bukan sekedar endapan pengalaman sejenak, atau bahkan seumur penyairnya, tetapi sepanjang umur tradisinya, bangsanya. Seperti yang dinyatakan kritikus pada Robert Lowell dan T.S. Elliot. Satu keterlibatan sejarah, satu pergumulan, yang bukan sekadar mampu menjadikan sejarah sebagai sumber ilham bagi sajak-sajaknya, tetapi sekaligus mampu mempengaruhi sejarah itu sendiri. 

Demikian perahu napas menjadi sebentuk hero lain yang adalah saksi peristiwa si penyair menyelami dirinya dan realitas yang diramaikan sebagian orang. Yehuda Amichai mengabarkan bahwa memang harus selalu ada yang bersedia untuk menyatakannya lagi, menyatakannya berulang-ulang, bahwa kedua kutub itu memang ada dan sama sahnya, seperti pemain bola di lapangan.

Alih-alih si penyair menyunting spiritualitas perahu pada inti kemudi seperti celupan untingan puisi berjudul "Waktu" (hal.47):
"di luar sana manusia
saling sibuk menerjemahkan waktu
hanya saja aku masih penasaran dengan batu
..."


Semarang, 2015
*Ditulis oleh Ganjar Sudibyo untuk kepentingan perayaan NgoPi komunitas LACIKATA yang ke-19.

0 pembaca kata berbicara:

Posting Komentar

silakan rawat benih ini